Hasrat Seorang Psikopat

Tepat ketika aku memencet starter motor, tiba-tiba ada yang teriak, datangnya dari truk besar pengangkut barang.
"Biru!"
Tak kugubris. Aku mulai melajukan motor.
"Di Pom Bensin masih aja nyempat-nyempatin godain orang," celetuk temanku di belakang.
"Iya," jawabku sekenanya.
Aku tidak tahu apa sebenarnya yang ada dalam pikiran lelaki penggoda sepertinya. Yang jelas, berbagai macam cara untuk membumi hanguskan lelaki macam itu mulai terancang dalam otakku.
Namun, karena sedang mengemudi, sedikit demi sedikit kusingkirkan pikiran-pikiran tersebut. Menyusut dan kemudian lenyap tak berbekas. Aku tidak ingin kehilangan fokus yang bisa saja menyebabkan kecelakaan sehingga mengancam keselamatan.
Setibanya di sebuah tempat foto copian, pemiliknya yang kebetulan seorang cowok muda dan menyenangkan seolah memancing kembali rancangan-rancangan tadi. Bayangkan, ia menggunakan sebuah obeng untuk membuka klip dari tugas kuliahku yang sempat terjilid.
"Sadis!" gumamku. Dia hanya terkekeh.
Tak lama kemudian, cowok itu bergerak ke dalam, sibuk dengan tumpukan kertas, lalu kembali lagi membawa sebuah tang. Mataku membulat.
"Penjepit kertasnya terlalu erat, jadi harus pakai ini," jawabnya seolah mengerti arti tatapanku.
Aku mengambil obeng yang sedang menganggur, mengamati setiap sisinya. Kubolak-balik.
"Boleh juga."
Temanku hanya menggeleng, sementara si cowok melayangkan tatapan aneh, keningnya mengkerut. Merasa canggung ditatap seperti itu, aku mengalihkan perhatian ke anak perempuan berusia sekitar lima tahunan yang sedang menangis.
Ingin rasanya menggendongnya, tapi khawatir dia jadi ketakutan sebab melihatku sejak tadi bermain obeng.
"Dia bukan anak ayah, dia nakal," ucapnya disela-sela tangis.
Oh ... Jadi dia sedang cemburu pada kakaknya.
"Dia bukan anak ayah. Bukan anak ayah."
Tak mendapat respon dari ayahnya, si kecil makin gencar mengeluarkan tangis. Dalam diam aku menatap ayahnya yang sibuk sendiri.
Lalu tak berapa lama, aku mulai angkat suara.
"Rin, obeng bisa dipakai tusuk orang ndak?" tanyaku pada teman di samping. Dia mengangguk.
‪#‎Nonfiksi‬
‪#‎NightStory‬
....

Related Posts: