Lembaran Luka (Full)


By : Finy Arkana

Tanggal 13 nanti usianya tepat 30 tahun, tapi sedikit pun tidak terbersit dalam pikirannya untuk segera melangsungkan pernikahan. Jangankan menikah sebenarnya, bahkan berpikir untuk duduk berdekatan dengan seorang pria saja, Arinang sudah merasa jijik.

“Sok alim.”

Demikian tanggapan orang-orang terhadap sikapnya itu. Padahal jika mereka tahu, Arinang jauh dari kata alim. Hampir tiap malam, sebelum tidur, ia menghabiskan berbatang-batang rokok sambil meneguk minuman beralkohol.

Seperti malam ini, ia asyik menikmati sebatang rokok ditemani segelas wine. Tatapannya kosong memandangi jalan yang sudah lengang di depan sana. Sesekali ia memejamkan mata, menghirup sebanyak-banyaknya udara malam. Hanya satu yang ia harapkan, Arinang ingin segera bebas dari problem kehidupannya. Tidak diburu pertanyaan kapan menikah. Karena pertanyaan itulah yang berkali-kali melemparnya pada trauma masa lalu yang teramat ingin ia lupakan.

“Anak kenalan mama ada yang seusia denganmu,” kata mamanya kemarin malam.

“Terus?”

“Dia tertarik sama kamu. Dia juga cukup mapan. Masa depan kamu cerah. Dia ….”

“Arinang tidak mau!”

Tidak perlu menunggu mamanya menyelesaikan kalimatnya. Arinang sudah hapal betul ke mana pembicaraan akan berakhir. Ia akan diminta untuk menikah dengan pria tersebut. Dan jelas, ia tidak mau.
Entah ini kali ke berapa mamanya berusaha mendekatkan Arinang dengan anak pria kenalannya. Dan berkali-kali pula Arinang kekeh memberi jawaban sama. Tidak. Berbagai cara pernah ia lakukan untuk menolak. Dari cara paling halus, sampai cenderung kasar.

Arinang ingat betul saat pertama kali mamanya mulai bercerita mengenai anak kenalannya, namanya Arman. Setahun lebih muda darinya. Waktu itu Arinang sudah 28 tahun.

“Dia guru. Anaknya baik.”

Dengan cara halus, Arinang menolak. Belum siap menikah, katanya. Ditambah bumbu-bumbu usianya lebih muda dari Arinang. Mamanya pun mencoba mengerti dan menghentikan proses perjodohan dengan Arman malam itu juga.

Beberapa pekan kemudian, mamanya datang lagi dengan nama lain. Kali ini namanya, Amin. Profesinya sebagai dokter yang begitu dibangga-banggakan mamanya tidak kunjung merubah niat Arinang untuk menerima pria tersebut.

“Nanti Arinang cari sendiri.”

Begitu jawabnya. Berkali-kali. Sampai pada peristiwa kemarin malam, ketika mamanya datang untuk ke delapan kalinya membawa nama baru.

“Namanya Gito. Dia penulis.” Seperti lalu-lalu. Arinang menolak. “Kenapa kau menolak semua pria pilihan mama?”

“Arinang ….”

“Jangan katakan kau punya pilihan sendiri. Mau cari sendiri. Karena sampai sekarang mama tidak pernah mendengar nama satu pria pun keluar dari bibirmu.”

Bukan jawaban yang Arinang berikan. Tapi asbak kaca yang masih penuh debu rokok milik papa tirinya yang melayang. Membentur dinding di samping mamanya. Pecah. Berhamburan.

“Aku tidak mau menikah!!!”

Untuk pertama kalinya, Arinang berteriak. Berharap dengan melakukan hal demikian, ia mampu mengeluarkan sesak yang beberapa tahun dipendamnya. Berharap mamanya mengerti dan tidak datang lagi membawa nama-nama asing.

“Aku tidak mau menikah,” ulangnya, “Sampai mati aku tidak mau menikah!”

Mamanya yang memang dasarnya tidak mengetahui akan kegelisahan yang selama ini Arinang sembunyikan, justru memberi respon tak menyenangkan. Tangannya ringan melayangkan tamparan keras di pipi kanan Arinang. Membekas. Tapi sakit hati yang Arinang rasakan jauh lebih menyayat ketimbang sakit di pipi.

“Anak kurang ajar! Tidak tahu berterima kasih!”

Berterima kasih? Sungguh, Arinang merasa lucu mendengarnya. Dia yang menanggung segala luka demi kebahagiaan mamanya dan papa tirinya, dan itu tidak ada artinya sama sekali?

Malam itu juga, Arinang dengan kemarahannya meninggalkan rumah peninggalan almarhum papanya.

***

Ditemani lagu-lagu sendu serta udara malam yang kian pekat, Arinang menikmati sebatang rokok dan segelas wine di villa almarhum papanya. Mata bulatnya menerawang jalanan yang semakin lengang. Sesekali terdengar ia mengembuskan nafas, berat. Seolah beban yang bertumpuk-tumpuk di pundaknya akan segera merenggut nyawanya.

Tepat di sepertiga malam Arinang beranjak. Kantuk memang belum menghampiri, tapi ia tetap harus beristirahat demi pekerjaan yang menanti. Ia seperti mempersembahkan hidupnya hanya demi pekerjaan itu. Tempatnya menciptakan tokoh-tokoh ilusi yang baik hati, atau membunuh tokohnya sendiri yang ia anggap bisa saja merusak keharmonisan sebuah jalan cerita kehidupan. Arinang selalu menghadirkan kisah-kisah bahagia dalam setiap tulisannya.

Arinang, si penulis bergenre romantic itu, menghentikan langkahnya dalam sekejap. Tubuhnya bergetar. Potongan peristiwa yang baru saja melintas di depan matanya, bak sebuah hantaman yang menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.

Arinang tidak sanggup melangkah lebih jauh. Kamar di pojok kiri atas, berjarak tiga meter dari tangga, selalu berhasil menyeretnya pada masa-masa suram. Sebuah ruangan yang waktu itu dibuat segelap mungkin oleh ayah tirinya, ketika berkali-kali menjamah inci demi inci tubuh Arinang.

Usianya belum genap lima belas tahun ketika peristiwa yang membuat Arinang terus-menerus merasa kotor itu terjadi. Sebuah masa dimana Arinang lebih memilih untuk mati ketimbang menjalani kehidupan yang ia rasa seperti neraka bahkan sebelum kematian nyata menjemputnya.

Arinang masih ingat betul perasaan hancurnya saat itu. Tidak ada tempat untuk mengadu. Papa tempatnya melabuhkan sikap manja, meninggal saat usianya masih sebelas tahun. Sementara mama, yang ia sebut sebagai orang tua perempuan lebih banyak menghabiskan waktu di luar daripada di rumah. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ketika Arinang mengadukan segala perbuatan papa tirinya ke mamanya, tidak ada sedikitpun kepercayaan untuk semua cerita-cerita Arinang.

“Papa itu orang baik. Dia orang yang disegani di tempat kerjanya. Mama tahu, kamu tidak rela mama menikah sama papa karena belum mampu ikhlas akan kepergian papamu, tapi mama harap kamu tidak membuat cerita palsu seperti ini,” tanggap mamanya jika Arinang mulai mengadu.

“Sumpah, Ma. Arinang tidak bohong. Dia bukan orang yang seperti mama selalu banggakan selama ini. Dia ….”

“Cukup, Arinang!! Mama tidak mau mendengar keluhan buruk tentang papa lagi!”

Selalu begitu. Namun, Arinang yakin, setiap kali mereka usai berdebat, mamanya akan menceritakan segalanya kepada papa tirinya.

“Ini hukuman karena kamu berani mengadu sama mama!” bentak papa tirinya suatu waktu di ruang gelap itu sambil mengikat tangan Arinang.

Kejadian tersebut berulang hingga 2 bulan sebelum Arinang menyusul kekasihnya ke ibu kota. Naas, seperti menaruh garam ke luka yang masih basah, Arinang mendapati kekasihnya sedang jalan dengan perempuan lain.

“Maaf, Arinang. Aku udah nggak mau sama kamu lagi. Kamu udah nggak suci.”

Kalimat itulah yang membuat Arinang hingga kini percaya bahwa semua lelaki sama saja. Brengsek!

Di sepertiga malam, sambil menjongkok dengan kedua tangan dilipat, tangis Arinang pecah. Namun, entahlah, Arinang seakan merasa sebuah kehangatan sedang mendekapnya, lalu berbisik lembut.

“Arinang … Ayo pulang, Sayang.”
Arinang mengangkat wajah. Hal pertama yang tertangkap korneanya adalah wajah sendu seorang perempuan yang ia sebut sebagai mama. Jemari perempuan yang masih tampak cantik di usianya yang sudah senja itu menghapus butir-butir air yang jatuh dari sudut mata Arinang.

“Ayo pulang, Sayang. Tidak apa kalau kamu tidak mau menikah dengan lelaki pilihan mama.”

Sebesar apapun amarahnya. Sedalam apapun dendamnya. Arinang tidak akan sanggup membenci perempuan yang tengah meraihnya dalam dekap. Bagaimanapun, Arinang menyadari, tanpa perempuan itu kehadirannya di muka bumi masih akan dipertanyakan. Atau bahkan, Arinang tidak akan pernah melihat bumi jika tanpa kehadirannya.

Lamat-lamat, ia membalas dekapannya seraya berbisik, “Aku akan pulang demi sebuah penyelesaian.”

***

Dan di sinilah Arinang sekarang, bertafakur di depan meja rias. Sesuatu sedang berputar dalam otaknya. Perang batin. Haruskah ia meneruskan dendamnya atau tetap bungkam? Haruskah ia membalas perlakuan papa tirinya meski ia mengetahui bahwa lelaki yang paling ingin ia lenyapkan adalah lelaki yang justru mamanya paling sayangi?

Arinang dilema. Debar jantungnya berpacu tak menentu. Berkali-kali ia mengembuskan nafas, berat. Bahkan jeemarinya mulai ikut bermain dengan botol-botol parfume.

“Kau kembali rupanya.”

Arinang berbalik. Sesosok tubuh jangkung, masih dengan pakaian kerjanya yang berantakan, sedang memandanginya. Kedua tangannya terlipat di depan dada.

Lelaki itu melanjutkan, “Kupikir kau akan meninggalkan rumah sampai bertahun-tahun lagi. Seperti yang pernah kau lakukan.”

Tidak tahan mendengarnya, segala empati teruntuk mamanya lenyap seketika. Lelaki itu memang brengsek. Tidak berubah sama sekali. Masih pongah. Masih merasa jago bahkan diusianya yang sudah senja.

Arinang berdiri.

“Sepertinya kau bahagia sekali kalau saya meninggalkan rumah,” tantang Arinang.

“Sangat bahagia. Tapi lebih bahagia lagi jika kau di rumah. By the way … Tubuhmu semakin indah, Arinang.”

Seperti bom waktu. Entah dari mana datangnya kekuatan Arinang. Secepat kilat ia bergerak. Mendorong tubuh lelaki itu hingga terjengkang. Daun pintu yang sempat tertabrak oleh tubuhnya terpelanting, menghasilkan bunyi debum.

Untuk pertama kalinya, Arinang mensyukuri kebiasaan mamanya pulang larut malam, bahkan terkadang dini hari, atau tidak pulang sama sekali.

“Kau bilang tubuhku indah?” Ujung bibir kirinya terangkat, matanya menatap sinis, “Saya tidak yakin kau masih bisa mengatakannya setelah ini.”

Tepat di samping telinga papa tirinya, Arinang memecahkan botol parfume hingga menghasilkan hasil pecahan yang runcing sempurna. Sayang, belum juga Arinang sempat melancarkan aksinya, papanya telah lebih dulu bangkit, mendorong Arinang hingga sisa botol parfume di tangannya lepas. Terlempar jauh.

“Kau mau balas dendam, Arinang?” ejeknya disertai desah nafas ngos-ngosan. Meski sempat terkejut, papa tiri Arinang masih bisa tertawa.

Kemudian lelaki itu melanjutkan, “Kau tidak akan mampu melenyapkanku. Kau terlalu lemah. Kalau saja kau bisa lebih kuat, tidak mungkin tubuh indahmu itu bisa kugerayangi.”

Seperti sebuah pancingan, seolah menambah asupan energi. Gairah Arinang untuk melenyapkannya semakin meningkat.

“Lelaki kurang ajar!” Arinang berang.
Ia mengerahkan seluruh tenaga. Setelah mengambil ancang-ancang, dengan kekuatan maksimal, Arinang berlari mendekati sasaran. Kedua tangannya siap di depan tubuh untuk mendorong.

Namun, Lagi-lagi, mungkin benar kata papa tirinya. Arinang terlalu lemah. Gerakannya mudah ditebak, sehingga papa tirinya bisa dengan mudah meraih tangannya, kemudian dilipat ke belakang. Tubuh Arinang terkunci.

“Kubilang juga apa. Kau terlalu lemah, Arinang,” ejeknya disertai tawa.

Jika dulu Arinang akan memberontak saat diperlakukan demikian. Kini ia bersikap lebih tenang. Sama sekali tak ada pemberontakan.

“Baiklah. Saya kalah dan kau menang. Tenagamu lebih kuat dibanding saya. Saya menyerah. Sekarang kau bebas melakukan apa saja.”

“Wow … Wow … Luar biasa,” sorak papa tiri Arinang. “Saya bebas melakukan apa saja, Sayang?”

“Ya, kau bebas.”

Sebuah cara penyerahan diri yang luar biasa Arinang tampilkan. Dari gesturnya, Arinang bisa merasakan papa tirinya begitu bahagia.

“Kalau begitu ikut saya.”

“Ke mana?”

“Ke kamar bawah.”

“Lepaskan dulu tanganku.”

“Tidak akan!”

“Ingat, kau lebih kuat. Kau bisa dengan mudah mengunciku seperti ini lagi.” Arinang meyakinkan.

Dengan gerakan lambat,  papa tirinya melepaskan tubuh Arinang seraya menekankan kalimat, “Jangan berani macam-macam!”

“Saya akan ganti pakaian dulu. Kau tunggu di bawah. Nanti saya menyusul.”
Sejenak, papa tiri Arinang terlihat seperti sedang berpikir, lalu akhirnya mengangguk. “Baiklah.”

Arinang memberikan senyum terbaiknya. Apalagi ketika tubuh papa tirinya membelakanginya, Arinang seperti bersorak dalam hati. Diam-diam, dengan langkah hati-hati, ia mengikut di belakang.

Saat kaki papa tirinya belum sepenuhnya menginjak anak tangga ke dua dari atas, sigap ke dua tangannya mendorong dengan tenaga maksimal.
Ia bersorak, tawanya lepas menyaksikan tubuh lelaki yang teramat ingin ia lenyapkan sejak bertahun-tahun lalu itu  berguling-guling melewati anak-anak tangga dengan cepat. Rasa bahagia mengaliri seluruh sel-sel darahnya.

Begitu korneanya tidak lagi melihat pergerakan dari tubuh tua itu di lantai bawah. Arinang menyusul. Aroma anyir darah segar menjadi hal pertama yang menyambutnya.

Arinang jongkok tepat di depan tubuh tak bernyawa dengan kedua mata terbuka lebar itu. Bibirnya melengkung sempurna. Meski demikian, ia hanya menjongkok tanpa melakukan gerakan apa-apa. Hanya memandangi sesosok tubuh tak bernyawa itu. Seolah ingin merekamnya demi sebuah keabadian dendam.

***

Pukul tiga dini hari, dalam sekejap mama Arinang membeku saat mendapati tubuh suaminya sudah tak bernyawa dalam keadaan mengenaskan. Kepala yang bocor serta kedua mata yang masih terbuka.

Sementara di samping mayat tersebut, anak perempuannya sedang tersedu-sedu. Penampakan diri Arinang juga tidak jauh lebih baik. Rambut acak-acakan serta baju yang robek di sana-sini.

“Papa mencoba memerkosa Arinang, Ma. Dia mencoba mengejar saat Arinang berusaha untuk kabur. Tapi, justru papa terjatuh dari tangga,” suara Arinang sengaja dibuat serak. “Maafkan Arinang, Ma,” lanjutnya.

Arinang membuat suasana menjadi sedramatis mungkin. Bahkan, dengan cara yang tidak begitu mencolok, ia dengan sengaja memperlihatkan ujung bibirnya yang berdarah serta tangannya yang memar.

Demi sebuah dendam, Arinang rela melakukan apapun untuk itu, sekalipun harus melukai dirinya sendiri.

“Tidak apa-apa, Sayang, tidak apa-apa,” mamanya meraih Arinang dalam dekap, usaha untuk menenangkan Arinang “Tidak apa-apa.”

“Arinang ingin pindah dari rumah ini, Ma. Arinang tidak akan sanggup terus di sini. Arinang akan terus mengingat semuanya.”

“Iya, Sayang. Kita akan pindah. Kamu pasti trauma.”

Dalam dekap itu, batin Arinang tidak sanggup menyangkal bahwa sebuah kebahagiaan besar sedang menumpuk di sukmanya.










Data Diri Penulis
Finy Arkana, seorang mahasiswi BK Universitas tadulako yang saat ini berharap mampu menyelesaikan studinya sesuai target sejak awal mengenal dunia perkuliahan.

Facebook : Finy Arkana
Email : Finnynesia@gmail.com

Related Posts: