Bahaya Membuang Ampas Kelapa


Oleh: Finny Arkanila

“Pak Ramli, tolooooongggg....”

Bagai digoncang warga segampung, kost bercat putih itu bergerak tak beraturan. Seluruh sudutnya berdecit, perabotan dapur yang menempel di dinding saling berbenturan, jatuh dan pecah. Berhamburan.

Setelah berhasil melirik jam dinding yang berjungkir balik akibat goncangan tersebut, Ida ketahui waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Dari luar terdengar badai angin yang  seolah memaksa atap rumah hengkang dari tempatnya.

“Pak Ramli, toloooonnngggg...,” teriak Ida sambil berpegang kuat pada sofa.

Ia merangkak menuju pintu, meraih gagang lalu membukanya. Tepat di samping kamar kostnya adalah kamar Pak Ramli, langsung diketok pintu tersebut dengan sekuat tenaga.

“Pak Ramli, buka pintunya!” teriak Ida berusaha membangunkan pemilik kamar.

Tak lama kemudian pintu terbuka, tanpa permisi Ida langsung menerobos masuk. Suasana di tempat tersebut tak jauh berbeda, perabotan rumah berhamburan bagai kapal pecah.

“Apa yang terjadi, Ida?” tanya Pak Ramli masih setengah sadar, “Kenapa rumah saya hancur begini?”

“Sepertinya gempa bumi,” jawab Ida tak kalah kacau.

Pak Ramli melihat keadaan di luar, sepertinya hanya di tempat mereka yang mengalami hal tersebut. Angin kencang memporak-porandakkan rumah kost itu, Pak Ramli pun menutup pintu.

“Apa yang sudah kau lakukan, Ida?” tanya Pak Ramli histeris, “Kau simpan di mana ampas kelapamu yang kau parut petang tadi?” desaknya lagi.

“Saya buang di  belakang rumah.”

“Kenapa kau membuangnya saat petang?”

“Kenapa memangnya?” tanya Ida tak mengerti.

“Itu pamali, Ida.” Pak Ramli menekankan pada kata Pamali, “Tidak boleh dilakukan warga sini.”

“Mana saya tahu. Kalau tahu tidak mungkin saya melakukannya.”

Ida mengeluarkan sejuta alasan, sementara Pak Ramli telah melakukan ritual-ritual khusus. Dari membaca ayat suci Al-Qur’an, memercikkan air ke seluruh penjuru rumah kost, sampai membakar dupa tapi tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Akhirnya jurus terakhir keluar, Pak Ramli berteriak, “Tidak usah mengganggu malam-malam begini, datang saja besok pagi mengambil jatahmu.”

Selang beberapa menit, keadaan kembali normal. Esoknya, pagi-pagi sekali seorang lelaki tua mengetuk pintu Pak Ramli.

“Ada perlu apa?” tanya Pak Ramli heran sebab tak mengenali tamunya.

“Mau mengambil garam.”

Setelah mengambil jatah garamnya, lelaki tua tersebut meninggalkan Pak Ramli yang diliputi tanda tanya, “Diakah makhluk halus itu?”

(Tikke, 120415)

Related Posts: