Elegi kematian


By : Finy Arkana

Bulir-bulir bening mengalir dari sudut matanya. Punggungnya bergetar. Sesekali terdengar sesenggukan keluar dari bibirnya. Ia memeluk erat tubuh tak bernyawa itu.

"Ale," desah pemuda itu.

Tangannya bergerak mengambil gayung untuk membersihkan sisa-sisa darah di kulit wajah yang tergambar nyata raut ketakutan di sana.

"Senyum, Sayang, senyum."

Jari telunjuknya bergerak-gerak lembut menyentuh bibir tipis itu.

"Di mana senyummu?" lanjutnya.

Sekilas bibirnya menyentuh bibir yang sudah berwarna pekat milik perempuannya. Kemudian menarik diri, menjauh.

Ia menyeret langkah. Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di ruang kerja, kemudian mengempaskan diri di atas kursi putar nan empuk. Tanpa menunggu lama, jemarinya lincah menari-nari di atas tuts laptop. Beberapa menit selanjutnya rekaman cctv telah bermain-main di depan mata.

"Ah ... Bagian ini tertutup. Brengsek!!" makinya seraya menekan tombol pause.

Berulang kali ia memperbesar kemudian memperkecil gambar di layar laptop. Berkali-kali ia putar untuk mengamati dengan seksama hasil rekaman cctv.

Buku tangannya membentuk sebuah tinju hingga tertarik urat-uratnya. Rahangnya mengeras.

"Sial!" umpatnya kesal.

Hasil yang ia dapat dari rekaman cctv tidak sesuai harapan. Banyak bagian tertutup. Tusukan ujung pisau yang runcing di bagian perut wanitanya tidak terlihat jelas, tertutup oleh punggung tubuh kokoh. Hanya cipratan darah yang terlihat menyebar ke dinding putih. Menempel di kaca. Menandakan betapa dalam tusukan itu.

Ia lanjut menonton. Kali ini amarahnya benar-benar terpancing. Tinjunya menghantam meja hingga menghasilkan suara bergema. Bagaimana tidak, untuk ke dua kalinya, ia tidak dapat melihat ketika bagian leher perempuannya bersatu dengan ujung pisau yang runcing.

Hanya cipratan cairan kental yang berhasil tertangkap kamera. Sungguh. Ia frustasi akan hasil rekaman.

Dengan sedikit mengentak. Ia menyeret langkah menuju kamar mandi. Begitu pintu terkuak, bau anyir langsung menyambut, menusuk hidung. Cairan merah kental menyatu dengan bening air kran yang sengaja dibiarkan mengalir tanpa wadah.

Ia langsung menarik tubuh perempuannya dalam dekap.

"Maafkan aku, Sayang," ucapnya frustasi, "Hasil video kita tidak mengesankan sama sekali. Banyak adegan yang tertutup punggungku. Haruskah kita ulangi??"

Jemarinya membelai lembut pipi yang telah hilang ronanya, seraya berkata, "Tapi aku sudah terlalu banyak melukai tubuhmu, Sayang."

Kembali, punggungnya bergetar menahan tangis melihat tubuh perempuannya luka habis-habisan sementara ia tidak mendapat hasil rekaman yang sama sekali jauh dari kata sempurna.

Related Posts: