Ratu Bohong


Oleh : Finy Arkana

Ini adalah hari pertama Asti masuk sekolah setelah dua hari izin. Jika teman-teman bertanya lewat telepon perihal keadaannya, dia akan menjawab dengan penuh penghayatan serta suara yang sengaja dibuat serak ….

“Saya demam. Panas dingin.”

Begitu katanya. Sering dia melakukan hal tersebut. Bukan hanya satu dua kali. Seolah-olah Asti sudah menghapal script drama di luar kepala. Ada-ada saja alasannya untuk tidak masuk sekolah. Karena sakitlah, urusan keluargalah, bantu orang tualah, dan lah-lah lainnya.

Dia menyeret langkah dengan percaya diri menuju kelas. Senyumnya mengembang lebar. Rambutnya dikepang dua. Cukup manis untuk seseorang yang mendapat julukan Ratu Bohong.

Bagaimana tidak julukan tersebut bertandang ke dirinya. Entah kenapa, untuk segala hal yang sebenarnya bisa diungkap dengan kejujuran, Asti malah harus bersusah-susah bohong demi menjaga citra dirinya.

“Asti, kok sudah berangkat sekolah? Memangnya kamu sudah sembuh?” tanya Rani saat mereka tidak sengaja berpapasan di koridor utama.

“Sudah dong. Sudah segar bugar,” jawabnya bersemangat.

Rani Manggut-manggut takzim. “Iya. Kayak orang tidak pernah sakit.”

Ujung bibir Asti terangkat.

“Memangnya kamu sakit apa, Asti?” tanya Rani lagi.

“Cuma sakit gigi,” jawabnya bersemangat, “Eh … Ran, saya duluan, ya. Teman-teman pasti sudah menunggu.”

“Iya, Ti, duluan saja.”

Sambil mengikuti punggung Asti yang semakin menjauh. Rani geleng-geleng kepala seraya bergumam, “Asti … Asti … Kemarin katanya demam. Sekarang sakit gigi. Nanti dia mau bohong apa lagi?”

***

Bel sekolah berteriak nyaring, pertanda sekarang waktunya jam istirahat. Ruang kelas VIII-B hampir terkuras habis. Hanya beberapa orang yang tertinggal, sementara yang lainnya sibuk berurusan dengan perut lapar di kantin.

Di pojok kantin ada Asti, Rani, Jenar, Lisa, dan Debi yang sedang asyik bercengkerama dengan semangkuk mie di hadapan masing-masing.

“Karena kemarin Asti sakit, nanti sore kita kerja kelompok, bagaimana?” Rani angkat bicara.

“Setuju!” seru Lisa dan Debi bersamaan.

Asti menghentikan makannya. Tubuhnya ia condongkan sedikit ke depan seraya berkata, “Ada tugas?”

“Ada. Tugas Bahasa Indonesia,” jawab Jenar.

Rani manggut-manggut, “Oh … Yang klipping itu, ya?”

“Iya, Non!” seru Lisa, Debi, dan Jenar bersamaan.

Kemudian, Rani melanjutkan, “Oke. Jam 3 ketemu di rumah Asti, bagaimana?”

“Tidak! Tidak bisa!” tanggap Rani cepat, “Di rumah sedang ada acara. Tidak nyaman untuk kerja tugas. Rumah Jenar saja, bagaimana?”

“Tapi di rumahmu banyak koran bekas, Asti. Itu memudahkan kita untuk mengerjakan tugas,” kata Rani.

“Tetap saja tidak bisa. Berisik.”

Lisa angkat suara, “Ya sudah. Di rumahku saja.”

“Sip! Nah, sekarang fix di rumah Lisa!” kata Rani sambil mengangkat jempolnya, kemudian melanjutkan, “Nanti saya yang bertanggung jawab untuk membawa surat kabar.”

***

Jam setengah dua siang, Asti baru saja sampai rumah dan bersiap ingin mengganti seragam sekolahnya ketika ibunya berteriak dari luar.

“Asti … Kamu sudah pulang?” teriak ibunya.

“Iya, Bu!”

“Cepat kamu antarkan pesanan Koh Atong ke rukonya.”

Asti balas berteriak lagi, “Tidak bisa, Bu. Asti harus cepat-cepat ke rumah Lisa untuk kerja tugas. Karena kemarin sakit makanya hari ini tugasnya banyak sekali. Sepertinya harus pulang malam, Bu.”

“Ya sudah. Kamu hati-hati. Ibu tunggu Asril saja. Abangmu itu lama sekali pulang sekolah.”

Dalam hati Asti berseru senang. Hari ini, dia memilliki banyak waktu untuk jalan-jalan sama Reno, pacarnya.

***

Keesokan harinya, Asti berangkat sekolah dengan riang gembira. Seolah tidak ada perasaan bersalah dalam dirinya yang tidak datang kerja kelompok di rumah Lisa seperti yang mereka janjikan kemarin, sementara dia lebih memilih jalan bersama Reno.

Dengan sedikit berlari-lari kecil ia melangkah menuju kelasnya. Senyumnya mengembang lebar. Rambut kepang duanya bergoyang ke kiri dan ke kanan, seirama dengan gerak tubuh Asti.

“Asti!” panggil Jenar begitu Asti memasuki kelas.

Di sana tidak hanya Jenar. Ada Rani, Debi, dan Lisa yang memang sengaja menunggunya sejak pagi-pagi tadi. Mereka berempat berdiri sambil melipat tangan di depan dada, melayangkan tatapan tajam pada Rani. Singkatnya, kekesalan mereka telah berada di ubun-ubun.

“Kenapa tidak datang ke rumah Lisa kemarin?” tanya Jenar langsung pada inti masalah.

“Sakit lagi?” tanya Lisa sinis.

“Atau kamu sebegitu sibuknya mengurus acara di rumahmu?” Debi ikutan sumbang suara.

Asti terpaku. Ia tak tahu harus menjawab apa ketika diserbu dengan berbagai pertanyaan seperti itu.

Debi melanjutkan kalimatnya, “Sibuk urus rumah atau sibuk pacaran?”

Duaarrr!!! Serasa ada bom waktu yang baru saja meledak di kepala Asti begitu mendengar kata-kata Debi. Tubuhnya limbung. Wajahnya pucat. Dia telah ketahuan berbohong.

Kali ini Rani yang tak mau tinggal diam. “Kami kecewa sama kamu, Asti. Kenapa sih harus bohong? Kenapa kamu tidak jujur saja kalau kamu mau jalan-jalan sama Reno? Kalau bilang dari awal, kita tidak akan berharap sama kamu. Sebenarnya kita juga bisa kerja tugas tanpa kamu. Surat kabar bukan hanya di rumahmu, tapi karena kita menganggap kamu teman, makanya kita mengajak kamu. Tapi, kamu malah membalas kebaikan kami dengan cara seperti ini.”

Kaki Asti seketika lemas. Dia tidak mampu menopang tubuhnya. Dalam sekejap dia limbung lalu terduduk di kursi.

“Kalian … Tahu … Dari mana?” suaranya parau.

“Jenar melihatmu jalan sama Reno di Taman Kota. Kami pikir dia salah lihat. Jadi, untuk memastikan kami berempat ke rumahmu, dan ternyata benar. Kamu tega sekali membohongi orang tuamu juga, Asti!” Rani menarik nafas untuk meredam amarahnya, “Mulai sekarang saya tidak mau berteman dengan seorang pembohong macam kamu!” lanjutnya dengan suara lantang dan tegas, lalu meninggalkan kelas.

“Saya juga tidak mau berteman sama kamu!” Jenar tak mau kalah.

“Apalagi saya,” Lisa dan Debi berucap bersamaan. “Memangnya siapa yang mau berteman sama pembohong?” tambah Lisa.

“Tidak ada!” seru mereka berempat penuh amarah.

***

Hari-hari yang Asti yang lalui terasa sepi. Tidak ada lagi yang mau berteman dengannya. Dia dikucilkan oleh sikapnya sendiri. Sifat Asti yang dikenal sering berbohong telah beredar hampir ke seluruh lingkungan sekolah. Bukan hanya di lingkup siswa-siswi kelas VII sampaia kelas IX, kabar tersebut pun sampai ke telinga para guru. Bahkan ketika Asti benar-benar sakit, guru di sekolah sangat sulit untuk percaya.

“Halo, Bu, apa benar Asti sedang sakit?” tanya Wali Kelas ketika ibunya Asti mengangkat telepon.

“Iya, Bu, Asti sedang sakit sekarang. Dia diopname di rumah sakit.”

“Baiklah, Bu. Terima kasih atas infonya.”

Klik! Sambungan terputus. Jangankan guru-guru yang sulit untuk percaya kalau Asti memang benar-benar sakit. Bahkan teman-teman dekatnya, seperti Rani, Jenar, Lisa, dan Debi tidak lagi percaya. Tidak satu pun dari mereka yang datang menjenguk.

“Rani, Lisa, Debi … Kalian tidak pergi menjenguk Asti?” tanya Jenar saat mereka sedang makan di kantin.

“Malas!” jawab Rani, “Palingan dia sedang pura-pura sakit. Pasti dia sedang jalan sama si Reno.”

“Betul itu!” Lisa membenarkan, dan diakhiri dengan anggukan kepala oleh Debi.

Kemudian mereka melanjutkan makan sambil bercanda tawa. Tanpa Asti, Si Ratu Bohong yang kini tanpa sahabat dan tanpa kepercayaan lagi.

Related Posts: