Am Dilan (2)


By : Finy Arkana
//
Part 2

Telapak tangannya bergerak lambat untuk menghapus embun yang menempeli kaca kamar mandi, menampilkan sosok tinggi berkulit kuning langsat. Senyumnya melengkung sempurna, hingga terpahat sebuah lesung pipit di sebelah kiri. Dagu runcingnya tertarik ke bawah. Bola mata coklat yang dibingkai alis tebal itu menatap tajam pantulan dirinya.

“Sempurna.”

Sesuatu yang tak terelakkan dari Dilan adalah memiliki kepercayaan diri teramat tinggi.

Kebiasaan memandangi pantulan diri yang masih menetes butir-butir air adalah suatu ritual yang wajib dilakukan setelah mandi. Tujuannya satu, hanya demi melempar pujian pada diri sendiri. Ada kepuasan tersendiri setelah melakukannya.

Dilan menyeret langkah menuju kamar, membuka pintu lemari, mengambil kaos berwarna coklat yang dipadu dengan jeans selutut. Setelahnya, dia mengempaskan diri di atas kursi putar. Mengambil buku catatan yang berisi daftar benda yang pernah digunakannya untuk melukai seseorang ataupun binatang.

Jemarinya menari-nari sekejap. Menuliskan satu nama benda.

‘Pulpen’.

Kemudian, secara perlahan dia menutupnya lalu menyimpan dengan hati-hati buku tersebut ke tempat semula setelah menciumnya terlebih dahulu.

Bersamaan dengan itu, dering ponselnya berteriak, pertanda sebuah pesan baru masuk.

“Guru BK?” Keningnya mengkerut mendapati nama si pengirim adalah konselor sekolah, “Besok pagi ibu tunggu di ruang konseling sebelum kelas dimulai.”

Ogah-ogahan Dilan membalas, “Baik, Bu.”

Tepat ketika dia akan meletakkan ponsel. Kembali dering telepon berbunyi, kali ini datangnya dari Zee yang baru saja mengirim pesan di grup chat khusus kelas XI Ipa 1.

Matanya membulat usai membaca.

“Yugo meninggal?” sahutnya sedikit berbisik.

Jantungnya berpacu tak sebagaimana harusnya. Melaju lebih cepat. Dengan cepat jemari lentik itu menekan keyboard ponsel. Mengirim ucapan terima kasih karena telah memberi kabar. Sesuatu yang jarang dilakukannya.

“Padahal hanya kutusuk pulpen.” Ukiran di bibirnya melengkung sempurna, “Kok bisa meninggal?” lanjutnya bertanya-tanya.

Namun, harus Dilan akui bahwa kabar yang baru saja mampir di ponselnya berhasil melambungkan angannya hingga rasanya ingin terbang ke awan-awan.

Related Posts:

Elegi kematian


By : Finy Arkana

Bulir-bulir bening mengalir dari sudut matanya. Punggungnya bergetar. Sesekali terdengar sesenggukan keluar dari bibirnya. Ia memeluk erat tubuh tak bernyawa itu.

"Ale," desah pemuda itu.

Tangannya bergerak mengambil gayung untuk membersihkan sisa-sisa darah di kulit wajah yang tergambar nyata raut ketakutan di sana.

"Senyum, Sayang, senyum."

Jari telunjuknya bergerak-gerak lembut menyentuh bibir tipis itu.

"Di mana senyummu?" lanjutnya.

Sekilas bibirnya menyentuh bibir yang sudah berwarna pekat milik perempuannya. Kemudian menarik diri, menjauh.

Ia menyeret langkah. Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di ruang kerja, kemudian mengempaskan diri di atas kursi putar nan empuk. Tanpa menunggu lama, jemarinya lincah menari-nari di atas tuts laptop. Beberapa menit selanjutnya rekaman cctv telah bermain-main di depan mata.

"Ah ... Bagian ini tertutup. Brengsek!!" makinya seraya menekan tombol pause.

Berulang kali ia memperbesar kemudian memperkecil gambar di layar laptop. Berkali-kali ia putar untuk mengamati dengan seksama hasil rekaman cctv.

Buku tangannya membentuk sebuah tinju hingga tertarik urat-uratnya. Rahangnya mengeras.

"Sial!" umpatnya kesal.

Hasil yang ia dapat dari rekaman cctv tidak sesuai harapan. Banyak bagian tertutup. Tusukan ujung pisau yang runcing di bagian perut wanitanya tidak terlihat jelas, tertutup oleh punggung tubuh kokoh. Hanya cipratan darah yang terlihat menyebar ke dinding putih. Menempel di kaca. Menandakan betapa dalam tusukan itu.

Ia lanjut menonton. Kali ini amarahnya benar-benar terpancing. Tinjunya menghantam meja hingga menghasilkan suara bergema. Bagaimana tidak, untuk ke dua kalinya, ia tidak dapat melihat ketika bagian leher perempuannya bersatu dengan ujung pisau yang runcing.

Hanya cipratan cairan kental yang berhasil tertangkap kamera. Sungguh. Ia frustasi akan hasil rekaman.

Dengan sedikit mengentak. Ia menyeret langkah menuju kamar mandi. Begitu pintu terkuak, bau anyir langsung menyambut, menusuk hidung. Cairan merah kental menyatu dengan bening air kran yang sengaja dibiarkan mengalir tanpa wadah.

Ia langsung menarik tubuh perempuannya dalam dekap.

"Maafkan aku, Sayang," ucapnya frustasi, "Hasil video kita tidak mengesankan sama sekali. Banyak adegan yang tertutup punggungku. Haruskah kita ulangi??"

Jemarinya membelai lembut pipi yang telah hilang ronanya, seraya berkata, "Tapi aku sudah terlalu banyak melukai tubuhmu, Sayang."

Kembali, punggungnya bergetar menahan tangis melihat tubuh perempuannya luka habis-habisan sementara ia tidak mendapat hasil rekaman yang sama sekali jauh dari kata sempurna.

Related Posts:

Am Dilan (1)

Am Dilan
By : Finy Arkana
//
(Part 1)
Prolog

Dilan baru saja menancapkan pulpen ke punggung tangan seseorang. Darah segar dan hangat terciprat. Warna merah kental melukisi wajah datar  bak tanpa dosa itu. Ujung bibir kirinya sedikit terangkat. Sorot matanya menghunus tajam, seolah dia sedang berusaha menundukkan cowok seumuran di hadapannya.

“Jangan ganggu aku!” sahutnya sinis, sedikit berbisik.

Dia mendorong kursi hingga terjengkang. Raut wajahnya tanpa ekspresi saat mulai melangkah. Meninggalkan anak cowok yang masih memegangi tangan penuh darah.

“Akan kulaporkan kejadian ini ke polisi, Dilan!” teriak anak cowok itu berang.

Langkah Dilan berhenti. Buku-buku tangannya tertarik, meremas erat gagang pintu.  Rahangnya mengeras. Tanpa balik badan, dia mengeluarkan suara.

“Laporkan saja kalau kau mau merasakan dinginnya lantai penjara.”

Mata anak cowok itu membulat. Sejujurnya ia tak mengerti akan apa yang baru saja didengarnya, namun satu yang pasti, sesuatu yang keluar dari bibir Dilan tidak pernah berakhir menyenangkan. Berbagai kabar angin tentang Dilan cukup untuk menguatkan asumsinya kini. Ia tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Cowok itu masih sibuk berpikir ketika jemari Dilan mulai mengutak-atik layar ponsel. Mencari folder tempatnya menyimpan—hampir—seluruh rekaman anak satu sekolahan. Dari hal paling memalukan sampai video paling mengerikan. Sengaja dilakukannya sebagai benteng jika kejadian seperti sekarang menimpa dirinya. Uang jajannya diminta dengan paksa. Brengsek!

Ujung bibir kiri Dilan kembali terangkat begitu rekaman yang dicarinya menampakkan diri. Langsung dia klik tombol send ke nomor anak cowok itu, kemudian meninggalkannya sendirian di kelas tanpa memberi ucapan perpisahan lebih dulu.

Langkahnya tegas dibumbuhi wajah datar tanpa ekspresi serta kedua tangan terselip ke saku celana seragam SMA. Perpaduan sempurna demi menghasilkan kesan angkuh. Meski demikian, kesan tersebut justru melambungkan namanya. Dia terlahir menjadi sosok misterius di mata anak satu sekolahan.

Dilan tetap berjalan, lehernya tegak sempurna, tidak mempedulikan aksi kaum cewek yang berusaha menarik perhatiannya, tidak juga menghabiskan waktu demi meladeni sindiran-sindiran iri para cowok.

Langkahnya mantap. Ekspresinya tetap datar walau sebenarnya dia begitu tergelitik hingga rasanya ingin tertawa terbahak.  Rasanya melayang mengingat rekaman video pelecehan seksual yang dikirimnya tadi telah berhasil menjatuhkan orang paling ditakuti anak seantero sekolah. Dirinya menang berdiri. Tak ada perlawanan.

Entahlah. Bagi Dilan, ini hari paling mengesankan. Bayangkan, keberhasilannya melukai seseorang hanya dengan sebuah pulpen mungkin tidak akan terulang ke dua kali. Tidak perlu benda tajam, hanya alat tulis. Sesuatu yang hukumnya wajib dimasukkan dalam daftar benda paling tumpul yang pernah digunakannya untuk melukai seseorang.

Tanpa mampu dicegah lebih lama, melengkung juga pelangi di bibir itu.

Related Posts:

Kejutan

Matanya nyalang melihat tumpukan gambar yang satu jam lalu mampir di rumahnya. Buku-buku tangannya tertarik, membentuk sebuah tinju. Lututnya gemetar. Jantungnya berpacu tak keruan.

"Siapa pengirimnya?" desahnya frustasi.

Di ruang  berukuran tiga kali empat itu, dia melangkah bak setrikaan. Ke sana ke mari demi menghindari rasa cemas. Khawatir gambar tersebut juga dipaketkan ke istrinya.

Detak jantungnya semakin melaju saat dering handpone berteriak dalam genggaman. Dengan tangan dingin dan gemetar , ragu-ragu dia tekan tombol berwarna hijau.

"Kau selingkuh?"

Fiuh! Dua kata tanya itu langsung tersambut di telinga sebelum sempat mengeluarkan jurusnya. Rayuan gombal yang selama ini mengalir indah dari bibir untuk sang istri tidak lagi berfungsi. Lidahnya keluh.

"Sayang ... Aku bisa menjelaskan. Aku ...."

"Kau sudah tahu konsekuensinya, kan?" Suara di seberang sana terdengar datar, "20 menit aku sampai rumah."

Klik! Panggilan telepon dimatikan sepihak.

Dia makin gusar. Meremas rambut demi mencari jalan keluar. Bersamaan dengan itu, matanya bertumbukan dengan tali. Tak ada pilihan. Dia tahu sifat istrinya. Daripada hidup menanggung malu, lebih baik berakhir dengan kesakitan.

Dia kaitkan tali sepanjang tiga meter itu ke sebatang balok di langit rumah. Menjulurkan kepalanya ke dalam, lalu mendorong kursi yang dipijaknya dengan kaki. Tubuhnya telah bergelantungan.

Tak berselang lama, terdengar deru mobil memasuki halaman rumah. Selanjutnya, yang terdengar hanya derap langkah kaki. Semakin dekat. Lalu, daun pintu kamar bergerak lambat, memuntahkan tubuh istrinya.

Meski udara kian sulit masuk ke paru-paru, masih sempat terlihat lengkungan sempurna di bibir istrinya. Walau tak ada suara keluar dari bibir merah itu, dia merasakan hawa mulai mencekam. Mata istrinya berkilat.

Lantas dilihatnya sang istri mengambil benda tajam dari laci meja. Dia pastikan itu pisau. Ujungnya runcing.

Istrinya mendekat. Meraih kursi yang dipijaknya tadi. Kakinya terayun ke atas kursi hingga menopang seluruh tubuhnya.

Tangan istrinya bergerak ke atas kepala. Menyabet tali hingga putus. Tubuhnya pun jatuh berdebum. Menyatu dengan lantai.

"Mau bunuh diri?" Nafas istrinya terasa hangat di telinga, "Tidak akan semudah itu, Sayang!" lanjutnya sinis.

Nafas kian tercekat di tenggorokan. Dia semakin sulit menghirup udara. Bibirnya pucat tanpa darah. Keringat dingin mengucur begitu sang istri yang notabene seorang jurnalis, memperlihatkan selebaran koran dengan headline 'Telah Beredar Foto-Foto Panas Seorang Direktur Perusahaan Berinisial M Bersama Selingkuhan'.

Detak jantungnya semakin tak keruan ketika matanya bertumbukan dengan gambar panas yang memperindah tampilan koran pagi ini. Meski sedikit blur, orang terdekatnya pasti tahu itu dia. Guntingan rambut disertai cat berwarna coklat tua khas dirinya tercetak jelas.

"Kamu tidak penasaran siapa pengirim paket itu?"

Istrinya mengutak-atik handphone, memperlihatkan isi chatting via BBM. Matanya membulat. Pengirimnya adalah selingkuhannya sendiri. Dia terbatuk. Sulit rasanya menelan ludah untuk membahasi tenggorokan.

"Tidak perlu seterkejut itu, Sayang. Kurasa kau sendiri juga tahu, selingkuhan hanya butuh uang. Harga diri tidak begitu penting."

Kepalanya pening. Sulit baginya mencerna semua fakta yang datang bertubi-tubi. Hal tersebut menyulitkan tubuhnya untuk bergerak. Apalagi ketika istrinya dengan santai menancapkan pisau di perut. Rasanya ngilu ketika benda tajam itu mengiris kulit, menembus bagian dalam perut. Percikan darah kental nan hangat terciprak di wajah istrinya. Dan, tubuhnya lunglai tak bertenaga.

"Sudah seminggu berlalu sejak dia mengirimnya ke aku. Maaf ya, Sayang, aku lambat memberimu kejutan."

Dalam pejam, dirasakannya tangan istrinya yang terbungkus handskun mengarahkan tangannya untuk menggenggam pisau yang tertancap di perut.

Usai melakukan hal demikian. Derap langkah istrinya terdengar menjauh. Sebelum gelap benar-benar mengambil alih kesadarannya, sayup-sayup terdengar suara istrinya dari kejauhan.

"Halo ... Cepat kirim ambulance ka Jalan Merpati No 12 B. Suami saya mencoba melakukan bunuh diri."

Mimiknya dibuat gusar, seolah penuh rasa takut. Ah, inilah kejutan tak terlupakan.

Related Posts:

Bunuh Saja Aku

Rey, namanya. Seorang lelaki yang pagi-pagi buta memindahkan barang-barang ke sebuah rumah di perkampungan sudut kota. Dia sosok yang mengagumkan dengan kepribadian ramah. Bertubuh tinggi diimbangi wajah yang bisa membuat siapa saja tertarik dalam sekali pandang. Dia tampan.

Seminggu pertama sejak kedatangannya, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk membeli bahan makanan, perlengkapan dapur, bahkan sesekali ada yang melihatnya membersihkan halaman rumah.

“Hitung-hitung mengurangi beban istri,” jawabnya jika ada yang bertanya.

Sama sekali dia tidak pernah menampakkan raut tak senang ketika melakukan hal tersebut. Dia lakukan dengan luwes. Seolah hal demikian adalah sesuatu yang sangat biasa baginya.

Tidak ada yang aneh dari Rey. Semua berjalan mulus. Sampai pada minggu ke dua. Orang-orang mulai bertanya-tanya tentang sosok istrinya. Bayangkan, selama dua minggu sejak hari kedatangan, sekalipun mereka belum melihat sosok istri yang amat beruntung itu. Sesosok perempuan seperti apa yang mendapatkan lelaki yang rela berpanas-panasan demi mengantri tabung gas walau barisan sedang mengular.

“Istriku sulit bersosialisasi. Susah bergaul sama orang,” Begitu jawabnya jika ada yang bertanya, “Dia lebih senang menghabiskan waktu di kamar dengan menulis,” tutupnya.

Jawaban demikian sudah dia hapal di luar kepala. Baginya, berhasil meyakinkan para penanya tersebut adalah sesuatu yang amat menyenangkan. Moment yang bisa membuatnya tersenyum sepanjang hari.

“Jangan memandangku seperti itu,” katanya sembari mengelus seraut wajah cantik di depannya, “I don’t like.”

Perempuan itu tak punya pilihan untuk menolak sentuhan Rey. Tubuhnya terlalu kaku walau sekadar bergerak.

“Kau ingin menemui mereka, Sayang?”

Perempuan itu tak menjawab. Ia lebih memilih untuk bungkam.

“Ah … Aku yakin kau tidak ingin menemui mereka,” lanjut Rey sembari mengangkat tubuh mungil itu, memindahkannya dari kursi roda ke tempat tidur, “Sekarang waktunya untuk istirahat, Sayang,” tutupnya setelah memberikan kecupan manja di kening.

Sebelum Rey sempat berbalik, tangan perempuan itu telah meraih lengannya, “Ada apa, Sayang?”

“Sampai kapan kau akan melakukan ini, Rey?” Ada nada memelas yang terdengar, “Kau tidak lelah?”

Dengan kasar Rey lepas genggaman perempuan itu. Membiarkannya menggantung di samping tempat tidur.

“Kau tahu aku tidak pernah mencintaimu, Rey. Sama sekali.”

Rey belingsatan. Dia meremas rambutnya. Sesekali jemarinya menyentuh hidung untuk menghilangkan rasa gugup.

“Kau hanya buang-buang waktu melakukan semua ini, Rey.”

“Diam!” bentaknya.

“Aku tidak akan pernah mencintaimu. Jangan lupa itu, Rey.”

“Kubilang diam!” bentaknya lagi.

Kini kedua tangannya telah mendekam di leher perempuan itu. Bersiap mencekiknya kapan saja.

“Lebih baik kau bunuh saja aku, Rey. Bahkan hidup selamanya denganmu tidak akan membuatku mencintaimu.”

Cengkeramannya di leher perempuan itu semakin mengerat. Tak ada perlawanan. Tak ada pemberontakan. Perempuan itu menyerahkan diri sepenuhnya di tangan Rey. Walau seiring kian erat cengkeraman tangan Rey justru membuatnya tidak sanggup untuk menahan batuk.

Mendengar perempuan yang teramat dicintainya batuk, Rey melenturkan cengkeramannya. Memberi ruang bagi perempuan itu untuk bernafas. Bahkan, dengan tanpa dosa. Seolah bukan dia penyebab perempuan itu kesulitan bernafas, Rey justru memeluk tubuh itu teramat erat, melayangkan ciuman-ciuman lembut, mengelus rambutnya dengan manja.

“Maafkan aku, sayang, maafkan aku,” melasnya berkali-kali, “Aku tidak bermaksud melukaimu. Maafkan aku,” ucapnya tak keruan.

Butir-butir bening mengalir dari sudut mata perempuan itu, tanpa suara ia menangis, mencoba meredam sakit hatinya.

“Seharusnya kau tidak berhenti, Rey, harusnya kau bunuh saja aku. Jika kau bisa dengan mudah merenggut kemampuanku berjalan. Dengan keadaan seperti ini kau harusnya bisa lebih mudah mengambil nyawaku.”

Rey tak acuh. Dia memilih menyelimuti perempuan itu untuk mengalihkan pikirannya dari kejadian malam mengerikan itu. Dimana dia membabi buta memukuli kaki perempuan yang amat dicintainya dengan besi sepanjang satu meter hanya karena cemburu melihat perempuan itu begitu mesra dengan pacarnya.

“Rey.”

“Masih untung hanya kakimu yang kulumpuhkan,” Rey melayangkan sorot mata tajam, suaranya dingin nan datar, “Tadinya aku ingin mencongkel bola matamu sehingga kau tidak bisa lagi melihat foto kekasihmu.”

Mata perempuan itu membulat.

“Kau pikir aku tidak tahu kelakuanmu di belakang? Kau pikir aku tidak tahu kau masih sering mengiriminya kabar. Menanyainya lewat sms. Bercerita tentang betapa menderitanya kau bersamaku?”

Rey mengakhiri acara menyelimuti perempuan itu. Dia melangkah keluar kamar. Tak berapa lama dia kembali lagi sambil membawa sebuah ponsel. Mata perempuan itu semakin menyala.

“Ini ponselnya, bukan?” tanyanya seraya menggoyang-goyang ponsel di tangan, “Kurang dari dua minggu lalu dia meninggal oleh sekawanan perampok.”

“Kau membunuhnya?” Perempuan itu berteriak. Rey hanya tersenyum. “Bajingan kau, Rey. Bajingan!”

Tangis perempuan itu meledak. Bulir-bulir kristak menganak sungai dari bening matanya. Dan Rey tidak sanggup untuk berdiam diri. Dia raih tubuh mungil itu dalam rengkuhnya. Mencoba menenangkan.

“Rey,” lirih perempuan itu.

“Jangan memintaku untuk membunuhmu, karena aku tidak akan melakukan hal segila itu. Selamanya kau akan tetap di sisiku.”

Perempuan itu bungkam. Tanpa perlawanan ia biarkan tubuhnya dalam dekapan Rey. Toh, masa depan dan seluruh kehidupannya mulai kini berada dalam genggaman lelaki itu. Tak ada pilihan untuk terus menolak. Sebab kapan saja lelaki itu bisa melakukan sesuatu di luar nalar manusia.

"Besok kau akan mulai keluar rumah. Menemui mereka yang begitu penasaran terhadap sosok yang telah beruntung karena memilikiku," tutupnya.

Related Posts:

Survey Pembaca

Setelah membaca komentar-komentar pembaca di setiap postingan. Ada beberapa yang dengan blak-blakan menyampaikan unek-uneknya. Ada yang ingin penulis hanya menyajikan tulisan sekadar teror yang mengubek-ubek emosi pembaca, ada yang ingin tingkat kesadisannya lebih ditingkatkan, ada yang ingin penulis untuk tidak menyajikan suatu kesadisan.
Nah, menurut anda, setelah membaca beberapa tulisan Finy Arkana, teknik penyajian seperti apa yang paling menarik dan berkesan.
Apakah yang hanya sekedar teror yang mengubek-ubek emosi pembaca?
Ataukah yang menyajikan kisah berdarah yang mengubek perut pembaca.
...
Terima kasih atas partisipasinya.
Kritik dan saran sangat membantu untuk pengembangan tulisan berikutnya.


Related Posts:

Alasan Detak Jantungku

Ia amat berharga dan aku terlalu mencintainya. Namun, ia bosan di sisiku sementara aku yang tak bisa hidup tanpanya. Lalu, pilihan apa yang harus kami pilih untuk tidak saling menyakiti? Ia pergi dan aku terluka ataukah ia tetap tinggal dan rela terluka?

Argh! Itulah mengapa rumus cinta segitiga selalu menyakiti salah satu pihak. Tentu bukan aku. Tidak rela kujalani hidup di atas penderitaan. Juga tidak akan kubiarkan lelaki yang amat kucintai menjalani sisa hidupnya di atas kebahagiaan bersama wanita lain.

"Aku mohon, biarkan aku pergi, Za."

Pisau bedah yang sengaja kubawa pulang dari ruang operasi pagi tadi tengah bermain-main di tanganku. Sama sekali aku belum menyentuhnya tapi lihatlah keringat sebesar biji jagung telah memenuhi pelipisnya.

"Aku masih belum menentukan pilihan, Sayang."

Aku mendekat, membiarkan pisau bedah menari-nari di atas kulit wajahnya.

"Haruskah aku langsung membunuhmu atau hanya merusak wajahmu?" bisikku lembut, "Bukankah perempuan itu hanya tertarik dengan wajah tampan ini?"

Dia mendorongku hingga tubuhku berbenturan dengan tembok. Suatu tenaga yang cukup kuat untuk seseorang di bawah pengaruh anestesi.

Aku mendekatinya lagi seraya berkata, "Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu yang menyenangkanku supaya melepasmu?"

Dia memalingkan wajah. Tak ingin menatap langsung manik mataku. Berusaha menghindar dari amarah yang membakar di dalam sana.

Kusentuh dagu runcingnya kemudian memalingkan wajahnya padaku. Sorot matanya masih memandang ke segala arah, di manapun itu, asal bukan manik mataku.

"Tatap mataku, Rey," Kuakui, ada nada putus asa di dalamnya, "Benarkah kau tidak lagi mencintaiku?"

Tak ada jawaban. Lagi-lagi dia membuang wajahnya.

"Rey," desahku, "Kau tahu aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Tapi kenapa kau malah memilih dia daripada aku, Rey? Kenapa?"

Dia tetap setia dalam kebungkaman. Dan itu sungguh membuatku frustasi. Kedua kalinya, tanganku kembali meraih dagu runcing itu, mengarahkan ke wajahku, kemudian bibirku menyentuh bibirnya. Sekilas. Hanya sekilas. Sebab dia diam saja. Tak ada balasan. Itu seperti aku mencium mayat hidup.

"Kau ingin aku melepasmu?"

Kepalanya bergerak. Untuk pertama kalinya dia memandang langsung ke manik mataku. Menatapku tak percaya.

"Kau begitu mencintainya?" Dia mengangguk, "Kau bahagia dengannya, Rey?"

Binar matanya menyala, ada semangat yang seolah bangkit dari tidur panjang di dalam sana. Dan nyala tersebut seperti menyeretku dalam kehampaan. Aku kehilangan pegangan hidup.

Aku bergerak memutari ranjang tempatnya berbaring. Menambah satu alat operasi di tangan.

"Tapi aku tidak bahagia, Sayang."

Tangan kananku, yang di sana tergenggam erat sebuah gunting, terayun hingga ke atas kepala, lalu mendarat dengan mulus tepat di ulu hati. Dia mengerang. Kesakitan. Perkiraanku tidak meleset. Obat bius mulai menghentikan aktifitas kerjanya.

Aku tak membiarkan gunting itu berlama-lama tertancap di sana. Kucabut dengan perlahan yang berefek pada erangan panjang penuh kesakitan darinya. Satu dua kali terdengar umpatan dari bibirnya. Tak kuhiraukan.

Tepat ketika gunting itu benar-benar meninggalkan tempatnya, menyisakan sebuah lubang kecil, darah pun ikut menyembur. Beberapa percikan bahkan mengenai wajahku.

Dengan sigap tanganku menutup lubang itu. Lalu kembali fokus pada wajahnya. Matanya terpejam. Dia kesakitan. Namun, sebelum benar-benar berakhir, kukecup bibirnya sekali lagi.

"Maafkan aku, Rey."

Kembali tanganku melayang ke atas kepala, kemudian berayun turun, lalu mendarat tepat di dada sebelah kirinya.

Dia tersentak, meski hanya lenguhan kecil yang terdengar.

"Ini adalah jantung yang hanya boleh berdetak untukku, Rey."

Kuelus wajahnya dengan telapak tangan berlumuran darah. Sayup-sayup matanya terbuka. Memandang langsung manik mataku. Lalu, bibirnya melengkung sempurna. Begitu tulus. Senyum yang membuatku jatuh cinta berkali-kali. Senyum yang membuatku tidak mampu hidup tanpa melihatnya melengkung.

Tanpa sadar aku menggerakkan tangan kiri, menatap sekilas pisau bedah yang masih setia berdiam diri di sana, kemudian tanpa keraguan kutancapkan benda itu ke dada sebelah kiri. Tepat di jantung.

Bukan tanpa alasan aku melakukannya, hanya ingin menghentikan detakannya, sebab alasan detak jantungku telah tiada.

Related Posts:

Psycho PMS

Perempuan adalah spesies yang bisa kapan saja berubah menjadi manusia psikopat ketika sedang PMS, setidaknya itu menurutku.

"Kamu mengganggu cewek PMS, itu sama saja menggali kuburan sendiri. Nyari mati."

Demikian orang-orang berceloteh, walau ada sebagian dari mereka yang sedikit hiperbolis.

"Cewek PMS kalau nabrak tembok, temboknya yang roboh."

Tak kusangkal, juga tidak ada penerimaan sepenuhnya dariku. Ketika sedang PMS, kaum perempuan memang kadang menjadi lebih sensitif, mudah marah, sedih tiba-tiba, atau berbagai gejala psikis yang ditandai dengan bergantinya emosi secara tiba-tiba, bahkan berlebihan.

Aku melirik jam tangan untuk kedua kalinya, lalu mengembuskan nafas kasar. Jika saja Rio-pacarku-tidak terlambat menjemput pagi tadi, kupastikan sekarang aku sudah tiba di rumah dan tiduran di atas kasur empuk. Bukan melewatkan jam makan siang dan rela mengantri demi sebuah jam tangan edisi terbatas seperti sekarang.

Sesekali kusentuh perut yang terasa nyeri dan  pinggang yang serasa ingin lepas. Semakin kutekan perut bagian bawah, semakin hebat rasa sakit yang terasa.

Tak hanya itu, tepat ketika tiba giliranku melakukan transaksi jual beli, keringat dingin mulai menjalari seluruh tubuh. Nyeri yang tadinya hanya di bagian perut bawah dan pinggang, kini merambat hingga ke punggung, paha, dan betis. Dalam hati aku mengeluh, jelas ini penyiksaan yang harus dihadapi perempuan setiap bulan.

"Keren nggak jam tangannya?" tanya Rio riang begitu melihatku keluar dari baris antrian.

Kulirik dia sekilas. Tanpa senyum.

"Kalau nggak keren, mana mungkin aku rela ngantri berjam-jam," jawabku ketus.

"Sensitif amat," lirihnya.

Aku menghentikan langkah. Menatapnya tajam.

"Kamu bilang apa tadi?"

"Aku bilang, hari ini kamu cantiiiiiikkk banget."

"Jadi kemarin-kemarin aku nggak cantik? Hari ini doang?"

"Bukan gitu, Sayang," Rio menggaruk-garuk kepalanya, "kemarin-kemarin kamu cantik. Hari ini juga. Besok juga tetap cantik."

Barangkali karena rasa nyeri yang tak tertahankan, sehingga aku tidak mampu menanggapi pujian Rio walau sekadar menyunggingkan bibir.

"Kita pulang."

Rio mengiyakan.

Sepanjang perjalanan dia begitu berisik, terlalu banyak berceloteh tentang ini-itu yang menurutku tidak penting sama sekali. Entahlah. Dia menjadi amat menyebalkan hari ini. Satu dua kali aku menyuruhnya untuk diam. Dia melaksanakan perintahku, tapi hanya bertahan beberapa menit, setelah itu dia kembali menumpahkan buah pikirannya.

Aku tidak tahan lagi. Nyeri yang makin gencar menusuk-nusuk dan dikolaborasikan dengan celotehan Rio, menstimulasi otakku untuk berpikir cepat. Tanpa sadar tanganku meraih pisau lipat dari tas.

"Kamu pilih diem atau benda ini merusak kulitmu?" ancamku dingin seraya mendekatkan pisau tersebut ke wajahnya.

"Bercandanya jangan pakai benda tajam dong, Sayang. Nanti bisa melukai orang loh." Ada tawa hambar mengakhiri kalimatnya.

Secepat kilat tanganku terayun ke lengannya, menggores dengan cekatan, meninggalkan beberapa centi bekas pisau di sana. Rio mengerang kesakitan. Perlahan, bekas sabetan itu mulai mengeluarkan darah, mengalir, kemudian menyajikan pemandangan mengerikan. Tetesan-tetesan darahnya jatuh tepat di atas celana putih miliknya.

"Kamu apa-apaan sih?!" bentaknya.

"Kamu membentakku?"

Mungkin Rio lupa bahwa aku adalah orang yang paling benci mendengar bentakan. Hal tersebut kembali memancing keinginanku untuk memberinya pelajaran.

Terlihat lengan kiri itu menganggur di sisi tubuhnya. Darah tak henti mengalir. Tanpa aba-aba tanganku bergerak meraih lengannya. Memegangnya erat.

Rio memberontak. Berusaha menarik lengannya. Entah karena sedang terluka atau disebabkan genggamanku yang begitu erat, hingga dia tidak mampu menyelamatkan diri. Lengannya masih dalam genggamanku ketika dia membagi tenaga untuk mengarahkan kemudi mobil.

Kegunakan kesempatan itu untuk menggerakkan pisau yang tadi telah melukai lengannya. Mendarat persis ke hasil sabetan yang sama demi menambah kedalaman lukanya, menambah rasa sakitnya hingga berkali-kali lipat.

Rio berteriak. Dia mengerang kesakitan. Dan entah kenapa itu seperti pertunjukan komedi yang terasa sangat menyenangkan bagiku. Dalam sekejap tawaku meledak. Sementara Rio hanya menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Hanya saja, aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Dia menghentikan mobil, kemudian menyuruhku turun, namun kutolak mentah-mentah. Hal itu membuatnya berang hingga memilih untuk turun dari mobil, berputar, lalu dengan kasar membuka daun pintu di sampingku. Dia menarikku dengan kasar. Mendorong tubuhku jauh-jauh.

Sempat aku tersentak dengan perlakuannya. Dia bukan Rio yang lembut. Entah kenapa, aku merasa sedih untuk itu, terlebih ketika mobilnya mulai meninggalkanku di belakang. Sendirian.

Ada air mata yang tak kuketahui dari mana datangnya. Aku mencoba menahan untuk tidak menangis. Tapi tiap butirnya terus mengalir. Tak tertahankan.

Aku kehilangan dia.

Related Posts:

Dunia Psikopat

Republik Finnynesia sengaja dihadirkan bagi anda pecinta bacaan bergenre psikopat dengan berbagai macam kisah yang menyajikan kesadisannya masing-masing. Namun, sebelum melangkah lebih jauh mengenai Republik Finnynesia, alangkah baiknya bagi kita untuk mengenali dunia psikopat.

Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Jadi, psikopat artinya penyakit jiwa. Pengidapnya sering disebut sosiopat, karena perilakunya anti social dan merugikan orang-orang terdekatnya.

Psikopat bukanlah orang gila karena mereka sadar sepenuhnya atas perbuatannya.  Gejalanya sendiri sering disebut psikopati, pengidapnya seringkali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Dalam kasus criminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Selanjutnya adalah pribadi berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa.

Seorang ahli psikopati dunia yang menjadi guru besar di Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada bernama  Robert D. Hare telah melakukan peneletian psikopat sekitar 25 tahun. Ia berpendapat bahwa seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balikkan fakta, menebar fitnah, dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri.

Psikopat biasanya memiliki IQ tinggi atau genius. Memiliki pengetahuan luas. Sering berbohong, fasih, dan dangkal. Egosentris dan menganggap dirinya hebat. Tidak punya rasa sesal dan bersalah. Kadang-kadang psikopat mengakui perbuatannya, namua ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli. Senang melakukan pelanggaran di waktu kecil. (Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Psikopat).

Nah, setelah menelusuri dunia psikopat, kita kembali ke Republik Finnynesia yang merupakan bagian dari dunia psikopat.

Republik Finnynesia itu sendiri dikelola oleh seorang perempuan bernama Finy Arkana, pemilik Fanspage ‘Finy Arkana Kingdom’, sebuah halaman Facebook sebagai wadah untuk menampung karya-karyanya.

Republik Finnynesia sangatlah berbeda dengan negara lain. Ini adalah negara yang bisa jadi membuat bulu kuduk bergoyang. Menghadirkan banyak kasus yang pada intinya menyayat tubuh korban.

Tak perlu banyak celoteh, hanya ingin mengucapkan,

“Wellcome in Psikopat Kingdom.”

Related Posts:

Jangan Sentuh Lelakiku


Oleh ; Finy Arkana
Tidak jauh dari tempatku berdiri. Tak sengaja terdengar suara seolah membisik, samar-samar. Sekilas aku melirik, seorang perempuan sedang berusaha berbicara pada lelakiku. Karena penasaran, aku pasang telinga dengan baik, menajamkan pendengaran.
"Jangan nikahi dia. Pikirkan lagi, Mas," katanya.
"Kenapa?"
"Dia egois."
"Egois? Maksudmu?" Kening lelakiku mengkerut.
"Masa dia harus menyuruhmu minta maaf sampai segitunya."
Aku memang pernah menyuruh lelakiku meminta maaf dengan cara yang berbeda dari orang lain. Mungkin menurut mereka itu di luar batas wajar. Tak masuk akal. Namun, bagiku itu sah-sah saja selagi lelakiku masih menyanggupi.
"Tidak apa. Saya yang salah memang," tutur lelakiku lembut.
"Dia sudah mempermalukanmu."
"Saya yang mempermalukan diri sendiri. Seharusnya saya bisa lebih dewasa ketika meminta maaf. Tidak kekanakan."
"Dia itu angkuh, pemarah. Tidak pantas untukmu, Mas."
Aku tidak tahan untuk berdiam diri lebih lama. Selain menjatuhkan harga diriku, perempuan itu juga berani menyentuh sesuatu yang tidak boleh ia sentuh, lelakiku. Ia berusaha menggayuti lengannya.
Seiring makin dekatnya jarak antara aku dan mereka. Tanganku bergerak cepat mengambil silet di saku celana.
"Sudah selesai milih buahnya, sayang?" sambut lelakiku. Aku mengangguk sebagai pengganti jawaban. "Yuk, pulang," lanjutnya.
Sambil memberikan kantong berisi buah, aku tersenyum lembut padanya seraya berkata, "Kamu ke parkiran duluan. Aku mau beli perlengkapan make up dulu."
Lelakiku setuju saja. Dia berlalu setelah sebelumnya membagi senyum pada perempuan itu.
"Ada masalah, Mbak?" tanyaku lembut sambil tersenyum manis.
"Nggak ada kok," jawabnya sedikit gelagapan.
Aku tersenyum. Tangan kananku menjulur untuk menyalaminya, dia pun menyambut, "Sepertinya Mbak cukup mengenal saya."
Senyumnya kecut. Ia tak berani memandang langsung manik mataku. Aku menggunakan kesempatan itu untuk mendekatkan bibir ke telinganya.
"Jangan berani berceloteh tentang orang lain sebelum benar-benar mengenalnya," bisikku. "Hal itu bisa jadi bumerang untuk diri sendiri."
Kemudian, kugerakkan secara lambat silet yang sejak tadi setia berdiam diri di tangan kiriku. Mengiris lengan perempuan itu dengan pelan serta penuh perasaan. Ia tersentak. Sontak menarik tangannya dari genggamanku.
"Apa yang kau lakukan?!" bentaknya.
"Ups! Astaga!"
Aku menutup mulut dengan tangan, seolah terkejut akan apa yang kuperbuat. Sedetik kemudian tanganku terayun demi menyentuh lengan kirinya, tapi dengan sigap dia menghindar. Mungkin dia trauma.
Bibirku melengkung sempurna, mataku sedikit menyipit, benar-benar senyum terbaik yang kuberikan.
"Ah ... Kupikir Mbak sudah mengenalku dengan baik. Ternyata tidak. Buktinya, Mbak masih belum tahu bahwa saya adalah pendendam yang baik."
Seketika matanya membulat. Perempuan itu langsung balik badan tanpa perlu adanya aba-aba. Sementara di belakang, aku mengambil sapu tangan dari tas, berusaha membersihkan percikan darah yang menempel.

Related Posts:

Hasrat Seorang Psikopat

Tepat ketika aku memencet starter motor, tiba-tiba ada yang teriak, datangnya dari truk besar pengangkut barang.
"Biru!"
Tak kugubris. Aku mulai melajukan motor.
"Di Pom Bensin masih aja nyempat-nyempatin godain orang," celetuk temanku di belakang.
"Iya," jawabku sekenanya.
Aku tidak tahu apa sebenarnya yang ada dalam pikiran lelaki penggoda sepertinya. Yang jelas, berbagai macam cara untuk membumi hanguskan lelaki macam itu mulai terancang dalam otakku.
Namun, karena sedang mengemudi, sedikit demi sedikit kusingkirkan pikiran-pikiran tersebut. Menyusut dan kemudian lenyap tak berbekas. Aku tidak ingin kehilangan fokus yang bisa saja menyebabkan kecelakaan sehingga mengancam keselamatan.
Setibanya di sebuah tempat foto copian, pemiliknya yang kebetulan seorang cowok muda dan menyenangkan seolah memancing kembali rancangan-rancangan tadi. Bayangkan, ia menggunakan sebuah obeng untuk membuka klip dari tugas kuliahku yang sempat terjilid.
"Sadis!" gumamku. Dia hanya terkekeh.
Tak lama kemudian, cowok itu bergerak ke dalam, sibuk dengan tumpukan kertas, lalu kembali lagi membawa sebuah tang. Mataku membulat.
"Penjepit kertasnya terlalu erat, jadi harus pakai ini," jawabnya seolah mengerti arti tatapanku.
Aku mengambil obeng yang sedang menganggur, mengamati setiap sisinya. Kubolak-balik.
"Boleh juga."
Temanku hanya menggeleng, sementara si cowok melayangkan tatapan aneh, keningnya mengkerut. Merasa canggung ditatap seperti itu, aku mengalihkan perhatian ke anak perempuan berusia sekitar lima tahunan yang sedang menangis.
Ingin rasanya menggendongnya, tapi khawatir dia jadi ketakutan sebab melihatku sejak tadi bermain obeng.
"Dia bukan anak ayah, dia nakal," ucapnya disela-sela tangis.
Oh ... Jadi dia sedang cemburu pada kakaknya.
"Dia bukan anak ayah. Bukan anak ayah."
Tak mendapat respon dari ayahnya, si kecil makin gencar mengeluarkan tangis. Dalam diam aku menatap ayahnya yang sibuk sendiri.
Lalu tak berapa lama, aku mulai angkat suara.
"Rin, obeng bisa dipakai tusuk orang ndak?" tanyaku pada teman di samping. Dia mengangguk.
‪#‎Nonfiksi‬
‪#‎NightStory‬
....

Related Posts:

Kesayanganku Yang Manis

Oleh : Finy Arkana

Dia bukan lagi kesayanganku yang manis. Dia terlihat mengerikan. Sebilah parang merenggut kaki kanannya. Beberapa peluru berhasil melubangi bagian-bagian tubuhnya. Semua ini karena ulah seseorang yang telah merusak tubuh kesayanganku, merenggut jiwanya.
"Anjing gila itu sudah menggigit orang lain."”
Begitu katanya, berusaha melakukan pembelaan ketika kumintai pertanggungjawaban atas perbuatannya pada kesayanganku.
"Bagaimanapun, anda tetap harus meminta izin pada pemiliknya sebelum membunuhnya," sanggahku tidak terima.
Lelaki itu berkacak pinggang. Dia angkat sedikit dagu sehingga meninggalkan efek pongah.
"Kau lihat sendirilah hasil perbuatan anjingmu," katanya seraya berlalu.
Aku mengikuti langkahnya. Hawa dingin serasa menggores kulit. Barangkali disebabkan keringat dingin yang mulai mengucur akibat mati-matian menahan amarah. Entahlah. Aku masih setia mengikut di belakang sambil memasukkan tangan ke saku jaket. Meremas benda tajam yang terlipat.
Dia membawaku ke sebuah rumah sakit. Langkahnya teramat ringan menyusuri lorong demi lorong, membawa tubuhnya ke salah satu ruangan.
Seorang dokter dan anak kecil berusia sekitar 5 tahunan menjemput kedatangan kami. Pada tubuh si kecil ada perban membalut kepala hingga seluruh wajahnya. Sementara, aku masih berdiri sambil memegangi pegangan pintu ketika lelaki tadi memohon kepada dokter agar membuka perban tersebut walau hanya beberapa menit.
Awalnya ditolak. Tapi melihat kesungguhan lelaki itu, ia luluh juga. Tangannya bergerak lambat. Pelan tapi pasti perbannya mulai menipis sampai terlepas sepenuhnya.
"Lihatlah hasil perbuatan anjing itu!"
Entah ekspresi macam apa yang kini sedang tergambar di wajahku. Jelasnya, aku merasa mual melihat pemandangan di depan sana. Walau telah diberi beberapa jahitan, tetap saja ketahuan bahwa sebagian wajah anak perempuan yang sedang terkulai lemas di atas ranjang telah hilang.
"Anjing itu memakannya," lanjutnya.
Mataku menyipit untuk memperjelas penglihatan. Betul katanya, kesayanganku telah memakan daging bagian pipi kanan anak malang itu.
"Menjijikkan!" desisku.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya aku pamitan. Lelaki itu mengantarku sampai depan rumah sakit.
"Sekalian mengurus administrasi," katanya.
Aku tidak keberatan. Dia bahkan meminta maaf. Aku hanya mengangguk. Ekspresiku datar. Tanganku masih meremas benda lipat di saku jaket, menunggu moment pas untuk membalas perbuatannya.
Bagiku, bagaimanapun kesalahan kesayanganku, jika harus mati, orang lain tidak pantas mengeksekusinya selain diriku sendiri, tuan yang mengajarinya cara membunuh.

Related Posts:

I BELIEVE

Oleh : Finy Arkana

Prolog
//
            Namaku Finy Arkana, sebuah nama istimewa yang diberikan olehnya. Seseorang yang aku sendiri tidak yakin apakah dia benar-benar nyata atau ilusi semata. Satu hal yang pasti adalah dia berhasil membuatku jatuh cinta berkali-kali. Dan, dengan ikhlas kubiarkan hati ini mengukir namanya, merekam suaranya, lalu mengabadikan segala hal tentang dia di tempat terindah.
Dia, seseorang yang sepertinya tidak pernah puas menghukumku dengan kerinduan. Persis seperti malam ini.
Jarum jam menunjuk angka 23 lewat 58 menit. Orang rumah telah jatuh terlelap sejak sejam lalu. Sementara di luar sana, sayup-sayup terdengar rintik air yang jatuh di atap rumah. Sepertinya hujan semakin deras. Dari balik jendela kamar samar-samar terlihat pohon mangga bergerak lembut oleh sentuhan angin.
Dingin, sepi, dan hening. Perpaduan pas yang melemparku pada keinginan untuk memeluknya erat. Aku merindukannya. Teramat sangat.
Kuedarkan pandang menyusuri seluruh sisi kamar, berharap jika saja dia akan muncul di satu sudut, lalu meraihku dalam dekapnya. Sedikit horor memang, tapi lebih mengerikan lagi jika harus menderita lebih lama menahan segala sesak yang berdesak-desak dalam dada. Naas, harapan hanyalah harapan, rindu yang sudah pada tahap keterlaluan ini tidak kunjung terbilas oleh sebuah temu.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Mengisi paru-paru dengan udara sebanyak mungkin. Kemudian, jemariku kembali menari-nari di atas tuts laptop, membiarkannya bekerja sendirian hingga tertuang beberapa kalimat.

Hai, Tuan …
Langitku menurunkan bulir-bulir air
serupa huruf-huruf sepi
terangkai menjadi kalimat bening
yang tak mampu terucap bibir

olehnya itu …
jendela yang mengembun
adalah sasaran empuk
sebagai tempat merayu
serta mengalunkan rindu

lewat jemari yang menari-nari
di atas kaca dingin
mengabadi segala ingin

bahwa ada harapan agar datang sebuah temu
karena hanya dekapmu
tempat rinduku berlabu

Sekali lagi, aku menghela nafas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. Ada sedikit perasaan lega merayapi hati. Tanpa sadar ujung bibirku tertarik ketika kubaca lagi tulisan di kaca jendela.
Ken!!!
Satu nama yang menjadi tumpuan segala harapan, kerinduan, serta ketakutan!

***
Dia penulis asal Pati—Jawa Tengah—yang beberapa bulan terakhir menghabiskan waktu di Palangkaraya—Kalimantan Tengah—demi menikmati indahnya kota cantik itu. Bagiku pribadi, dia bukan hanya penulis bergenre absurd, motivasi, serta puisi, melainkan orang spesial yang tiga bulan ini resmi kulantik sebagai pacar dan menjadi bagian dari perjalanan hidupku.
Ken Patih Adichandra, nama penanya. Penulis yang aktif menerbitkan karya-karyanya di sebuah grup kepenulisan yang diberi nama Komunitas Bisa Menulis oleh Isa Alamsyah. Sebuah grup yang mempertemukanku dengannya. Sebuah grup yang menjadi awal cerita ini dimulai.
Tentang bertemunya dua hati yang kemudian menjalin kasih tanpa adanya sebuah pertemuan, sekalipun.
//
***


Related Posts: