Lembaran Luka (4)


By : Finy Arkana
//
Part 4

Dan di sinilah Arinang sekarang, bertafakur di depan meja rias. Sesuatu sedang berputar dalam otaknya. Perang batin. Haruskah ia meneruskan dendamnya atau tetap bungkam? Haruskah ia membalas perlakuan papa tirinya meski ia mengetahui bahwa lelaki yang paling ingin ia lenyapkan adalah lelaki yang justru mamanya paling sayangi?

Arinang dilema. Debar jantungnya berpacu tak menentu. Berkali-kali ia mengembuskan nafas, berat. Bahkan, jemarinya ikut bermain dengan botol-botol parfume.

“Kau kembali rupanya.”

Arinang berbalik. Sesosok tubuh jangkung, masih dengan pakaian kerjanya yang berantakan, sedang memandanginya. Kedua tangannya terlipat di depan dada.

Lelaki itu melanjutkan, “Kupikir kau akan meninggalkan rumah sampai bertahun-tahun lagi. Seperti yang pernah kau lakukan.”

Tidak tahan mendengarnya, segala empati teruntuk mamanya lenyap seketika. Lelaki itu memang brengsek. Tidak berubah sama sekali. Masih pongah. Masih merasa jago bahkan diusianya yang sudah senja.

Arinang berdiri.

“Sepertinya kau bahagia kalau saya meninggalkan rumah,” tantang Arinang.

“Sangat bahagia. Tapi lebih bahagia jika kau di rumah. By the way … Tubuhmu semakin indah, Arinang.”

Seperti bom waktu. Entah dari mana datangnya kekuatan Arinang. Secepat kilat ia bergerak. Mendorong tubuh lelaki itu hingga terjengkang. Daun pintu yang sempat tertabrak oleh tubuhnya terpelanting, menghasilkan bunyi debum.

Untuk pertama kalinya, Arinang mensyukuri kebiasaan mamanya pulang larut malam, bahkan terkadang dini hari, atau tidak pulang sama sekali.

“Kau bilang tubuhku indah?” Ujung bibir kirinya terangkat, matanya menatap sinis, “Saya tidak yakin kau masih bisa mengatakannya setelah ini.”

Tepat di samping telinga papa tirinya, Arinang memecahkan botol parfume hingga menghasilkan hasil pecahan yang runcing sempurna. Sayang, belum juga Arinang sempat melancarkan aksinya, papanya telah lebih dulu bangkit, mendorong Arinang hingga sisa botol parfume di tangannya lepas. Terlempar jauh.

“Kau mau balas dendam, Arinang?” ejeknya disertai desah nafas ngos-ngosan. Meski sempat terkejut, papa tiri Arinang masih bisa tertawa.

Kemudian lelaki itu melanjutkan, “Kau tidak akan mampu melenyapkanku. Kau terlalu lemah. Kalau saja kau bisa lebih kuat, tidak mungkin tubuh indahmu itu bisa kugerayangi.”

Seperti sebuah pancingan, juga seolah menambah asupan energi. Gairah Arinang untuk melenyapkannya semakin meningkat.

“Lelaki kurang ajar!” Arinang berang.

Ia mengerahkan seluruh tenaga. Setelah mengambil ancang-ancang, dengan kekuatan maksimal, Arinang berlari mendekati sasaran. Kedua tangannya siap di depan tubuh untuk mendorong.

Namun, Lagi-lagi, mungkin benar kata papa tirinya. Arinang terlalu lemah. Gerakannya mudah ditebak, sehingga papa tirinya bisa dengan mudah meraih tangannya, kemudian dilipat ke belakang. Tubuh Arinang terkunci.

“Kubilang juga apa. Kau terlalu lemah, Arinang,” ejeknya disertai tawa.

Jika dulu Arinang akan memberontak saat diperlakukan demikian. Kini ia bersikap lebih tenang. Sama sekali tak ada pemberontakan.

“Baiklah. Saya kalah dan kau menang. Tenagamu lebih kuat dibanding saya. Saya menyerah. Kau bebas melakukan apa saja.”

“Wow … Wow … Luar biasa,” sorak papa tiri Arinang. “Saya bebas melakukan apa saja, Sayang?”

“Ya, kau bebas.”

Sebuah cara penyerahan diri yang luar biasa Arinang tampilkan. Dari gesturnya, Arinang bisa merasakan papa tirinya begitu bahagia.

“Kalau begitu ikut saya.”

“Ke mana?”

“Ke kamar bawah.”

“Lepaskan dulu tanganku.”

“Tidak akan!”

“Ingat, kau lebih kuat dari saya. Kau bisa dengan mudah mengunciku seperti ini lagi.” Arinang meyakinkan.

Dengan gerakan lambat,  papa tirinya melepaskan tubuh Arinang, “Jangan berani macam-macam.”

“Saya akan ganti pakaian dulu. Kau tunggu di bawah. Nanti saya menyusul.”

“Saya akan menunggu.”

“Saya akan menyusul. Saya sudah menyerahkan diri sepenuhnya. Kau lebih kuat dari saya.”

Sejenak, papa tiri Arinang terlihat seperti sedang berpikir, lalu akhirnya mengangguk. “Baiklah.”

Arinang memberikan senyum terbaiknya. Apalagi ketika tubuh papa tirinya membelakanginya, Arinang seperti bersorak dalam hati. Diam-diam, dengan langkah hati-hati, ia mengikut di belakang.

Begitu kaki papa tirinya belum sepenuhnya menginjak anak tangga ke dua dari atas, sigap ke dua tangannya mendorong dengan tenaga maksimal.

Arinang bersorak menyaksikan tubuh lelaki yang teramat ingin ia lenyapkan sejak bertahun-tahun lalu itu terguling-guling melewati anak-anak tangga dengan cepat. Arinang tidak bisa berkata apa-apa, yang jelas rasa bahagia mengaliri seluruh sel-sel darahnya.

Begitu korneanya tidak lagi melihat pergerakan dari tubuh tua itu di lantai bawah. Arinang menyusul. Aroma anyir darah segera menjadi hal pertama yang menyambutnya.

Arinang jongkok tepat di depan tubuh tak bernyawa dengan kedua mata terbuka lebar itu. Bibirnya melengkung sempurna. Meski demikian, ia hanya menjongkok tanpa melakukan gerakan apa-apa. Hanya memandangi sesosok tubuh tak bernyawa itu. Seolah ingin merekamnya demi sebuah keabadian dendam.

***

Pukul tiga dini hari, dalam sekejap mama Arinang membeku saat mendapati tubuh suaminya sudah tak bernyawa dalam keadaan mengenaskan. Kepala yang bocor serta kedua mata yang masih terbuka.

Sementara di samping mayat tersebut, anak perempuannya sedang tersedu-sedu. Penampakan diri Arinang juga tidak jauh lebih baik. Rambut acak-acakan serta baju yang robek di sana-sini.

“Papa mencoba memerkosa Arinang, Ma. Dia mencoba mengejar saat Arinang berusaha untuk kabur. Tapi, justru papa terjatuh dari tangga,” sahutnya tersedu-sedu. “Maafkan Arinang, Ma,” lanjutnya.

Arinang membuat suasana menjadi sedramatis mungkin. Bahkan, dengan cara yang tidak begitu mencolok ia sengaja memperlihatkan ujung bibirnya yang berdarah serta tangannya yang memar.

Demi sebuah dendam, Arinang rela melakukan apapun untuk itu, sekalipun harus melukai dirinya sendiri.

“Tidak apa-apa, Sayang, tidak apa-apa,” mamanya meraih Arinang dalam dekap, sebuah usaha untuk menenangkan Arinang “Tidak apa-apa.”

“Arinang ingin pindah dari rumah ini, Ma. Arinang tidak akan sanggup terus di sini. Arinang akan terus mengingat semuanya.”

“Iya, Sayang. Kita akan pindah. Kamu pasti trauma.”

Dalam dekap itu, batin Arinang tidak sanggup menyangkal bahwa sebuah kebahagiaan besar sedang menumpuk di sukmanya.

(End)

Related Posts: