Luka Arinang


Oleh : Finy Arkana

Walau catnya sudah tampak kusam. Dindingnya mulai mengelupas. Di mata Arinang, ruangan ini masih ruangan sama. Tak ada perubahan berarti walau telah ditinggal bertahun-tahun. Begitu pula kenangan yang pernah tertoreh, lukanya akan tetap basah.

Ketika kornea mata Arinang bertumbukan pada pembaringan yang ditutupi kain putih, pikirannya tergelincir pada peristiwa lalu. Ia ingat betul, usianya jalan tiga belas tahun saat seorang lelaki menyeretnya ke dalam kamar, menciuminya, lalu membuka kancing seragam sekolah Arinang satu persatu.

Sebuah peristiwa yang menjadi alasan kembalinya Arinang ke rumah ibu hari ini, meski rumah kakek jauh lebih menyenangkan di luar negeri. Pandangannya kembali menyisir sudut-sudut kamar. Melemparnya berkali-kali pada peristiwa demi peristiwa keji. Membangkitkan dendam yang bertumpuk-tumpuk.

“Ma, aku pulang!” Suara yang berteriak itu. Masih suara sama meski sedikit agak serak. Suara milik perusak masa lalunya.

Rasa takut itu. Ketakutan yang seperti ingin membunuhnya, kembali terasa. Tubuh Arinang bergetar. Kakinya tidak mampu berdiri tegak, rasa ia lumpuh seketika. Sebelum benar-benar terjatuh, Arinang menjadikan dinding sebagai penopang. Ia tidak boleh lemah.

“Ma!”

Suara itu mendekat. Sementara Arinang masih sibuk pada getar-getar tubuhnya yang sedikit lagi masuk pada fase kaku. Dan, tanpa mampu dicegah, daun pintu di hadapannya bergerak. Terbuka.

“Arinang?”

Dapat Arinang tangkap seraut wajah di depannya itu menggambarkan keterkejutan. Sekejap. Hanya sekejap, sebelum sebuah tatapan menjijikkan serta bibir yang melengkung dilayangkan pemiliknya pada Arinang.

“Apa kabar, sayang?”

Mendengarnya, cukup membuat telinga Arinang memanas. Wajahnya memerah. Amarahnya naik pada kelas kakap. Tangan kanannya yang dibiarkan menggantung, membentuk sebuah tinju hingga tertarik urat-uratnya.

Arinang mendekat. Tak ada satu kalimat pun keluar dari bibirnya. Ia mempersempit jarak di antara mereka. Lalu, dengan cekatan, tangan kirinya yang sedari tadi dalam saku kemeja bergerak, menggores sedikit luka pada lengan lelaki itu. Ya, hanya sedikit.

Bukan Arinang tak ingin menghilangkan nyawa lelaki tersebut. Ia hanya tidak ingin menodai tangannya dengan darah kotor. Ia tak ingin menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi jika sidik jarinya ditemukan pada mayat lelaki itu.

Arinang hanya ingin membunuhnya secara perlahan, agar penderitaan yang lelaki itu rasakan jauh lebih lama. Itulah mengapa Arinang hanya menggores sedikit luka. Sebab, dari cerita ibunya, tubuh lelaki itu sedang digerogoti penyakit.

“Diabetes akut.”

Jujur saja, tidak ada penghargaan sedikit pun di mata Arinang pada lelaki di hadapannya. Lelaki yang amat ibunya cintai. Lelaki yang menyandang status sebagai ayah tiri. Lelaki yang bertahun-tahun teramat ingin Arinang lenyapkan. Dengan cara apapun.

Related Posts: