Am Dilan (3)


By : Finy Arkana

"Apa alasanmu membunuhnya?"

Dilan masih tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya. Berkali-kali ia memberi jawaban jujur, namun pertanyaan sama tetap dilempar padanya. Berulang kali.

"Saya hanya menusuk tangannya dengan pulpen. Tidak lebih."

Begitu pula jawaban yang terus-terusan keluar dari bibirnya. Hal tersebut jelas membuat guru BK geram. Ia mulai hilang kesabaran. Telapak tangannya memukul meja. Membuat Dilan sedikit tersentak. Namun, kekesalan yang ditunjukkan sang guru justru berhasil melengkungkan ke dua sudut bibirnya.

"Sudahlah, Bu. Ini hanya membuang-buang waktu. Jawaban saya akan tetap sama. Bukan saya yang membunuhnya," ungkapnya tanpa gentar.

"Lalu, kenapa kau menusuk tangannya dengan pulpen?"

"Itu karena dia mencoba melakukan kekerasan pada saya. Dia memaksa agar saya memberikan uang jajan padanya."

"Bohong!" tanggap guru BK berang. Sorot matanya tajam memandangi manik mata Dilan. Mencoba mencari celah di dalam sana.

Dilan yang tak mau terus-terusan mendapat tuduhan mulai kalap. Bertumpu pada amarah yang menyala-nyala. Dengan kasar dia bangkit hingga kursi yang didudukinya terjengkang, menghasilkan gema di ruang konseling.

Dia bergerak memutari meja. Meraih leher sang guru dengan tangan kokohnya.

"Apa ibu ingin menyusul Yugo?" tanyanya dingin, "Sikap ibu membuat saya berpikir untuk mulai membunuh seseorang."

Dengan sisa kemampuan. Seraya menahan sesak akibat cekikan tangan Dilan. Guru BK tersebut meraba saku roknya. Mengambil benda lipat di dalam sana. Kemudian, tanpa babibu, ia menyabet lengan Dilan.

"Setelah membunuh temanmu, sekarang kau mau membunuh gurumu juga?!" teriaknya setelah cengkeraman Dilan lepas dari lehernya.

"Saya tidak membunuhnya!"

Dilan tak mau kalah. Ini pertama kali seseorang berhasil menggores benda tajam di tubunya. Bukan perih hasil sayatan yang dia rasa, melainkan gebu akan keinginan untuk menghabisi guru tersebut. Jelas dia merasa dijatuhkan.

Pandangannya menyisir seluruh isi ruangan. Senyum sinis terpahat di bibirnya begitu indra penglihayannya bertumbukan dengan mistar besi.

Dia bergerak pelan. Badannya sedikit menempel ke dinding. Menghindari todongan pisau dari guru BK. Hanya butuh beberapa langkah untuk sampai ke tempat mistar tersebut.

Namun, posisi mistar yang begitu dekat dengan guru BK, justru memudahkan guru tersebut untuk memberi luka lain pada tubuh Dilan. Pisau di tangannya melayang di udara, kemudian mendarat dengan indah tepat di perut sebelah kiri Dilan.

Tanpa mampu dicegah. Seperti terjadi hujan darah di ruang konseling. Terlukis bintik-bintik merah di dinding putih. Catatan daftar siswa basah oleh cairan kental. Sementara di lantai, mengalir darah seperti air yang berpusat dari lubang di perut Dilan.

Bersamaan dengan itu, pintu ruang konseling terkuak, memuntahkan sekelompok manusia berseragam coklat. Hanya satu dari mereka yang berseragam berbeda. Seragam serupa dengan yang Dilan kenakan. Dia Zee.

"Itu pembunuhnya," tunjuknya.

Related Posts: