Siasat


Oleh : Finy Arkana

Rani berangkat lebih pagi dari biasanya. Dia tidak tahan ingin segera melabrak Ira di sekolah setelah semalaman menahan amarah. Sungguh, hatinya berantakan oleh sikap sahabat karibnya sendiri. Rani tahu betul Ira memang suka menikung. Tapi, dia masih tidak habis pikir Ira tega merebut Dion juga. Padahal, Ira tahu kalau selama ini Rani diam-diam menaruh hati pada cowok berkulit kuning langsat itu.

Rani bingung mencari letak kesalahannya di mana sampai Ira tega melakukan hal tersebut, karena setahunya Ira tidak akan mengambil pacar orang tanpa alasan.

Sekali waktu, Ira ingin memberi pelajaran pada Dea yang berani menyobek buku catatan Bahasa Inggrisnya. Ya … Satu sekolahan juga tahu bahwa antara Ira dan Dea tidak akan pernah ada kata damai. Maka jadilah pertengkaran sengit.

Rani ingat betul kejadian tersebut  saat dia berusaha melerai aksi jambak-jambakan antara Ira dan Dea demi memperebutkan Ari. Rani akui bahwa itu kesalahan Ira walau tidak sepenuhnya.

“Sekuat apapun bujukan Ira, kalau Ari enggak kegatelan jadi cowok, mereka tidak akan pernah jadian.”

Begitu kalimat Rani sewaktu melakukan pembelaan besar-besaran di hadapan—hampir—seluruh murid SMA Persada. Sayang, rasanya dia ingin menelan kembali kalimat yang  pernah termuntahkan. Rasanya ingin memutus kata ‘sahabat’ agar tidak pernah menjadi tali yang mengikat erat antara dirinya dan Ira. Sungguh! Rani benar-benar marah saat ini, ralat, sejak tadi malam, sejak Dion menelepon tepatnya.

“Kamu temennya Ira, kan?” tanya Dion setelah basa-basi lebih dulu.

“Iya. Kenapa, Dion?”

“Ira orangnya gimana sih?”

“Hum… Gimana, ya?” Rani setengah berpikir, “Baik. Enggak seperti yang ada dipikiran anak-anak. Santai orangnya. Makanya aku suka sahabatan sama dia. Enggak banyak nuntut,” sambungnya, “Kenapa sih?”

“Barusan Ira nembak aku loh.”

Hah?! Rani terdiam. Kalimat Dion barusan seperti lahar panas yang mengalir deras menuju gendang telinganya.

“Terus?” Semampunya Rani mengatur volume suara agar tetap terdengar tenang, “Kamu jawab apa?”

“Belum aku jawab. Kata Ira bilang ke kamu dulu baru boleh jawab. Padahal aku mau jawab sekarang. Kelamaan kalau nunggu besok.”

Amarah Rani naik menuju puncak. Tak tanggung-tanggung dia langsung menekan tombol merah untuk mengakhiri obrolan, kemudian mensetting  ponselnya ke mode penerbangan sehingga panggilan Dion tidak lagi bisa terhubung.

“Apa sih maksud Ira nembak Dion? Okelah … Ira memang begitu orangnya. Suka nikung. Tapi, apa coba maksudnya nyuruh-nyuruh Dion bilang ke aku? Mau pamer kalau dia bisa dekat sama Dion dengan mudahnya, sementara aku cuma bisa diam-diam menaruh hati sama Dion, gitu?”

Satu pertanyaan yang menggayut manja di kepalanya sepanjang malam, dan tak kunjung menemukan jawaban. Rani teramat gelisah. Terbukti dari pandangannya yang sejak tadi tidak sekalipun lepas dari pintu yang setia menjemput kedatangan siswa-siswi SMA Persada, seakan pintu itu akan menghilang jika sekejap saja pandangannya teralihkan.

Kerutan berlipat-lipat di kening  mengatakan dengan jelas bahwa dia tidak sedang dalam suasana hati baik-baik saja. Wajahnya ditekuk sempurna. Bahkan sesekali ketukan-ketukan kecil bermain di ujung jarinya.

***
Sepuluh menit kemudian, barulah air wajahnnya sedikit lunak. Berganti hati yang mengkerut sesaat setelah pintu di depannya memuntahkan dua sosok yang amat dia kenali. Dion dan Ira datang bareng!

“Sial!!!” gerutunya sambil mengepalkan tangan. “Pokoknya Ira harus diberi pelajaran!!!”

Rani berdiri hingga kursi di belakangnya terjengkang. Tanpa memedulikan sorot penasaran anak-anak sekelas dia berjalan menuju meja Ira.

“Ira! Kita harus bicara sekarang!” Ira yang sedang asyik-masyuk bercanda sama Dion langsung mengiyakan tanpa rasa takut, “Ikut aku!” lanjut Rani.

***

“Apa maksudmu nembak Dion?”  tanya Rani langsung.

“Kenapa? Enggak boleh? Enggak ada undang-undangnya juga kalau cewek dilarang nembak cowok, kan?” jawab Ira ketus.

Rani naik pitam. “Gila! Segini aja persahabatan kita? Sahabat sendiri kamu tikung!”

“Siapa yang nikung?” Ira tersenyum mengejek, “Nikung itu kata lain dari mengambil pacar orang. Lah … Kamu?? Apanya Dion? Pacar? Bukan, kan?!!”

Blash!!! Rani kalah telak. Dia membenarkan kalimat Ira. Dia bukan apa-apanya Dion, jadi tidak pantas untuk cemburu apalagi marah. Tapi, bukan berarti dia akan memperlihatkan kejatuhannya di depan Ira. Tidak akan! Jika Ira bisa, kenapa tidak baginya?

***

Rani sudah menyusun siasat dengan matang. Makanya, ketika bel pulang menyanyi, dia menjadi orang pertama yang keluar kelas setelah Bu Sam. Tepat di ujung koridor utama dia berhenti. Ini adalah tempat paling strategis untuk mencegat Dion.

Perkiraannya tepat. Dengan mudah dia menggaet lengan Dion. Hanya butuh beberapa detik hingga tubuh mereka menyatu dengan ruang Laboratorium Fisika.

“Maaf, Di, aku terpaksa,” kata Rani sambil menunduk demi menghindari sepasang mata milik Dion. Karya Tuhan yang selalu membuat hatinya luluh-lantak. Ia selalu takluk oleh tatapan teduh pemiliknya.

“Kenapa, Ran?”

“Gini, Di …” Terbata-bata Rani mengucapkannya, “Aku …”

“Kenapa, Ran?”

“Aku …”

“Rani! Ada apa sih?

“Ya?” Rani gelagapan.

“Kenapa, sih?” Dion tidak sabar, “Kalau enggak penting. Aku pergi aja deh. Banyak urusan.”

Cowok bertubuh jangkung itu balik badan lalu meraih gagang pintu. Namun, langkahnya kemudian terhenti …

“Aku suka kamu!”

Rani tidak tahu mendapat keberanian dari mana sampai dia bisa begitu percaya diri menyuarakan isi hatinya. Satu hal yang pasti, jantungnya jumpalitan menunggu jawaban Dion.

“Beneran? Sejak kapan?” kata Dion datar.

“Sejak kelas satu.”

Dion manggut-manggut, “Sudah setahun lebih. Lama juga. Terus?”

“Terus apanya?” Rani mengangkat wajah sebentar, lalu kembali menyatukan pandangan dengan lantai.

“Kamu maunya apa?”

“Kamu mau nggak jadi pacarku?”

“Kenapa baru ngomong sekarang?”

“Aku takut.”

“Takut kenapa?”

“Aku takut kamu akan nyuruh aku menghapus perasaanku ke kamu kalau nanti kamu tahu.”

Tawa Dion meledak, “Picik juga paradigma kamu tentang aku. Enggak bakalanlah aku ngomong kayak gitu.”

“Jadi gimana??” Rani tak sabaran.

“Gimana apanya?”

Bukannya menjawab, Dion malah balik menggoda. Rani menatap wajah Dion lekat-lekat lalu menyingkir dari hadapan cowok itu sambil menahan kesal. Dia merasa dipermainkan. Sudah jelas-jelas dia sedang menyatakan perasaan, tapi Dion malah bertanya balik dengan seenak bebek.

Dia kemudian bersiap-siap meninggalkan Lab. Fisika, tidak ada gunanya tinggal lebih lama. Melihat cara Dion yang terus membelokkan pembicaraan, sepertinya dia akan menolak.
“Aku udah selesai bicara. Aku pergi sekarang …”

“Rani, pacaran yuk!”

Secepat kilat kalimat itu meluncur. Menghentikan segala aktifitas Rani

Dengan hati yang gegap-gempita, bersama gemuruh jantung yang berdebar-debar, tanpa babibu lagi kepala Rani mengangguk.

Usai memberikan jawaban, Rani langsung balik badan, lalu memutar gagang pintu. Dia tidak sabar ingin menunjukkan pada Ira bahwa posisinya kini berada selangkah di depan.

Tak butuh waktu lama, begitu daun pintu terkuak, Ira telah menampakkan wujudnya. Sesuatu yang bikin Rani seakan tidak mengenal Ira adalah cewek itu malah bertepuk tangan dengan riangnya sambil lompat-lompat tak keruan, dan langsung berhambur ke pelukan Rani.

“Selamat ya, Ran.”

Rani melepaskan diri. Dia tak mengerti, “Maksudnya?”

Suara berat di belakangnya yang menjawab, “Emosi kamu harus dikasih umpan besar baru bisa terpancing.”

“Maksudnya?” Rani masih bersikukuh dalam ketidakmengertian.

“Aku sama Dion mencoba membuatmu jujur sama perasaanmu sendiri.”

Rani merasa malu, sahabat yang dipikirnya telah menikung ternyata  adalah orang yang menunjukkan padanya titik terang. Sempat dia terharu sebelum korneanya menangkap pemandangan mengerikan. Ira menggayut mesra di lengan Dion!

“Sial!!!”

Rani berlari. Menempatkan dirinya di antara dua orang yang saling tempel. Ira geleng-geleng, sedang Dion tersenyum jail seraya berkata, “Tuhkan … Emosimu harus dipancing dulu supaya bisa kelihatan kalau kamu cemburu.”

Yang digoda hanya menunduk. Berusaha menetralkan detak jantung yang berteriak-teriak bahagia.

#Repost

Related Posts: