Khusus Penulis Pemula

Assalamu'alaikum Wr. wb.

Materi yang akan saya bawakan kali ini tidak akan menyinggung perihal tekhnik penulisan.

Kenapa?

Karena, banyak saya temukan penulis pemula yang mandeg menulis atau bahkan menghentikan aktifitas menulis dengan alasan kurang pengetahuan dalam tekhnik menulis. Padahal, yang dibutuhkan seorang penulis adalah asal ia tahu baca tulis. Tidak repot, kan? Sebab hal demikian sudah dipelajari sejak pertama kali menginjakkan kaki di bangku sekolah.

Yang menyulitkan adalah ketika anda tidak tahu baca tulis namun memaksakan diri untuk menjadi penulis. Hal itu sama saja jika anda tidak tahu berenang namun dengan senang hati menceburkan diri ke dasar laut. Bunuh diri!

Lagipula, menulis adalah tentang seberapa banyak waktu yang anda habiskan untuk menulis. Berapa puluh bahkan ratus halaman yang telah anda tulis. Ketika hal demikian telah anda lakukan, barulah anda membutuhkan tekhnik dan segala teori tentang kepenulisan yang banyak beredar di berbagai media.

Intinya, sebagai penulis pemula, menulis saja dulu. Lupakan tekhnik. Lupakan aturan. Habiskan waktu anda hanya untuk menulis-menulis-dan menulis. Tidak perlu langsung menginginkan sebuah tulisan yang luar bisa bagus. Cukup yang sederhana, bahkan buruk sekalipun tidak mengapa. Tidak seorang pun yang memulai sesuatu langsung di puncak keberhasilan. Segalanya dimulai dari nol.

Satu hal yang harus anda hindari sebagai penulis pemula adalah berhenti mengeluh. Padahal yang anda harus lakukan hanyalah menikmati setiap prosesnya.

Kenapa? Karena pekerjaan menulis adalah sebuah pekerjaan yang mengajarkan anda untuk menjadi sabar. Lalu mengapa anda hanya menghabiskan waktu untuk mengeluh ketimbang menulis?

Maka, jangan salahkan saya jika saya berkata begini, "Anda belum menjadi seorang penulis ketika budaya sabar belum melekat pada diri anda."

Ya, karena menulis memang butuh kesabaran. Sabar menemukan ide, sabar menggarap tulisan, sabar meriset bahan tulisan, sabar ketika naskahnya dibantai editor, sabar menunggu proses penerbitan, dan sabar ketika naskahnya telah berhasil dibukukan namun jumlah penjualan jauh dari harapan.

Sabar sabar! 😁

Ini bukan berarti saya mengajak anda untuk menjadi pesimis. Namun, menulis memang butuh kesabaran. Percayalah, tanpa kesabaran itu, anda tidak akan menyelesaikan satu tulisan pun, bahkan jika tulisan tersebut selesai, saya yakini tulisan tersebut jauh dari kata hebat. Tidak berkualitas. Hambar!

Dan lagi ...
Saya banyak menemukan penulis pemula yang ketika ditanya mengapa tidak menulis, maka akan mengeluarkan statement seperti ini :

- Belum ada ide

- Tidak ada waktu untuk menulis

- Tulisan saya mandeg

atau yang lebih buruk ketika dia berkata :

- Saya tidak berbakat menulis.

Ayolah, kawan!
Menulis itu bukan tentang berbakat atau tidaknya seseorang untuk bisa menjadi seorang penulis, namun seberapa gigih anda mengasah kemampuan menulis anda.

Pernahkah anda mendengar nama Agatha Christie? Ia adalah seorang penulis novel thriller, novel terlaris sepanjang sejarah. Namun tahukah anda, bahwa sebenarnya Agatha Christie memiliki keterbatasan/disabilitas dalam membaca dan mengeja? Ia adalah seorang yang lahir dengan disleksia! Tidak mudah baginya untuk belajar membaca dan mengeja di masa mudanya, sehingga ia harus melawan keterbatasan dirinya sendiri sebelum dapat meraih prestasi luar biasa yang kita kenal sekarang. Disleksia Pertanyaan selanjutnya, apa itu disleksia? Disleksia merupakan kesulitan dalam identifikasi kata (membaca) dan mengeja.

Andrea Hirata pernah berkata, "Bermimpilah! Jangan mendahului nasibmu, jangan belum apa-apa bilang gak bisa."

Jadi, berhenti mengeluh, lupakan sejenak tekhnik dan segala aturan dalam dunia kepenulisan. Anda hanya perlu menulis. Entah nantinya menghasilkan tulisan yang berkualitas atau buruk sekalipun, yang harus anda lakukan hanyalah terus menulis.

Meski demikian, ini bukan berarti anda melupakan tekhnik-tekhnik penulisan. Oh, semoga tidak. Jelas itu suatu pemikiran yang buruk.

Anda tetap harus mempelajari tekhnik kepenulisan, nantinya, setelah otot jemari anda telah lihai menoreh kalimat ke lembar-lembar kosong, ketika mata anda tidak bosan menatap kalimat-kalimat yang telah berhasil anda toreh. Sebab, penerbit tidak akan menerima karya yang acak-acakan. Tata letak tanda baca tidak jelas. EBI/EYD tidak keruan.

Okey, mungkin kepanjangan ya, manteman😂

Maka, izinkan saya menutup materi ini dengan sebuah motivasi yang pernah saya dengar dalam seminar kepenulisan. Sebuah motivasi yang selalu melekat dalam pikiran saya. Sebuah motivasi yang selalu saya jadikan pembangkit semangat jika sedang malas menulis.

S. Gegge Mappangewa pernah berkata, "Rawatlah mimpimu baik-baik. Beri dia makan. Maka suatu saat, mimpimu yang akan merawatmu dan memberimu makan."

Wassalam
Finy Arkana

Related Posts: