Seluruh Cinta


Oleh : Finy Arkana

Jantung Ari nyaris copot dari gantungannya mendengar Citra mengatakan putus dengan gamblang. Tanpa sadar kakinya terpaku di bumi. Lidahnya kelu. Ari tahu ia masih hidup saat merasakan debar jantungnya semakin lama semakin cepat.

“Aku udah nggak bisa jalan sama kamu lagi, Ri. Mulai sekarang kita putus!!!” tandas Citra langsung.

“Tunggu… Salah aku apa, Cit?”

“Aku nggak suka sama kepalsuan.”

“Maksudnya?” Ari mulai gusar, “Masalahnya apa sih, Citra?!”

“Pokoknya kita putus. Titik!!!”

Begitulah peristiwa itu terjadi. Kontan tubuh Ari gemetar. Ada air mata jatuh ke pipinya. Secepat kilat ia hapus sebelum siswa lain melihat. Akan tidak lucu jika dirinya yang selama ini disegani sebagai kepala suku harus menangis karena ditinggal cewek. Masih banyak stock cewek di bumi, pasti begitu tanggapan mereka.

Ia berpikir lebih jauh, ke belakang, sebelum hari ini datang, hari yang tak pernah Ari bayangkan. Ia tidak merasa ada kesalahan pada sikapnya, tingkah lakunya di sekolah juga berangsur membaik—setidaknya itu menurut siswa-siswa SMA Bimajaya.

Mengingat Ari pentolan sekolah, kepala geng sekaligus ketua panitia dalam setiap acara tawuran, tidak membuat keributan di sekolah masuk dalam daftar satu catatan baik. Tidak membuat guru geram saat pelajaran sedang berlangsung masuk dalam nominasi siswa tauladan yang patut diacungi jempol. Naas, perjuangannya untuk berubah langsung direnggut oleh satu kata, putus.

Perubahan Ari memang terasa setelah ia menjalin hubungan istimewa dengan Citra, murid yang selalu membuat guru senang oleh sikap santunnya, murid yang selalu mengharumkan nama sekolah dalam setiap olimpiade sains, dan murid yang berhasil meluluhkan hati Ari, si biang kerok.

***

“Citra, cepetan!”

“Iya… Iya,” sahut Citra tak kalah panik sambil berusaha mensejajarkan langkah panjang-panjang Emy.

Mereka berjalan, tepatnya lari-lari kecil menuju lapangan basket. Dalam hati Citra menyesali perbuatannya. Tidak seharusnya dia memutuskan Ari, meski alasannya untuk Ari, tapi melihat cowok itu kembali pada tabiatnya, Citra tidak yakin semua berjalan sesuai rencana.

“Citra!!” seru Emy lagi. “Emergency nih. Jangan lelet begitu!”

Citra tidak sanggup melakukan apa-apa lagi. Dia merasa salah langkah. Di depannya dua orang cowok berseragam putih abu-abu bergulat memamerkan kekuatan. Yang satu robek di pelipis dan hidung berdarah, satunya lagi cuma biru-biru. Kontan Citra memandang nyalang mantan kekasihnya itu. Ari yang dulu kembali. Dia baru saja membuat Nandan babak belur. Jelas terlihat lawannya tidak sebanding. Nandan murid baik-baik, sementara Ari jagonya berkelahi.

“Ari!” pekik Citra di pinggir lapangan basket. Segera dia menolong Nandan, tubuh cowok berkacamata itu terhuyung ke sana- sini oleh tinju si pentolan sekolah. “Ari, cukup!” pekiknya lagi sambil menopang Nandan.

Melihat itu mata Ari panas, ia memandang Citra dengan tatapan yang tidak mampu Citra artikan. Antara sedih, lelah, dan jelas mengandung amarah. Sekilas Citra melihat tangan Ari mengepal tinju hingga urat-uratnya tergambar jelas.

“Dia bikin aku kesal, Citra,” ucap Ari santai. Dibuat seolah-olah Nandan adalah mainan. Begitulah Ari, selalu menjadikan ketenangan sebagai topeng.

“Enggak lucu!”

“Emang bukan buat lucu-lucuan. Aku marah loh. Kamu nggak takut? Nanti kalau cowokmu itu mati karena kupukuli, bagaimana?” Masih dengan santai Ari mengatakannya, kemudian dia lanjutkan dengan sedikit bergumam, “Jaga diri sendiri dulu, baru cari cewek.”

“Enggak butuh nasihat! Yang ada, kamu yang jaga diri sendiri baru cari cewek!” sembur Citra ketus lalu meninggalkan Ari dalam keterpakuan. Inilah jawaban yang cari Ari cari.

Ada orang baru di hati Citra.

***

Kelas XI Ipa-1 hening. Aktifitas belajar mengajar terhenti oleh kehadiran sesosok makhluk tampan tapi badungnya luar biasa. Semua mata tertuju padanya. Dia Ari. Cowok tinggi itu muncul tanpa ketok pintu terlebih dahulu.

“Maaf ganggu, Bu,” tuturnya disopan-sopankan pada Bu Tyas.

“Mau apa kamu?” tanya Bu Tyas dingin.

“Galak bener.” Tadinya Ari mau menambah rekor masalah, mengingat ini kelas Citra, ia urungkan niatnya. “Mau pinjam Citra, Bu.”

“Kamu tidak lihat Citra sedang belajar?”

“Begini-begini saya bisa melihat, Bu. Saya cuma pinjam sebentar.”

“Tidak bisa. Keluar kamu!” usir Bu Tyas dingin.

“Ibu, ih… Kasar,” pancingnya santai.

“Keluar!”

Ari tidak menjawab. Ia keluar dan menutup pintu. Air wajah Bu Tyas melunak, sayang… hanya sebentar sebelum pintu di depannya kembali terkuak, memuntahkan tubuh tinggi yang melintas di depannya tanpa menengok, langsung ke tempat Citra duduk. Meraih lengan Citra, kemudian ditariknya. Citra yang masih setengah sadar nurut saja. Sesampainya di dekat pintu Ari berhenti, lalu balik badan, dan menancapkan tatapan ke Nandan.

“Dan, Citra kupinjam sebentar,” katanya datar, kemudian memindahkan sorot matanya pada Bu Tyas, “Maaf, Bu. Emergency.” Lalu, Ari membawa Citra yang masih terlongo-longo.

Ketika tubuh keduanya raib di balik tembok. Seruan-seruan terdengar nyaring mengantar kepergian mereka. Ada yang menyayangkan kenapa Citra mau jalan sama cowok macam Ari, tentu yang ini bagian cowok, kalah banyak oleh riuh-riuh murid cewek.

Ari keren! Mau dong jadi Citra. Ari cool. Ganteng. Tinggi, lagi..., dan masih banyak lagi. Suasana kelas berubah gegap-gempita sebelum gebrakan meja Bu Tyas membungkam mereka.

“Lanjutkan catatan kalian!”

Bermeter-meter dari ruang kelas itu, terhalang oleh belasan bangunan sekolah, Ari dan Citra berdiri diam di tempat masing-masing. Keduanya dipeluk hening. Meski bahasa tak terucap lisan, Citra tahu Ari sedang marah, bisa terlihat sorot mata Ari menatapnya tajam. Masih ada kelembutan sebenarnya jika hatinya disentuh, Citra yakini itu.

“Cit,” gumam Ari pelan hingga hanya Citra yang mampu dengar, “Aku salah apa?”

Citra diam. Dia bingung harus bilang apa. Pada dasarnya Ari tidak salah, Citralah yang salah mengambil langkah, dia tidak pernah berpikir akibatnya akan sejauh ini. Selain bingung, lidah Citra juga kelu, ada kata maaf terdesak di tenggorokannya, dia ingin berhenti. Tapi… semua sudah terlanjur. Tidak ada alasan untuk kembali.

“Citra,” sahut Ari lagi, “Mungkin aku bisa ngelepas kamu kalau tahu alasannya. Jangan langsung pergi kayak gini.”

“Aku…”

“Kenapa, Cit?”

“Aku enggak bisa jalan sama kamu lagi.”

Ari terhuyung mundur. Hanya selangkah. Tembok sekolah menyangga tubuhnya. Kakinya lemas. Kalimat Citra membuat hatinya berantakan. Tidak ada harapan lagi. Semampunya Ari berusaha menahan tubuhnya agar tak terperosot ke tanah. Sementara Citra tak kalah syoknya melihat reaksi Ari akan semenyakitkan itu.

Susah payah Ari mendekati Citra. Menarik pelan tubuh mungil itu dalam dekapnya. Peluk perpisahan dan paling menyakiti.

“Pergi, Citra, pergi dari sini sebelum aku kalap,” ucapnya sambil mengurai dekap.

Citra balik badan dan melangkah pergi. Tapi…

“Citra.” Langkah Citra berhenti, tangan Ari menggamit lengannya, “Cuma sebentar.” Kembali ia peluk Citra bersama tangis dari belakang.

Ari berusaha meredam tangisnya agar tak terdengar isak. Air matanya mengalir deras, membasahi tengkuk Citra. Ia tenggelamkan semua sakit, marah, lelah, termasuk kebanggaan diri. Biarlah jatuh sekalian. Biarlah Citra tahu sebenarnya dia lemah. Biarlah. Ari hanya ingin menikmati rasa sakit itu sekarang. Mungkin dengan begitu ia akan ikhlas melepas. Setelah dirasa cukup. Ari mengangkat wajah. Tapi dekapnya tak juga mengendur. Ia seakan tak mampu. Citra terlalu berharga untuk dilepas.

“Citra,” lirihnya, “Pergi dan jangan balik, atau aku nggak akan melepasmu. Sama sekali.”

Lambat-lambat lepas juga dekap itu. Citra pergi, dan… menjauh. Padahal Ari berharap besar gadis itu bersedia balik untuknya, menengok sedikit saja tak mengapa. Untuk kedua kalinya Citra menggores luka hari ini.

Sedang Citra yang hilang di ujung koridor sana, sengaja jalan menunduk. Dia tidak mau Ari tahu kalau dirinya juga sama kehilangannya hingga tak mampu meredam air mata. Dia tak ingin melihat wajah di depannya. Citra takut tekadnya berubah jika lebih lama melihat kesakitan di mata orang yang sebenarnya tak pernah ingin dia lepas. Jika bukan alasan demi kebaikan Ari, dia akan memeluk tubuh itu dengan seluruh sayang.

Tekadnya bulat, ini demi Ari.

***

Bel pulang sekolah menggaung nyaring. Ari tidak langsung membereskan buku. Bahkan sama sekali tidak bergerak sampai kelas memuntahkan seluruh isinya. Tersisa dirinya sendiri.

Setelah menarik nafas panjang-panjang lalu dihembuskan perlahan, barulah perasaannya sedikit tenang. Kakinya membawanya keluar kelas, belok kanan, baru beberapa langkah Ari berhenti.

“Sial!!!” umpatnya kesal.

Kebiasaan menjemput Citra di depan kelas saat pulang sekolah membuatnya lupa diri, bahwa mereka selesai siang tadi. Game over. Ari tersenyum miris lalu haluan kiri. Lurus terus. Koridor utama sudah lengang. Ia tidak perlu khawatir ada yang mengetahui hatinya sedang bermuram durja.

“Aku nggak sanggup, Dan!”

Ari tersentak. Ia kenal suara itu, bahkan dari kejauhan berpuluh-puluh meter asalkan gendang telinganya masih berfungsi, biarpun menutup mata ia akan tahu pemiliknya. Citra. Ari mengintip kilat di jendela kemudian melanjutkan jalan. Baru beberapa langkah ia berhenti lagi. Jujur, Ari cukup penasaran.

“Aku sayang Ari. Aku nggak bisa melakukan ini lebih jauh. Meski demi Ari, aku nggak sanggup menyakiti dia lebih lama. Aku rasa kita salah langkah, Nandan. Bukan begini caranya.”

“Ari kudu berubah bukan karena kamu, Cit, tapi karena dirinya sendiri. Kamu lihat, kan? Belum sehari kamu tinggal dia sudah kalap begitu. Jelas dia berubah untuk nyari perhatian kamu doang.”

“Enggak, Nandan. Nggak pa-pa. Sudah mau berubah aja aku udah bersyukur. Lama-kelamaan dia juga akan berubah karena dirinya sendiri, bukan karena aku, bukan karena kepalsuan.”

“Citra!” bentak Nandan, “Sampai kapan Ari harus bergantung sama kamu?”

“Sampai dia sendiri yang mau lepas!” tandas Citra tepat sasaran. Lawannya speechlesh.

Di luar Ari senyum-senyum tidak jelas. Citra belum sepenuhnya lepas dari genggamannya. Bersamaan dengan inginnya Ari meraih gagang pintu, daun di depannya sudah lebih dulu terbuka, memunculkan sosok yang dirindunya. Untunglah di dalam sana Nandan memanggil sehingga Citra menengok ke belakang. Beruntung pula bagi Ari, ia bisa langsung sembunyi di dekat tangga.

Jantungnya jumpalitan, “Ini nih yang buat aku koit lebih cepat,” lirihnya seraya memegang dada. Ukiran pelangi terus membingkai bibirnya. Ia raih ponselnya lalu mengetikkan sesuatu, lalu membidik tajam sasarannya. Pesan yang ia kirim telah sampai.

‘Jangan pernah lepas dari aku lagi.’

Sementara di sana, Citra mencari-cari si pengirim. Dia tidak menemukan sosok yang dicarinya. Ari yang sedang berbunga hatinya memilih diam. Menikmati segala sakit, air mata, dan bahagia dalam satu hari ini. Kepada Citra, terima kasih atas seluruh cinta. Dari jauh mata Ari mendekapnya, tak pernah lepas. Selamanya.

Related Posts: