Jangan Katakan Aku Psikopat!


'Sudah makan, sayang??'
Mataku membulat ketika sebuah pesan baru saja menyapa BBM suamiku. Tanpa membuang waktu lebih banyak, langsung kubuka BBM chat tersebut, membaca seluruh obrolan yang mengubek-ubek isi perut, hingga rasanya ingin kumuntahkan hatiku yang telah salah mencintai seseorang. Bagaimana tidak, kalimat sayang-sayangan serta rayuan gombal bertebaran di sana. Kurang ajar. Dia mempermainkan aku.
"Bunda."
Buru-buru kuletakkan kembali ponselnya ke tempat semula. Mengatur debar dada yang kian meninggi akibat menahan amarah. Kemudian melemparkan senyum terbaik padanya. Astaga, dia baru selesai mandi, dan bodohnya aku masih bisa luluh oleh senyumnya, rambutnya yang basah, dan... Argh!!!
"Makan, yuk," sambungnya tanpa menghentikan langkah, "laper," katanya manja sambil mengusap-usap perut seperti anak kecil.
"Bentar. Aku nyiapin makanan dulu."
Dia mengangguk manja disertai kedipan mata.
...
'Sayang, makan bareng yuk!'
Perempuan ini sungguh kekeh. Padahal ponsel milik Mas Haris ada di tanganku sejak kemarin, yang berarti dia tidak menerima balasan sejak pesan terakhirnya.
Aku tidak tahan lagi. Aku harus bertemu langsung dengannya. Kuganti pakaian dengan pakaian terbaik yang kupunya, memoles wajah secantik mungkin, dan mengukir senyum paling manis. Aku takkan kalah dari si selingkuhan itu. Tak lupa kubawakan untuknya sebuah ole-ole.
"Setengah jam lagi kita ketemuan di restaurant deket rumahku." Kubalas BBMnya.
...
Dengan mengandalkan foto Display Picturenya, tak sulit mengenali perempuan tersebut. Cantik. Itulah kesan pertamaku saat melihatnya. Dia mengenakan kaos kuning yang dipadu dengan jeans hitam ketat. Senada dengan warna kulit putihnya.
"Nunggu Mas Haris?" tanyaku tanpa basa-basi. Matanya membulat. "Istrinya," kataku santai sambil mengulurkan tangan. Tak lupa kubagi padanya sebuah senyum paling baik, "Silakan duduk," lanjutku santai.
Terlihat dia ragu-ragu tapi akhirnya duduk juga. Kepalanya tertunduk. Cantiknya sedikit pudar, akibat rona wajah yang kini pucat pasih.
Setelah beberapa saat hening, kembali aku angkat suara.
"Saya tidak akan berlama-lama. Langsung ke intinya saja. Jadi, lain kali kalau mau menjalin hubungan atau ingin bermesra-mesraan dengan seseorang, sebaiknya kau mencari lelaki yang masih sendiri sebelum akhirnya kau akan menyesal," ucapku datar, masih dengan senyum manis. Lalu, aku melanjutkan sambil menyerahkan bungkusan ole-ole yang sengaja kusiapkan sejak kemarin, "Ini dari Mas Haris, selamat makan, katanya."
Takut-takut dia menerima.
"Semoga cinta kalian semakin mendarah daging."
Keningnya berkerut. Aku tidak peduli. Aku hanya berharap, semoga racun yang kemarin kucampur dalam hidangan makanan masih melekat di daging Mas Haris, sehingga perempuan itu cepat menyusulnya. Ah... Jangan katakan aku psikopat, bukankah ada pepatah yang mengatakan, 'istri rela dimadu asal suami rela diracun?'. Lagipula, aku tidak berniat sama sekali membagi cinta Mas Haris dengan perempuan manapun. Jika bukan aku seorang yang berhak memiliki, tidak pula yang lain.
...
Selamat Malam
Finy Arkana

Related Posts: