Am Dilan (2)


By : Finy Arkana
//
Part 2

Telapak tangannya bergerak lambat untuk menghapus embun yang menempeli kaca kamar mandi, menampilkan sosok tinggi berkulit kuning langsat. Senyumnya melengkung sempurna, hingga terpahat sebuah lesung pipit di sebelah kiri. Dagu runcingnya tertarik ke bawah. Bola mata coklat yang dibingkai alis tebal itu menatap tajam pantulan dirinya.

“Sempurna.”

Sesuatu yang tak terelakkan dari Dilan adalah memiliki kepercayaan diri teramat tinggi.

Kebiasaan memandangi pantulan diri yang masih menetes butir-butir air adalah suatu ritual yang wajib dilakukan setelah mandi. Tujuannya satu, hanya demi melempar pujian pada diri sendiri. Ada kepuasan tersendiri setelah melakukannya.

Dilan menyeret langkah menuju kamar, membuka pintu lemari, mengambil kaos berwarna coklat yang dipadu dengan jeans selutut. Setelahnya, dia mengempaskan diri di atas kursi putar. Mengambil buku catatan yang berisi daftar benda yang pernah digunakannya untuk melukai seseorang ataupun binatang.

Jemarinya menari-nari sekejap. Menuliskan satu nama benda.

‘Pulpen’.

Kemudian, secara perlahan dia menutupnya lalu menyimpan dengan hati-hati buku tersebut ke tempat semula setelah menciumnya terlebih dahulu.

Bersamaan dengan itu, dering ponselnya berteriak, pertanda sebuah pesan baru masuk.

“Guru BK?” Keningnya mengkerut mendapati nama si pengirim adalah konselor sekolah, “Besok pagi ibu tunggu di ruang konseling sebelum kelas dimulai.”

Ogah-ogahan Dilan membalas, “Baik, Bu.”

Tepat ketika dia akan meletakkan ponsel. Kembali dering telepon berbunyi, kali ini datangnya dari Zee yang baru saja mengirim pesan di grup chat khusus kelas XI Ipa 1.

Matanya membulat usai membaca.

“Yugo meninggal?” sahutnya sedikit berbisik.

Jantungnya berpacu tak sebagaimana harusnya. Melaju lebih cepat. Dengan cepat jemari lentik itu menekan keyboard ponsel. Mengirim ucapan terima kasih karena telah memberi kabar. Sesuatu yang jarang dilakukannya.

“Padahal hanya kutusuk pulpen.” Ukiran di bibirnya melengkung sempurna, “Kok bisa meninggal?” lanjutnya bertanya-tanya.

Namun, harus Dilan akui bahwa kabar yang baru saja mampir di ponselnya berhasil melambungkan angannya hingga rasanya ingin terbang ke awan-awan.

Related Posts: