Cinta Bernoda Darah


Lingkar, sebuah panggilan untuk seseorang nan jauh di sana. Jauh tak perlu dipersoalkan karena memang tidak akan kembali, sikap Kia lah persoalan sebenarnya. Dia sangat sulit dimengerti dari hari ke hari.

Suatu siang ibu bertanya, "Kia, gambar siapa itu?"

"Kekasihku," jawabnya pelan tapi sinis.

"Ikhlaskan kepergian Lingkar, Nak," Ibu Arsy mendudukkan pantatnya di samping gadis semata wayangnya dengan sangat berhati-hati, "biarkan dia tenang di alam sana,” ujar sambil mengusap lembut punggung Kia.

"Kutegaskan sekali lagi bahwa Lingkar masih hidup!!” bentaknya seraya menempelkan telapak tangan pada dada “di sini" lanjutnya sambil tersenyum sinis. Ada kebencian sangat mendalam dari sorot mata nan tajam yang menohok jantung ibunya.

Gadis bermata burung hantu itu selalu menolak jika diberitahukan perihal kematian Kekasihnya. Ia juga tak pernah telat menulis surat dan menyimpannya ke dalam toples dengan rapi, lalu meletakkan surat-surat tersebut di samping nisan Lingkar. Terhitung 99 surat telah ia tulis sejak tiga bulan kepergian pemuda berdarah Bugis itu.

Kenangan tentang Lingkar masih menempel di dinding kamar Kia, senyuman dengan lesung pipi memang sangat Kia sukai, apalagi pemiliknya adalah lelaki yang dua tahun ini menghiasi ruang kenangan bersama tawa dan tangis masa lalunya.

Terali jendela kamar kini menjadi tempat favorit mengenang kisah lampau, menerawang jauh senyuman pemuda yang masih setia menghiasi dinding kamar, menghirup kembali aroma khas lelaki itu. Tanpa sadar ada segurat senyum menghiasi bibir tipisnya.

“Ibu,” panggilnya lirih, “Sudah berapa lama Ratih tidak main ke sini?”

“Tiga bulan,” jawab Ibu Arsy penuh kelembutan.

“Kenapa dia, Bu? Apa Ratih tidak ingin bersahabat lagi denganku? Kenapa Ratih harus marah padaku? Akulah yang sebenarnya terluka di sini, aku kekasihnya bukan dia,” Kia menghapus satu butir air mata yang berhasil lolos sebelum memandang lekat-lekat wajah ibu Arsy, “Katakan kesalahanku, Bu.”

“Kamu tidak salah apa-apa, Nak. Kematian seseorang bukan kita yang atur.” Wanita paruh baya itu tak kuasa melihat putrinya dirundung kesakitan berganti-ganti.

Sebulan sebelum kematian Lingkar, ayah Kia telah meninggal tragis terlebih dahulu. Sang ayah meninggal dalam keadaan bersimbah darah. Seorang ayah yang tak pernah memberikan kasih sayang pada Kia dan Ibu Arsy, melainkan pada seorang janda beranak satu. Ditambah lagi kehilangan Ratih, sahabat kecil yang sangat ia percayai.l

Walau sedih ditinggal sosok seorang ayah, ada sedikit kelegaan dalam hati yaitu merasa bebas dari sarapan tamparan, pukulan, dan siraman kopi panas jika tak sempurna penyajiannya.

“Izinkan aku bertemu Ratih besok, Bu.”

“Tidak usah, Ibu takut kamu akan dia sakiti.”

“Dia tidak bisa menyakitiku.”

“Dia sudah mengambil Lingkar darimu. Seandainya peristiwa malam itu tidak terjadi, mungkin mereka sedang menikmati malam pengantinnya sekarang. Jika mengambil kekasih sahabatnya saja mampu ia lakukan apalagi menyakitinya.”

“Dia putih, anggun, cantik. Tidak heran Lingkar berpaling padanya.”

“Kamu masih terlalu naif, Kia, cinta bukan soal cantik tapi tentang kesetiaan!!” Suara Ibu Arsy meninggi, “Ibu justru merasa senang kejadian itu telah merenggut nyawa lelaki brengsek sepertinya. Mungkin itu karma atas apa yang telah dia lakukan.”

“Ibu!” bentak Kia, “Dia masih...,” kalimatnya terhenti sejenak, “Kekasihku,” lirih, sangat lirih hingga hampir tak kedengaran.

“Dia bukan kekasihmu lagi melainkan calon suami sahabatmu!” Wajahnya merah menyala terbakar api amarah.
“Lelaki brengsek seperti dia tidak pantas ditangisi. Syukur adalah nikmat bagiku sekarang, Kia. Teganya dia membatalkan pernikahan denganmu, mempermalukan Ibu, mempermalukan seluruh keluarga!”

Sayup-sayup suara tangis terdengar, Kia melakukan kebiasaannya lagi, kebiasaan yang baru ada sejak kepergian lingkar. Sambil menyeret langkah mendekati Kia, air mata yang mengucur dihapusnya terlebih dahulu, lalu secara perlahan ia sentuh pundak buah hatinya kemudian mendekapnya dalam tangis.

“Ibu tidak ingin kamu tersakiti lagi. Melihat wajah Ratih hanya akan mengingatkanmu pada lelaki itu.”

Kia tidak menjawab, hanya suara sesenggukan yang terdengar. Keheningan pun menyelimuti ruangan bertema hijau itu. Dari celah-celah jendela angin menerobos.

“Aku hanya ingin memberikan seluruhnya... seluruh yang Ratih inginkan,” ungkap Kia tak lama kemudian, “Tanpa sisa,” tutupnya.

*****

Tanah merah mulai mengering, sekuntum Bunga Kamboja putih jatuh di atasnya, sepertinya belum ada yang datang sejak hari pemakaman, terlihat jelas bagian atas kuburan bersih tanpa bunga-bunga. Kia menyiramnya terlebih dahulu sebelum menabur bunga berwarna-warni, kemudian menaruh sepaket mawar merah mekar beserta surat ke seratus ke dalam toples bening.

Ada tulisan cukup besar di bagian depan toples itu “Tidak Untuk Dibaca”, lucu memang, ibarat menulis untuk menghapus, merangkai lalu menghancurkan, seperti melakukan hal yang tak berguna.

“Kia...” Suara itu tak asing lagi  baginya, “Jadi kamu yang menulis surat-surat itu?” Kia tak berbalik, dibiarkan pemilik suara lebih dekat.

Ratih—pemilik suara—gadis yang menjadi primadona sekaligus sahabat kecilnya. Tak disangka mereka akan bertemu dihadapan makam seorang pemuda yang sama-sama mereka cintai.

“Surat-suratmu begitu banyak,” puji Ratih seraya meletakkan paket mawar kuning di dekat punya Kia, “Kenapa kau memberinya mawar merah?”

“Lingkar membenci warna yang mencolok.”

"Kenapa memberikan hal yang tidak disukainya?"

"Hanya ingin," jawab Kia datar.

“Bukannya kau mencintainya?"

“Lalu kenapa kau merebutnya kalau sudah tahu?” Kali ini Kia memandang mata Ratih dalam-dalam. Tajam, sinis, dan penuh kebencian.

“Aku memang salah malam itu.” Ratih membuang pandang sambil tersenyum kecut.

“Kesalahanmu bukan hanya waktu itu. Kau pikir aku tidak tahu kalian bermain di belakangku? Aku mencium segala kebusukan kalian.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

“Setahun hari jadi kami, Lingkar tidak datang karena sibuk merayakan hari jadi enam bulan kalian,” Kia mulai berkisah, “Lingkar terlambat mengucapkan selamat ulangtahun padaku karena mengantarmu belanja. Dia tidak datang ke pemakaman ayah karena kau melarangnya. Gaun yang diberikan padaku persis sama dengan yang dia berikan padamu. Dan...”

Kia mengatur suaranya yang mulai bergetar menahan tangis, “Dia memutuskan hubungan kami malam itu tepat di depan matamu. Memintaku agar merestui hubungan kalian dalam jenjang pernikahan. Romantis sekali,” ejeknya.

“Lupakan saja, Kia, toh Lingkar sudah tidak ada.” Ratih tahu, berdebat dengan Kia tidak akan ada ujungnya jadi lebih baik dia yang mengalah.

“Kau tahu, karena keserakahanmulah kini lelakiku terkubur di bawah tanah merah.”

“Apa maksudmu?”

“Kesalahanmu telah merenggut nyawanya.”

“Kau menuduhku atas kejadian malam itu?”

“Tidak.”

“Aku tidak mungkin membunuh pria yang sangat aku cintai, Kia. Ingat itu! Kami akan segera menikah. Mana mungkin pernikahan yang sudah di depan mata akan aku hancurkan dengan sebuah kematian.”

“Aku tidak menuduhmu.”

“Lalu?” Ratih berdiri, melayangkan sorot mata tajam. Dia tidak terima tuduhan menta-menta Kia, “Aku akan menuntutmu atas pencemaran nama baik!” todongnya dengan amarah menyala-nyala, telunjuk lentiknya menari-nari di depan wajah bulat sahabatnya. Ah... maksudku kini telah menjadi musuh?

Kia berdiri, tangannya masih setia bertengger di balik kantung sweeter hijau pemberian Lingkar, senyumnya begitu manis, menandakan ia tak takut sama sekali pada ancaman berapi-api wanita di hadapannya.

“Tuntutlah selagi kau mampu,” tantang Kia.

“Dasar wanita jalang!!!”

Tangan putih Ratih melayang, bergegas menampar wajah putih Kia yang masih tersenyum, namun hasilnya nihil, tangannya tersangkut pada genggaman wanita itu, malah pegangannya lebih kuat. Kemarahan pun semakin membakar ubun-ubun Ratih.

Sekali lagi Kia membagi senyumnya seraya berkata, “Tuntutlah aku setelah kamu bernegosiasi dengan lelakimu.”

Lalu, sebilah belati menancap indah di perut pemilik tangan dalam genggamannya. Darah mengucur dari ruas luka, terpercik menyirami tanah kuburan, dan wanita itu pun tersungkur dalam kesakitan, tanpa tenaga.

Sambil memegangi perutnya yang terluka dia berbicara, “Kia... Apa ... yang kau...” darah  segar keluar dari kerongkongannya, “Kenapa .. kau melakukannya?”

Susah payah wanita itu berbicara. Dan itulah yang Kia dambakan, kesakitan adalah bahagia baginya, penderitaan tanpa siksaan bukan apa-apa, katanya. Itu hanya bagian kecil dari permainan jika tak sampai merenggut nyawa.

Kia menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Ratih, “Aku hanya ingin menepati janjiku pada Lingkar,” bisikan diiringi gelak tawa semakin menakutkan bagi Ratih, ini tidak seperti Kia yang lugu, “Kia...”

Dicabutnya pisau yang masih menancap, lalu menusuk sisi lain tubuh Ratih sekali lagi, “Kini kurestui hubungan kalian.”

Kuburan milik Lingkar kembali basah. Dua orang kecintaannya berkunjung, menyuguhkan darah segar di atas makam bertanah merah miliknya, menghadiahkan paket mawar berduri. Kia pun kembali duduk bersila di hadapan Ratih, menyangga dagu dan tertawa bahagia menyaksikan sahabat kecilnya meregang nyawa, menanti detik-detik maut menjemput.

Tidak diduga lama juga Ratih mampu bertahan dengan dua kali bacokan. Terlalu lama menunggu membuatnya sedikit bosan, dia mengambil sebuah surat berwarna coklat, lalu membacanya keras-keras....

Lingkar, lelakiku, kecintaanku....

Bersama surat ini kutitipkan cinta. Sudah terlalu lama kita menjalin kasih namun kau hianati cinta suciku, kau pergi dengan sahabatku, dan kembali meminta restu. Apakah yang hendak kulakukan agar kau mau memaafkan segala kesalahanku atas kejadian waktu itu? Maaf, aku tidak memberimu restu. Maaf  juga karena belum mampu memberimu teman di alam sana.

Kekasihku,

Bagiku kau tidak ke mana-mana, kau tetap hidup dalam relung hati yang terdalam. Aku tidak pernah marah maupun benci atas apa yang telah engkau lakukan. Aku hanya merasa belum melakukan yang terbaik dalam hidup bersamamu. Yang kulakukan ini tidak lebih hanyalah bentuk ketakutan jika kau menjadi milik orang lain, hanya itu.

Meski begitu, aku berjanji akan mengirimkan seseorang yang kau inginkan. Apakah kau senang? Kurasa iya, karena dia kecintaanmu.

Lingkar, apakah kau sudah bertemu ayahku di sana? Kepergiannya persis sama denganmu. Apa kalian masih bermandikan darah, masih dengan nyanyian kesakitan ketika belatiku mengikis tiap inci tubuh kalian? Mohon maafkanlah wanita ini, toh kesakitan juga telah berhenti. Akrablah di sana, dua lelaki tercintaku dalam hidup, lelaki yang tega mendua demi kesenangan dunia semata. Bersahabatlah, berbagi cerita mungkin lebih baik daripada kesakitan, bersahabatlah agar tak bosan.

Lingkar, kecintaanmu akan segera menyusul dalam waktu dekat. Jemputlah dia. Hapuskan Darah segarnya, sebagaimana kau menghapus darah itu dari lukamu sendiri. Berterima kasihlah di lain waktu karena aku merestui hubungan kalian, bahkan bersusah-susah mengirimnya padamu.

Aku,

Mantan kecintaanmu.

.....

Usai membaca surat tersebut, ia lipat kembali dan menyimpannya baik-baik ke dalam toples. Lalu mendekati sahabatnya yang masih meregang nyawa.

"Karena aku telah menepati janjiku maka sekarang kuakui dia telah pergi. Tidak satu alam denganku. Tidak juga kusisakan cinta untuknya. Ambillah semua yang belum sempat kau ambil, Sahabatku, seluruhnya tanpa sisa..."

"Kenapa ... kau mela..." Pertanyaan Ratih tak sempat ia selesaikan sebab ruh telah lebih dulu berpisah dari raga.

"Begitulah perempuan, Sahabatku. Luka yang digores padanya tidak akan pernah kering."

Gurat-gurat jingga menyemai langit senja. Tiupan angin menggoyang Bunga Kamboja, meluruhkan daun kering beserta bunga putihnya, aroma amis darah segar menyeruak, perlahan namun pasti, setetes demi setetes air langit membasahi tanah merah pekuburan.

Palu, 100415

Related Posts: