Lembaran Luka (3)


By : Finy Arkana
//

Part 3

Di sepertiga malam, sambil menjongkok dengan kedua tangan dilipat, tangis Arinang pecah mengenang semuanya. Namun, entahlah, Arinang merasa sebuah kehangatan sedang mendekapnya, lalu berbisik lembut.

“Arinang … Ayo pulang, Sayang.”

Arinang mengangkat wajah. Hal pertama yang tertangkap korneanya adalah wajah sendu seorang perempuan yang ia sebut sebagai mama. Jemari perempuan yang masih tampak cantik di usianya yang sudah senja itu menghapus butir-butir air yang jatuh dari sudut mata Arinang.

“Ayo pulang, Sayang. Tidak apa kalau kamu tidak mau menikah dengan lelaki pilihan mama.”

Sebesar apapun amarahnya. Sedalam apapun dendamnya. Arinang tidak akan sanggup membenci perempuan yang tengah meraihnya dalam dekap. Bagaimanapun, Arinang menyadari, tanpa perempuan itu kehadirannya di muka bumi masih akan dipertanyakan. Atau bahkan, Arinang tidak akan pernah melihat bumi jika tanpa kehadirannya.

Lamat-lamat, ia membalas dekapannya seraya berbisik, “Aku akan pulang demi sebuah penyelesaian.”

***

Related Posts: