Psycho PMS

Perempuan adalah spesies yang bisa kapan saja berubah menjadi manusia psikopat ketika sedang PMS, setidaknya itu menurutku.

"Kamu mengganggu cewek PMS, itu sama saja menggali kuburan sendiri. Nyari mati."

Demikian orang-orang berceloteh, walau ada sebagian dari mereka yang sedikit hiperbolis.

"Cewek PMS kalau nabrak tembok, temboknya yang roboh."

Tak kusangkal, juga tidak ada penerimaan sepenuhnya dariku. Ketika sedang PMS, kaum perempuan memang kadang menjadi lebih sensitif, mudah marah, sedih tiba-tiba, atau berbagai gejala psikis yang ditandai dengan bergantinya emosi secara tiba-tiba, bahkan berlebihan.

Aku melirik jam tangan untuk kedua kalinya, lalu mengembuskan nafas kasar. Jika saja Rio-pacarku-tidak terlambat menjemput pagi tadi, kupastikan sekarang aku sudah tiba di rumah dan tiduran di atas kasur empuk. Bukan melewatkan jam makan siang dan rela mengantri demi sebuah jam tangan edisi terbatas seperti sekarang.

Sesekali kusentuh perut yang terasa nyeri dan  pinggang yang serasa ingin lepas. Semakin kutekan perut bagian bawah, semakin hebat rasa sakit yang terasa.

Tak hanya itu, tepat ketika tiba giliranku melakukan transaksi jual beli, keringat dingin mulai menjalari seluruh tubuh. Nyeri yang tadinya hanya di bagian perut bawah dan pinggang, kini merambat hingga ke punggung, paha, dan betis. Dalam hati aku mengeluh, jelas ini penyiksaan yang harus dihadapi perempuan setiap bulan.

"Keren nggak jam tangannya?" tanya Rio riang begitu melihatku keluar dari baris antrian.

Kulirik dia sekilas. Tanpa senyum.

"Kalau nggak keren, mana mungkin aku rela ngantri berjam-jam," jawabku ketus.

"Sensitif amat," lirihnya.

Aku menghentikan langkah. Menatapnya tajam.

"Kamu bilang apa tadi?"

"Aku bilang, hari ini kamu cantiiiiiikkk banget."

"Jadi kemarin-kemarin aku nggak cantik? Hari ini doang?"

"Bukan gitu, Sayang," Rio menggaruk-garuk kepalanya, "kemarin-kemarin kamu cantik. Hari ini juga. Besok juga tetap cantik."

Barangkali karena rasa nyeri yang tak tertahankan, sehingga aku tidak mampu menanggapi pujian Rio walau sekadar menyunggingkan bibir.

"Kita pulang."

Rio mengiyakan.

Sepanjang perjalanan dia begitu berisik, terlalu banyak berceloteh tentang ini-itu yang menurutku tidak penting sama sekali. Entahlah. Dia menjadi amat menyebalkan hari ini. Satu dua kali aku menyuruhnya untuk diam. Dia melaksanakan perintahku, tapi hanya bertahan beberapa menit, setelah itu dia kembali menumpahkan buah pikirannya.

Aku tidak tahan lagi. Nyeri yang makin gencar menusuk-nusuk dan dikolaborasikan dengan celotehan Rio, menstimulasi otakku untuk berpikir cepat. Tanpa sadar tanganku meraih pisau lipat dari tas.

"Kamu pilih diem atau benda ini merusak kulitmu?" ancamku dingin seraya mendekatkan pisau tersebut ke wajahnya.

"Bercandanya jangan pakai benda tajam dong, Sayang. Nanti bisa melukai orang loh." Ada tawa hambar mengakhiri kalimatnya.

Secepat kilat tanganku terayun ke lengannya, menggores dengan cekatan, meninggalkan beberapa centi bekas pisau di sana. Rio mengerang kesakitan. Perlahan, bekas sabetan itu mulai mengeluarkan darah, mengalir, kemudian menyajikan pemandangan mengerikan. Tetesan-tetesan darahnya jatuh tepat di atas celana putih miliknya.

"Kamu apa-apaan sih?!" bentaknya.

"Kamu membentakku?"

Mungkin Rio lupa bahwa aku adalah orang yang paling benci mendengar bentakan. Hal tersebut kembali memancing keinginanku untuk memberinya pelajaran.

Terlihat lengan kiri itu menganggur di sisi tubuhnya. Darah tak henti mengalir. Tanpa aba-aba tanganku bergerak meraih lengannya. Memegangnya erat.

Rio memberontak. Berusaha menarik lengannya. Entah karena sedang terluka atau disebabkan genggamanku yang begitu erat, hingga dia tidak mampu menyelamatkan diri. Lengannya masih dalam genggamanku ketika dia membagi tenaga untuk mengarahkan kemudi mobil.

Kegunakan kesempatan itu untuk menggerakkan pisau yang tadi telah melukai lengannya. Mendarat persis ke hasil sabetan yang sama demi menambah kedalaman lukanya, menambah rasa sakitnya hingga berkali-kali lipat.

Rio berteriak. Dia mengerang kesakitan. Dan entah kenapa itu seperti pertunjukan komedi yang terasa sangat menyenangkan bagiku. Dalam sekejap tawaku meledak. Sementara Rio hanya menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Hanya saja, aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Dia menghentikan mobil, kemudian menyuruhku turun, namun kutolak mentah-mentah. Hal itu membuatnya berang hingga memilih untuk turun dari mobil, berputar, lalu dengan kasar membuka daun pintu di sampingku. Dia menarikku dengan kasar. Mendorong tubuhku jauh-jauh.

Sempat aku tersentak dengan perlakuannya. Dia bukan Rio yang lembut. Entah kenapa, aku merasa sedih untuk itu, terlebih ketika mobilnya mulai meninggalkanku di belakang. Sendirian.

Ada air mata yang tak kuketahui dari mana datangnya. Aku mencoba menahan untuk tidak menangis. Tapi tiap butirnya terus mengalir. Tak tertahankan.

Aku kehilangan dia.

Related Posts: