Alasan Detak Jantungku

Ia amat berharga dan aku terlalu mencintainya. Namun, ia bosan di sisiku sementara aku yang tak bisa hidup tanpanya. Lalu, pilihan apa yang harus kami pilih untuk tidak saling menyakiti? Ia pergi dan aku terluka ataukah ia tetap tinggal dan rela terluka?

Argh! Itulah mengapa rumus cinta segitiga selalu menyakiti salah satu pihak. Tentu bukan aku. Tidak rela kujalani hidup di atas penderitaan. Juga tidak akan kubiarkan lelaki yang amat kucintai menjalani sisa hidupnya di atas kebahagiaan bersama wanita lain.

"Aku mohon, biarkan aku pergi, Za."

Pisau bedah yang sengaja kubawa pulang dari ruang operasi pagi tadi tengah bermain-main di tanganku. Sama sekali aku belum menyentuhnya tapi lihatlah keringat sebesar biji jagung telah memenuhi pelipisnya.

"Aku masih belum menentukan pilihan, Sayang."

Aku mendekat, membiarkan pisau bedah menari-nari di atas kulit wajahnya.

"Haruskah aku langsung membunuhmu atau hanya merusak wajahmu?" bisikku lembut, "Bukankah perempuan itu hanya tertarik dengan wajah tampan ini?"

Dia mendorongku hingga tubuhku berbenturan dengan tembok. Suatu tenaga yang cukup kuat untuk seseorang di bawah pengaruh anestesi.

Aku mendekatinya lagi seraya berkata, "Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu yang menyenangkanku supaya melepasmu?"

Dia memalingkan wajah. Tak ingin menatap langsung manik mataku. Berusaha menghindar dari amarah yang membakar di dalam sana.

Kusentuh dagu runcingnya kemudian memalingkan wajahnya padaku. Sorot matanya masih memandang ke segala arah, di manapun itu, asal bukan manik mataku.

"Tatap mataku, Rey," Kuakui, ada nada putus asa di dalamnya, "Benarkah kau tidak lagi mencintaiku?"

Tak ada jawaban. Lagi-lagi dia membuang wajahnya.

"Rey," desahku, "Kau tahu aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Tapi kenapa kau malah memilih dia daripada aku, Rey? Kenapa?"

Dia tetap setia dalam kebungkaman. Dan itu sungguh membuatku frustasi. Kedua kalinya, tanganku kembali meraih dagu runcing itu, mengarahkan ke wajahku, kemudian bibirku menyentuh bibirnya. Sekilas. Hanya sekilas. Sebab dia diam saja. Tak ada balasan. Itu seperti aku mencium mayat hidup.

"Kau ingin aku melepasmu?"

Kepalanya bergerak. Untuk pertama kalinya dia memandang langsung ke manik mataku. Menatapku tak percaya.

"Kau begitu mencintainya?" Dia mengangguk, "Kau bahagia dengannya, Rey?"

Binar matanya menyala, ada semangat yang seolah bangkit dari tidur panjang di dalam sana. Dan nyala tersebut seperti menyeretku dalam kehampaan. Aku kehilangan pegangan hidup.

Aku bergerak memutari ranjang tempatnya berbaring. Menambah satu alat operasi di tangan.

"Tapi aku tidak bahagia, Sayang."

Tangan kananku, yang di sana tergenggam erat sebuah gunting, terayun hingga ke atas kepala, lalu mendarat dengan mulus tepat di ulu hati. Dia mengerang. Kesakitan. Perkiraanku tidak meleset. Obat bius mulai menghentikan aktifitas kerjanya.

Aku tak membiarkan gunting itu berlama-lama tertancap di sana. Kucabut dengan perlahan yang berefek pada erangan panjang penuh kesakitan darinya. Satu dua kali terdengar umpatan dari bibirnya. Tak kuhiraukan.

Tepat ketika gunting itu benar-benar meninggalkan tempatnya, menyisakan sebuah lubang kecil, darah pun ikut menyembur. Beberapa percikan bahkan mengenai wajahku.

Dengan sigap tanganku menutup lubang itu. Lalu kembali fokus pada wajahnya. Matanya terpejam. Dia kesakitan. Namun, sebelum benar-benar berakhir, kukecup bibirnya sekali lagi.

"Maafkan aku, Rey."

Kembali tanganku melayang ke atas kepala, kemudian berayun turun, lalu mendarat tepat di dada sebelah kirinya.

Dia tersentak, meski hanya lenguhan kecil yang terdengar.

"Ini adalah jantung yang hanya boleh berdetak untukku, Rey."

Kuelus wajahnya dengan telapak tangan berlumuran darah. Sayup-sayup matanya terbuka. Memandang langsung manik mataku. Lalu, bibirnya melengkung sempurna. Begitu tulus. Senyum yang membuatku jatuh cinta berkali-kali. Senyum yang membuatku tidak mampu hidup tanpa melihatnya melengkung.

Tanpa sadar aku menggerakkan tangan kiri, menatap sekilas pisau bedah yang masih setia berdiam diri di sana, kemudian tanpa keraguan kutancapkan benda itu ke dada sebelah kiri. Tepat di jantung.

Bukan tanpa alasan aku melakukannya, hanya ingin menghentikan detakannya, sebab alasan detak jantungku telah tiada.

Related Posts: