I BELIEVE

Oleh : Finy Arkana

Prolog
//
            Namaku Finy Arkana, sebuah nama istimewa yang diberikan olehnya. Seseorang yang aku sendiri tidak yakin apakah dia benar-benar nyata atau ilusi semata. Satu hal yang pasti adalah dia berhasil membuatku jatuh cinta berkali-kali. Dan, dengan ikhlas kubiarkan hati ini mengukir namanya, merekam suaranya, lalu mengabadikan segala hal tentang dia di tempat terindah.
Dia, seseorang yang sepertinya tidak pernah puas menghukumku dengan kerinduan. Persis seperti malam ini.
Jarum jam menunjuk angka 23 lewat 58 menit. Orang rumah telah jatuh terlelap sejak sejam lalu. Sementara di luar sana, sayup-sayup terdengar rintik air yang jatuh di atap rumah. Sepertinya hujan semakin deras. Dari balik jendela kamar samar-samar terlihat pohon mangga bergerak lembut oleh sentuhan angin.
Dingin, sepi, dan hening. Perpaduan pas yang melemparku pada keinginan untuk memeluknya erat. Aku merindukannya. Teramat sangat.
Kuedarkan pandang menyusuri seluruh sisi kamar, berharap jika saja dia akan muncul di satu sudut, lalu meraihku dalam dekapnya. Sedikit horor memang, tapi lebih mengerikan lagi jika harus menderita lebih lama menahan segala sesak yang berdesak-desak dalam dada. Naas, harapan hanyalah harapan, rindu yang sudah pada tahap keterlaluan ini tidak kunjung terbilas oleh sebuah temu.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Mengisi paru-paru dengan udara sebanyak mungkin. Kemudian, jemariku kembali menari-nari di atas tuts laptop, membiarkannya bekerja sendirian hingga tertuang beberapa kalimat.

Hai, Tuan …
Langitku menurunkan bulir-bulir air
serupa huruf-huruf sepi
terangkai menjadi kalimat bening
yang tak mampu terucap bibir

olehnya itu …
jendela yang mengembun
adalah sasaran empuk
sebagai tempat merayu
serta mengalunkan rindu

lewat jemari yang menari-nari
di atas kaca dingin
mengabadi segala ingin

bahwa ada harapan agar datang sebuah temu
karena hanya dekapmu
tempat rinduku berlabu

Sekali lagi, aku menghela nafas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. Ada sedikit perasaan lega merayapi hati. Tanpa sadar ujung bibirku tertarik ketika kubaca lagi tulisan di kaca jendela.
Ken!!!
Satu nama yang menjadi tumpuan segala harapan, kerinduan, serta ketakutan!

***
Dia penulis asal Pati—Jawa Tengah—yang beberapa bulan terakhir menghabiskan waktu di Palangkaraya—Kalimantan Tengah—demi menikmati indahnya kota cantik itu. Bagiku pribadi, dia bukan hanya penulis bergenre absurd, motivasi, serta puisi, melainkan orang spesial yang tiga bulan ini resmi kulantik sebagai pacar dan menjadi bagian dari perjalanan hidupku.
Ken Patih Adichandra, nama penanya. Penulis yang aktif menerbitkan karya-karyanya di sebuah grup kepenulisan yang diberi nama Komunitas Bisa Menulis oleh Isa Alamsyah. Sebuah grup yang mempertemukanku dengannya. Sebuah grup yang menjadi awal cerita ini dimulai.
Tentang bertemunya dua hati yang kemudian menjalin kasih tanpa adanya sebuah pertemuan, sekalipun.
//
***


Related Posts: