Kejutan

Matanya nyalang melihat tumpukan gambar yang satu jam lalu mampir di rumahnya. Buku-buku tangannya tertarik, membentuk sebuah tinju. Lututnya gemetar. Jantungnya berpacu tak keruan.

"Siapa pengirimnya?" desahnya frustasi.

Di ruang  berukuran tiga kali empat itu, dia melangkah bak setrikaan. Ke sana ke mari demi menghindari rasa cemas. Khawatir gambar tersebut juga dipaketkan ke istrinya.

Detak jantungnya semakin melaju saat dering handpone berteriak dalam genggaman. Dengan tangan dingin dan gemetar , ragu-ragu dia tekan tombol berwarna hijau.

"Kau selingkuh?"

Fiuh! Dua kata tanya itu langsung tersambut di telinga sebelum sempat mengeluarkan jurusnya. Rayuan gombal yang selama ini mengalir indah dari bibir untuk sang istri tidak lagi berfungsi. Lidahnya keluh.

"Sayang ... Aku bisa menjelaskan. Aku ...."

"Kau sudah tahu konsekuensinya, kan?" Suara di seberang sana terdengar datar, "20 menit aku sampai rumah."

Klik! Panggilan telepon dimatikan sepihak.

Dia makin gusar. Meremas rambut demi mencari jalan keluar. Bersamaan dengan itu, matanya bertumbukan dengan tali. Tak ada pilihan. Dia tahu sifat istrinya. Daripada hidup menanggung malu, lebih baik berakhir dengan kesakitan.

Dia kaitkan tali sepanjang tiga meter itu ke sebatang balok di langit rumah. Menjulurkan kepalanya ke dalam, lalu mendorong kursi yang dipijaknya dengan kaki. Tubuhnya telah bergelantungan.

Tak berselang lama, terdengar deru mobil memasuki halaman rumah. Selanjutnya, yang terdengar hanya derap langkah kaki. Semakin dekat. Lalu, daun pintu kamar bergerak lambat, memuntahkan tubuh istrinya.

Meski udara kian sulit masuk ke paru-paru, masih sempat terlihat lengkungan sempurna di bibir istrinya. Walau tak ada suara keluar dari bibir merah itu, dia merasakan hawa mulai mencekam. Mata istrinya berkilat.

Lantas dilihatnya sang istri mengambil benda tajam dari laci meja. Dia pastikan itu pisau. Ujungnya runcing.

Istrinya mendekat. Meraih kursi yang dipijaknya tadi. Kakinya terayun ke atas kursi hingga menopang seluruh tubuhnya.

Tangan istrinya bergerak ke atas kepala. Menyabet tali hingga putus. Tubuhnya pun jatuh berdebum. Menyatu dengan lantai.

"Mau bunuh diri?" Nafas istrinya terasa hangat di telinga, "Tidak akan semudah itu, Sayang!" lanjutnya sinis.

Nafas kian tercekat di tenggorokan. Dia semakin sulit menghirup udara. Bibirnya pucat tanpa darah. Keringat dingin mengucur begitu sang istri yang notabene seorang jurnalis, memperlihatkan selebaran koran dengan headline 'Telah Beredar Foto-Foto Panas Seorang Direktur Perusahaan Berinisial M Bersama Selingkuhan'.

Detak jantungnya semakin tak keruan ketika matanya bertumbukan dengan gambar panas yang memperindah tampilan koran pagi ini. Meski sedikit blur, orang terdekatnya pasti tahu itu dia. Guntingan rambut disertai cat berwarna coklat tua khas dirinya tercetak jelas.

"Kamu tidak penasaran siapa pengirim paket itu?"

Istrinya mengutak-atik handphone, memperlihatkan isi chatting via BBM. Matanya membulat. Pengirimnya adalah selingkuhannya sendiri. Dia terbatuk. Sulit rasanya menelan ludah untuk membahasi tenggorokan.

"Tidak perlu seterkejut itu, Sayang. Kurasa kau sendiri juga tahu, selingkuhan hanya butuh uang. Harga diri tidak begitu penting."

Kepalanya pening. Sulit baginya mencerna semua fakta yang datang bertubi-tubi. Hal tersebut menyulitkan tubuhnya untuk bergerak. Apalagi ketika istrinya dengan santai menancapkan pisau di perut. Rasanya ngilu ketika benda tajam itu mengiris kulit, menembus bagian dalam perut. Percikan darah kental nan hangat terciprak di wajah istrinya. Dan, tubuhnya lunglai tak bertenaga.

"Sudah seminggu berlalu sejak dia mengirimnya ke aku. Maaf ya, Sayang, aku lambat memberimu kejutan."

Dalam pejam, dirasakannya tangan istrinya yang terbungkus handskun mengarahkan tangannya untuk menggenggam pisau yang tertancap di perut.

Usai melakukan hal demikian. Derap langkah istrinya terdengar menjauh. Sebelum gelap benar-benar mengambil alih kesadarannya, sayup-sayup terdengar suara istrinya dari kejauhan.

"Halo ... Cepat kirim ambulance ka Jalan Merpati No 12 B. Suami saya mencoba melakukan bunuh diri."

Mimiknya dibuat gusar, seolah penuh rasa takut. Ah, inilah kejutan tak terlupakan.

Related Posts: