Bunuh Saja Aku

Rey, namanya. Seorang lelaki yang pagi-pagi buta memindahkan barang-barang ke sebuah rumah di perkampungan sudut kota. Dia sosok yang mengagumkan dengan kepribadian ramah. Bertubuh tinggi diimbangi wajah yang bisa membuat siapa saja tertarik dalam sekali pandang. Dia tampan.

Seminggu pertama sejak kedatangannya, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk membeli bahan makanan, perlengkapan dapur, bahkan sesekali ada yang melihatnya membersihkan halaman rumah.

“Hitung-hitung mengurangi beban istri,” jawabnya jika ada yang bertanya.

Sama sekali dia tidak pernah menampakkan raut tak senang ketika melakukan hal tersebut. Dia lakukan dengan luwes. Seolah hal demikian adalah sesuatu yang sangat biasa baginya.

Tidak ada yang aneh dari Rey. Semua berjalan mulus. Sampai pada minggu ke dua. Orang-orang mulai bertanya-tanya tentang sosok istrinya. Bayangkan, selama dua minggu sejak hari kedatangan, sekalipun mereka belum melihat sosok istri yang amat beruntung itu. Sesosok perempuan seperti apa yang mendapatkan lelaki yang rela berpanas-panasan demi mengantri tabung gas walau barisan sedang mengular.

“Istriku sulit bersosialisasi. Susah bergaul sama orang,” Begitu jawabnya jika ada yang bertanya, “Dia lebih senang menghabiskan waktu di kamar dengan menulis,” tutupnya.

Jawaban demikian sudah dia hapal di luar kepala. Baginya, berhasil meyakinkan para penanya tersebut adalah sesuatu yang amat menyenangkan. Moment yang bisa membuatnya tersenyum sepanjang hari.

“Jangan memandangku seperti itu,” katanya sembari mengelus seraut wajah cantik di depannya, “I don’t like.”

Perempuan itu tak punya pilihan untuk menolak sentuhan Rey. Tubuhnya terlalu kaku walau sekadar bergerak.

“Kau ingin menemui mereka, Sayang?”

Perempuan itu tak menjawab. Ia lebih memilih untuk bungkam.

“Ah … Aku yakin kau tidak ingin menemui mereka,” lanjut Rey sembari mengangkat tubuh mungil itu, memindahkannya dari kursi roda ke tempat tidur, “Sekarang waktunya untuk istirahat, Sayang,” tutupnya setelah memberikan kecupan manja di kening.

Sebelum Rey sempat berbalik, tangan perempuan itu telah meraih lengannya, “Ada apa, Sayang?”

“Sampai kapan kau akan melakukan ini, Rey?” Ada nada memelas yang terdengar, “Kau tidak lelah?”

Dengan kasar Rey lepas genggaman perempuan itu. Membiarkannya menggantung di samping tempat tidur.

“Kau tahu aku tidak pernah mencintaimu, Rey. Sama sekali.”

Rey belingsatan. Dia meremas rambutnya. Sesekali jemarinya menyentuh hidung untuk menghilangkan rasa gugup.

“Kau hanya buang-buang waktu melakukan semua ini, Rey.”

“Diam!” bentaknya.

“Aku tidak akan pernah mencintaimu. Jangan lupa itu, Rey.”

“Kubilang diam!” bentaknya lagi.

Kini kedua tangannya telah mendekam di leher perempuan itu. Bersiap mencekiknya kapan saja.

“Lebih baik kau bunuh saja aku, Rey. Bahkan hidup selamanya denganmu tidak akan membuatku mencintaimu.”

Cengkeramannya di leher perempuan itu semakin mengerat. Tak ada perlawanan. Tak ada pemberontakan. Perempuan itu menyerahkan diri sepenuhnya di tangan Rey. Walau seiring kian erat cengkeraman tangan Rey justru membuatnya tidak sanggup untuk menahan batuk.

Mendengar perempuan yang teramat dicintainya batuk, Rey melenturkan cengkeramannya. Memberi ruang bagi perempuan itu untuk bernafas. Bahkan, dengan tanpa dosa. Seolah bukan dia penyebab perempuan itu kesulitan bernafas, Rey justru memeluk tubuh itu teramat erat, melayangkan ciuman-ciuman lembut, mengelus rambutnya dengan manja.

“Maafkan aku, sayang, maafkan aku,” melasnya berkali-kali, “Aku tidak bermaksud melukaimu. Maafkan aku,” ucapnya tak keruan.

Butir-butir bening mengalir dari sudut mata perempuan itu, tanpa suara ia menangis, mencoba meredam sakit hatinya.

“Seharusnya kau tidak berhenti, Rey, harusnya kau bunuh saja aku. Jika kau bisa dengan mudah merenggut kemampuanku berjalan. Dengan keadaan seperti ini kau harusnya bisa lebih mudah mengambil nyawaku.”

Rey tak acuh. Dia memilih menyelimuti perempuan itu untuk mengalihkan pikirannya dari kejadian malam mengerikan itu. Dimana dia membabi buta memukuli kaki perempuan yang amat dicintainya dengan besi sepanjang satu meter hanya karena cemburu melihat perempuan itu begitu mesra dengan pacarnya.

“Rey.”

“Masih untung hanya kakimu yang kulumpuhkan,” Rey melayangkan sorot mata tajam, suaranya dingin nan datar, “Tadinya aku ingin mencongkel bola matamu sehingga kau tidak bisa lagi melihat foto kekasihmu.”

Mata perempuan itu membulat.

“Kau pikir aku tidak tahu kelakuanmu di belakang? Kau pikir aku tidak tahu kau masih sering mengiriminya kabar. Menanyainya lewat sms. Bercerita tentang betapa menderitanya kau bersamaku?”

Rey mengakhiri acara menyelimuti perempuan itu. Dia melangkah keluar kamar. Tak berapa lama dia kembali lagi sambil membawa sebuah ponsel. Mata perempuan itu semakin menyala.

“Ini ponselnya, bukan?” tanyanya seraya menggoyang-goyang ponsel di tangan, “Kurang dari dua minggu lalu dia meninggal oleh sekawanan perampok.”

“Kau membunuhnya?” Perempuan itu berteriak. Rey hanya tersenyum. “Bajingan kau, Rey. Bajingan!”

Tangis perempuan itu meledak. Bulir-bulir kristak menganak sungai dari bening matanya. Dan Rey tidak sanggup untuk berdiam diri. Dia raih tubuh mungil itu dalam rengkuhnya. Mencoba menenangkan.

“Rey,” lirih perempuan itu.

“Jangan memintaku untuk membunuhmu, karena aku tidak akan melakukan hal segila itu. Selamanya kau akan tetap di sisiku.”

Perempuan itu bungkam. Tanpa perlawanan ia biarkan tubuhnya dalam dekapan Rey. Toh, masa depan dan seluruh kehidupannya mulai kini berada dalam genggaman lelaki itu. Tak ada pilihan untuk terus menolak. Sebab kapan saja lelaki itu bisa melakukan sesuatu di luar nalar manusia.

"Besok kau akan mulai keluar rumah. Menemui mereka yang begitu penasaran terhadap sosok yang telah beruntung karena memilikiku," tutupnya.

Related Posts: