Am Dilan (1)

Am Dilan
By : Finy Arkana
//
(Part 1)
Prolog

Dilan baru saja menancapkan pulpen ke punggung tangan seseorang. Darah segar dan hangat terciprat. Warna merah kental melukisi wajah datar  bak tanpa dosa itu. Ujung bibir kirinya sedikit terangkat. Sorot matanya menghunus tajam, seolah dia sedang berusaha menundukkan cowok seumuran di hadapannya.

“Jangan ganggu aku!” sahutnya sinis, sedikit berbisik.

Dia mendorong kursi hingga terjengkang. Raut wajahnya tanpa ekspresi saat mulai melangkah. Meninggalkan anak cowok yang masih memegangi tangan penuh darah.

“Akan kulaporkan kejadian ini ke polisi, Dilan!” teriak anak cowok itu berang.

Langkah Dilan berhenti. Buku-buku tangannya tertarik, meremas erat gagang pintu.  Rahangnya mengeras. Tanpa balik badan, dia mengeluarkan suara.

“Laporkan saja kalau kau mau merasakan dinginnya lantai penjara.”

Mata anak cowok itu membulat. Sejujurnya ia tak mengerti akan apa yang baru saja didengarnya, namun satu yang pasti, sesuatu yang keluar dari bibir Dilan tidak pernah berakhir menyenangkan. Berbagai kabar angin tentang Dilan cukup untuk menguatkan asumsinya kini. Ia tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Cowok itu masih sibuk berpikir ketika jemari Dilan mulai mengutak-atik layar ponsel. Mencari folder tempatnya menyimpan—hampir—seluruh rekaman anak satu sekolahan. Dari hal paling memalukan sampai video paling mengerikan. Sengaja dilakukannya sebagai benteng jika kejadian seperti sekarang menimpa dirinya. Uang jajannya diminta dengan paksa. Brengsek!

Ujung bibir kiri Dilan kembali terangkat begitu rekaman yang dicarinya menampakkan diri. Langsung dia klik tombol send ke nomor anak cowok itu, kemudian meninggalkannya sendirian di kelas tanpa memberi ucapan perpisahan lebih dulu.

Langkahnya tegas dibumbuhi wajah datar tanpa ekspresi serta kedua tangan terselip ke saku celana seragam SMA. Perpaduan sempurna demi menghasilkan kesan angkuh. Meski demikian, kesan tersebut justru melambungkan namanya. Dia terlahir menjadi sosok misterius di mata anak satu sekolahan.

Dilan tetap berjalan, lehernya tegak sempurna, tidak mempedulikan aksi kaum cewek yang berusaha menarik perhatiannya, tidak juga menghabiskan waktu demi meladeni sindiran-sindiran iri para cowok.

Langkahnya mantap. Ekspresinya tetap datar walau sebenarnya dia begitu tergelitik hingga rasanya ingin tertawa terbahak.  Rasanya melayang mengingat rekaman video pelecehan seksual yang dikirimnya tadi telah berhasil menjatuhkan orang paling ditakuti anak seantero sekolah. Dirinya menang berdiri. Tak ada perlawanan.

Entahlah. Bagi Dilan, ini hari paling mengesankan. Bayangkan, keberhasilannya melukai seseorang hanya dengan sebuah pulpen mungkin tidak akan terulang ke dua kali. Tidak perlu benda tajam, hanya alat tulis. Sesuatu yang hukumnya wajib dimasukkan dalam daftar benda paling tumpul yang pernah digunakannya untuk melukai seseorang.

Tanpa mampu dicegah lebih lama, melengkung juga pelangi di bibir itu.

Related Posts: