Ratu Bohong


Oleh : Finy Arkana

Ini adalah hari pertama Asti masuk sekolah setelah dua hari izin. Jika teman-teman bertanya lewat telepon perihal keadaannya, dia akan menjawab dengan penuh penghayatan serta suara yang sengaja dibuat serak ….

“Saya demam. Panas dingin.”

Begitu katanya. Sering dia melakukan hal tersebut. Bukan hanya satu dua kali. Seolah-olah Asti sudah menghapal script drama di luar kepala. Ada-ada saja alasannya untuk tidak masuk sekolah. Karena sakitlah, urusan keluargalah, bantu orang tualah, dan lah-lah lainnya.

Dia menyeret langkah dengan percaya diri menuju kelas. Senyumnya mengembang lebar. Rambutnya dikepang dua. Cukup manis untuk seseorang yang mendapat julukan Ratu Bohong.

Bagaimana tidak julukan tersebut bertandang ke dirinya. Entah kenapa, untuk segala hal yang sebenarnya bisa diungkap dengan kejujuran, Asti malah harus bersusah-susah bohong demi menjaga citra dirinya.

“Asti, kok sudah berangkat sekolah? Memangnya kamu sudah sembuh?” tanya Rani saat mereka tidak sengaja berpapasan di koridor utama.

“Sudah dong. Sudah segar bugar,” jawabnya bersemangat.

Rani Manggut-manggut takzim. “Iya. Kayak orang tidak pernah sakit.”

Ujung bibir Asti terangkat.

“Memangnya kamu sakit apa, Asti?” tanya Rani lagi.

“Cuma sakit gigi,” jawabnya bersemangat, “Eh … Ran, saya duluan, ya. Teman-teman pasti sudah menunggu.”

“Iya, Ti, duluan saja.”

Sambil mengikuti punggung Asti yang semakin menjauh. Rani geleng-geleng kepala seraya bergumam, “Asti … Asti … Kemarin katanya demam. Sekarang sakit gigi. Nanti dia mau bohong apa lagi?”

***

Bel sekolah berteriak nyaring, pertanda sekarang waktunya jam istirahat. Ruang kelas VIII-B hampir terkuras habis. Hanya beberapa orang yang tertinggal, sementara yang lainnya sibuk berurusan dengan perut lapar di kantin.

Di pojok kantin ada Asti, Rani, Jenar, Lisa, dan Debi yang sedang asyik bercengkerama dengan semangkuk mie di hadapan masing-masing.

“Karena kemarin Asti sakit, nanti sore kita kerja kelompok, bagaimana?” Rani angkat bicara.

“Setuju!” seru Lisa dan Debi bersamaan.

Asti menghentikan makannya. Tubuhnya ia condongkan sedikit ke depan seraya berkata, “Ada tugas?”

“Ada. Tugas Bahasa Indonesia,” jawab Jenar.

Rani manggut-manggut, “Oh … Yang klipping itu, ya?”

“Iya, Non!” seru Lisa, Debi, dan Jenar bersamaan.

Kemudian, Rani melanjutkan, “Oke. Jam 3 ketemu di rumah Asti, bagaimana?”

“Tidak! Tidak bisa!” tanggap Rani cepat, “Di rumah sedang ada acara. Tidak nyaman untuk kerja tugas. Rumah Jenar saja, bagaimana?”

“Tapi di rumahmu banyak koran bekas, Asti. Itu memudahkan kita untuk mengerjakan tugas,” kata Rani.

“Tetap saja tidak bisa. Berisik.”

Lisa angkat suara, “Ya sudah. Di rumahku saja.”

“Sip! Nah, sekarang fix di rumah Lisa!” kata Rani sambil mengangkat jempolnya, kemudian melanjutkan, “Nanti saya yang bertanggung jawab untuk membawa surat kabar.”

***

Jam setengah dua siang, Asti baru saja sampai rumah dan bersiap ingin mengganti seragam sekolahnya ketika ibunya berteriak dari luar.

“Asti … Kamu sudah pulang?” teriak ibunya.

“Iya, Bu!”

“Cepat kamu antarkan pesanan Koh Atong ke rukonya.”

Asti balas berteriak lagi, “Tidak bisa, Bu. Asti harus cepat-cepat ke rumah Lisa untuk kerja tugas. Karena kemarin sakit makanya hari ini tugasnya banyak sekali. Sepertinya harus pulang malam, Bu.”

“Ya sudah. Kamu hati-hati. Ibu tunggu Asril saja. Abangmu itu lama sekali pulang sekolah.”

Dalam hati Asti berseru senang. Hari ini, dia memilliki banyak waktu untuk jalan-jalan sama Reno, pacarnya.

***

Keesokan harinya, Asti berangkat sekolah dengan riang gembira. Seolah tidak ada perasaan bersalah dalam dirinya yang tidak datang kerja kelompok di rumah Lisa seperti yang mereka janjikan kemarin, sementara dia lebih memilih jalan bersama Reno.

Dengan sedikit berlari-lari kecil ia melangkah menuju kelasnya. Senyumnya mengembang lebar. Rambut kepang duanya bergoyang ke kiri dan ke kanan, seirama dengan gerak tubuh Asti.

“Asti!” panggil Jenar begitu Asti memasuki kelas.

Di sana tidak hanya Jenar. Ada Rani, Debi, dan Lisa yang memang sengaja menunggunya sejak pagi-pagi tadi. Mereka berempat berdiri sambil melipat tangan di depan dada, melayangkan tatapan tajam pada Rani. Singkatnya, kekesalan mereka telah berada di ubun-ubun.

“Kenapa tidak datang ke rumah Lisa kemarin?” tanya Jenar langsung pada inti masalah.

“Sakit lagi?” tanya Lisa sinis.

“Atau kamu sebegitu sibuknya mengurus acara di rumahmu?” Debi ikutan sumbang suara.

Asti terpaku. Ia tak tahu harus menjawab apa ketika diserbu dengan berbagai pertanyaan seperti itu.

Debi melanjutkan kalimatnya, “Sibuk urus rumah atau sibuk pacaran?”

Duaarrr!!! Serasa ada bom waktu yang baru saja meledak di kepala Asti begitu mendengar kata-kata Debi. Tubuhnya limbung. Wajahnya pucat. Dia telah ketahuan berbohong.

Kali ini Rani yang tak mau tinggal diam. “Kami kecewa sama kamu, Asti. Kenapa sih harus bohong? Kenapa kamu tidak jujur saja kalau kamu mau jalan-jalan sama Reno? Kalau bilang dari awal, kita tidak akan berharap sama kamu. Sebenarnya kita juga bisa kerja tugas tanpa kamu. Surat kabar bukan hanya di rumahmu, tapi karena kita menganggap kamu teman, makanya kita mengajak kamu. Tapi, kamu malah membalas kebaikan kami dengan cara seperti ini.”

Kaki Asti seketika lemas. Dia tidak mampu menopang tubuhnya. Dalam sekejap dia limbung lalu terduduk di kursi.

“Kalian … Tahu … Dari mana?” suaranya parau.

“Jenar melihatmu jalan sama Reno di Taman Kota. Kami pikir dia salah lihat. Jadi, untuk memastikan kami berempat ke rumahmu, dan ternyata benar. Kamu tega sekali membohongi orang tuamu juga, Asti!” Rani menarik nafas untuk meredam amarahnya, “Mulai sekarang saya tidak mau berteman dengan seorang pembohong macam kamu!” lanjutnya dengan suara lantang dan tegas, lalu meninggalkan kelas.

“Saya juga tidak mau berteman sama kamu!” Jenar tak mau kalah.

“Apalagi saya,” Lisa dan Debi berucap bersamaan. “Memangnya siapa yang mau berteman sama pembohong?” tambah Lisa.

“Tidak ada!” seru mereka berempat penuh amarah.

***

Hari-hari yang Asti yang lalui terasa sepi. Tidak ada lagi yang mau berteman dengannya. Dia dikucilkan oleh sikapnya sendiri. Sifat Asti yang dikenal sering berbohong telah beredar hampir ke seluruh lingkungan sekolah. Bukan hanya di lingkup siswa-siswi kelas VII sampaia kelas IX, kabar tersebut pun sampai ke telinga para guru. Bahkan ketika Asti benar-benar sakit, guru di sekolah sangat sulit untuk percaya.

“Halo, Bu, apa benar Asti sedang sakit?” tanya Wali Kelas ketika ibunya Asti mengangkat telepon.

“Iya, Bu, Asti sedang sakit sekarang. Dia diopname di rumah sakit.”

“Baiklah, Bu. Terima kasih atas infonya.”

Klik! Sambungan terputus. Jangankan guru-guru yang sulit untuk percaya kalau Asti memang benar-benar sakit. Bahkan teman-teman dekatnya, seperti Rani, Jenar, Lisa, dan Debi tidak lagi percaya. Tidak satu pun dari mereka yang datang menjenguk.

“Rani, Lisa, Debi … Kalian tidak pergi menjenguk Asti?” tanya Jenar saat mereka sedang makan di kantin.

“Malas!” jawab Rani, “Palingan dia sedang pura-pura sakit. Pasti dia sedang jalan sama si Reno.”

“Betul itu!” Lisa membenarkan, dan diakhiri dengan anggukan kepala oleh Debi.

Kemudian mereka melanjutkan makan sambil bercanda tawa. Tanpa Asti, Si Ratu Bohong yang kini tanpa sahabat dan tanpa kepercayaan lagi.

Related Posts:

Apa Alasan Kita Menulis?

Ada banyak pertanyaan seputar menulis yang sering dilontarkan kepada saya. Tentang bagaimana cara menulis yang baik, bagaimana menemukan ide, dan bagaimana begini begitu lainnya. Akan tetapi, terlepas dari itu semua, ada hal lebih penting yang harus kita ketahui sebelum menulis. Yaitu …

Apa alasan kita menulis? Apa motivasi kita menulis?

Segala sesuatu yang dilakukan tanpa alasan, tidak akan menghasilkan sesuatu yang maksimal bahkan jauh dari kata berkualitas. Jatuhnya akan hambar atau garing. Jadi, ciptakan alasan yang terbaik dan kuat sebelum menulis. Alasan itulah yang akan membawa kita pada karya-karya luar biasa nantinya. Alasan itulah yang akan terus mengingatkan kita ketika sedang malas menulis. Alasan itu serupa nyanyian yang harus diputar secara terus-menerus dalam pikiran agar semangat yang sempat down, up lagi.

Kalau perlu, alasan tersebut ditulis sebesar mungkin dengan huruf-huruf indah lalu tempel di tempat-tempat yang sering terjangkau mata untuk lebih mudah mengingatkan bagi kita yang pelupa. Mengapa? Agar ketika melihatnya, kita kembali tergugah untuk menulis, menulis dan menulis lagi.

Sikap intensif menulis yang kita terapkan adalah jawaban atas segala pertanyaan mengenai bagaimana menciptakan tulisan yang berkualitas, bagaimana cara menulis sehingga bisa mengalir, bagaimana cara merangkai kalimat-kalimat indah. Jawabannya sederhana saja. Teruslah menulis. Sebab menulis butuh pembiasaan.

Berikut saya cantumkan beberapa alasan yang sering orang lain gunakan:
Menulis sebagai jalur dakwah untuk mendapat pahala.
Menulis untuk kado pacar.
Menulis untuk menghasilkan uang.
Menulis agar terlihat keren.
Menulis untuk curhat.
Menulis untuk menuangkan ide yang unik.
Menulis membuat kita lebih kreatif.
Menulis agar hidup lebih bersemangat.
Dan masih banyak lagi alasan mengapa seseorang menulis.

Silakan temukan jawaban dari pertanyaan : atas dasar apa anda ingin menulis? Sebab setiap orang punya alasan sendiri. Namun, buatlah alasan kuat di antara alasan paling kuat.

Beberapa tahun silam seseorang pernah bertanya kepada saya mengenai hal tersebut. Terang saja saya menjawab, “Saya ingin menjadi penulis karena penulis itu keren, agar terkenal”. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, saya menyaksikan banyak bermunculan boy/girl band korea yang jauh lebih keren, jauh lebih terkenal daripada seorang penulis. Hal tersebut menjadikan seorang penulis tidak lagi sekeren yang selama ini saya bayangkan. Fans mereka tidak  lebih banyak dari artis-artis korea tadi.

Lalu, apakah dengan begitu saya berhenti menulis? Tidak!! Saya menemukan alasan yang lebih berharga dari sekedar keren. Yaitu …

“Menulis demi sebuah kehidupan yang abadi”

Jujur saja, saya adalah seseorang yang sedikit egois, berharap dapat hidup lebih lama dari harusnya. Berharap dapat hidup abadi dan melihat dunia ini berganti-ganti zaman. Tapi apa mau dikata, saya hanya sekedar manusia yang punya batas usia.

Dan, saya menemukan cara paling canggih untuk hidup abadi yaitu dengan menulis. Jasad saya boleh mati. Jiwa saya boleh terlepas dari jasad. Namun, dengan menulis nama saya akan selalu terekam dalam sejarah. Dapat diingat bahkan setelah hancurnya jasad dalam pelukan bumi.

So, temukan alasan anda dan teruslah menulis.

Salam Karya
Finy Arkana

Related Posts:

Jangan Katakan Aku Psikopat!


'Sudah makan, sayang??'
Mataku membulat ketika sebuah pesan baru saja menyapa BBM suamiku. Tanpa membuang waktu lebih banyak, langsung kubuka BBM chat tersebut, membaca seluruh obrolan yang mengubek-ubek isi perut, hingga rasanya ingin kumuntahkan hatiku yang telah salah mencintai seseorang. Bagaimana tidak, kalimat sayang-sayangan serta rayuan gombal bertebaran di sana. Kurang ajar. Dia mempermainkan aku.
"Bunda."
Buru-buru kuletakkan kembali ponselnya ke tempat semula. Mengatur debar dada yang kian meninggi akibat menahan amarah. Kemudian melemparkan senyum terbaik padanya. Astaga, dia baru selesai mandi, dan bodohnya aku masih bisa luluh oleh senyumnya, rambutnya yang basah, dan... Argh!!!
"Makan, yuk," sambungnya tanpa menghentikan langkah, "laper," katanya manja sambil mengusap-usap perut seperti anak kecil.
"Bentar. Aku nyiapin makanan dulu."
Dia mengangguk manja disertai kedipan mata.
...
'Sayang, makan bareng yuk!'
Perempuan ini sungguh kekeh. Padahal ponsel milik Mas Haris ada di tanganku sejak kemarin, yang berarti dia tidak menerima balasan sejak pesan terakhirnya.
Aku tidak tahan lagi. Aku harus bertemu langsung dengannya. Kuganti pakaian dengan pakaian terbaik yang kupunya, memoles wajah secantik mungkin, dan mengukir senyum paling manis. Aku takkan kalah dari si selingkuhan itu. Tak lupa kubawakan untuknya sebuah ole-ole.
"Setengah jam lagi kita ketemuan di restaurant deket rumahku." Kubalas BBMnya.
...
Dengan mengandalkan foto Display Picturenya, tak sulit mengenali perempuan tersebut. Cantik. Itulah kesan pertamaku saat melihatnya. Dia mengenakan kaos kuning yang dipadu dengan jeans hitam ketat. Senada dengan warna kulit putihnya.
"Nunggu Mas Haris?" tanyaku tanpa basa-basi. Matanya membulat. "Istrinya," kataku santai sambil mengulurkan tangan. Tak lupa kubagi padanya sebuah senyum paling baik, "Silakan duduk," lanjutku santai.
Terlihat dia ragu-ragu tapi akhirnya duduk juga. Kepalanya tertunduk. Cantiknya sedikit pudar, akibat rona wajah yang kini pucat pasih.
Setelah beberapa saat hening, kembali aku angkat suara.
"Saya tidak akan berlama-lama. Langsung ke intinya saja. Jadi, lain kali kalau mau menjalin hubungan atau ingin bermesra-mesraan dengan seseorang, sebaiknya kau mencari lelaki yang masih sendiri sebelum akhirnya kau akan menyesal," ucapku datar, masih dengan senyum manis. Lalu, aku melanjutkan sambil menyerahkan bungkusan ole-ole yang sengaja kusiapkan sejak kemarin, "Ini dari Mas Haris, selamat makan, katanya."
Takut-takut dia menerima.
"Semoga cinta kalian semakin mendarah daging."
Keningnya berkerut. Aku tidak peduli. Aku hanya berharap, semoga racun yang kemarin kucampur dalam hidangan makanan masih melekat di daging Mas Haris, sehingga perempuan itu cepat menyusulnya. Ah... Jangan katakan aku psikopat, bukankah ada pepatah yang mengatakan, 'istri rela dimadu asal suami rela diracun?'. Lagipula, aku tidak berniat sama sekali membagi cinta Mas Haris dengan perempuan manapun. Jika bukan aku seorang yang berhak memiliki, tidak pula yang lain.
...
Selamat Malam
Finy Arkana

Related Posts:

Perempuan Yang Memakan Ibu


Entah kengerian apa lagi yang akan perempuan itu lakukan. Setelah kemarin malam ia membagi tubuh saudaraku menjadi potongan-potongan kecil. Kini giliran ibu. Aku tak berdaya. Perempuan itu mengikat kakiku dengan tali teramat kuat, mulutku pun demikian. Ia tutup seluruh akses agar kutak dapat meminta pertolongan, kecuali satu, mata. Mungkin ia sengaja ingin memperlihatkan bagaimana caranya membagi tubuh ibu menjadi bagian-bagian kecil.
Sejak sejam lalu rasanya perutku telah dikocok. Aku mual. Separuh tubuh ibu hampir habis. Dan aku hanya bisa menonton. Kaki yang dulu menemaniku berjalan telah dipotong selutut. Kepalanya entah dilempar ke mana oleh perempuan itu. Tak lagi bisa kutemukan kehangatan dalam dekap ibu. Dadanya terbelah.
“Ini bagian paling enak.”  Sambil mengangkat potongan hati ibu, perempuan itu melukis senyum terbaiknya.
Tidak lupa ia mengangkat bagian usus dan isi perut lainnya, seolah dengan sengaja memamerkan kemenangan di depan mata anak malang ini. Potongan-potongan tubuh ibu yang telah bersih, kemudian ia masukkan ke dalam wajan, lalu memasaknya. Ditambah bumbu-bumbu khas. Dapur ini terasa semakin mengerikan.
“Ma, aku pulang.”
Lihatlah, betapa hangat senyumnya mendapati si kecil pulang dari sekolah. Aku tidak habis pikir. Mengapa perempuan itu tega melakukannya pada ibu? Padahal dia juga ibu dari seorang anak. Tidakkah dia berpikir bahwa tindakannya itu telah merampas kebahagiaan seorang anak. Tapi, aku bisa apa selain mengutuk diri sendiri yang tak mampu melakukan apa-apa demi menyelamatkan ibu, bahkan nyawaku sendiri terancam melayang di tangan perempuan itu.
“Hari ini kita makan daging lagi, Ma?”
“Iya sayang,” jawabnya sambil mengelus lembut kepala si kecil.
“Besok?”
“Kita akan makan daging lagi,” katanya sambil melempar pandang padaku.
Oh, Tuhan. Perempuan itu mendekat. Ia membawa sepiring makanan. Makanan yang sama yang dihidangkan untuk ibu kemarin. Masih dengan senyum terbaik menghiasi bibirnya, tangannya bergerak, membuka ikatan di mulutku.
“Makanlah. Ini hari terakhirmu.”
Aku berteriak. Memasang wajah sendu. Memohon belas kasih. Naas, perempuan itu semakin melebarkan senyum.
“Sudah. Makan saja. Jangan berkotek terus,” katanya sambil mengelus kepalaku.
Saudaraku, ibuku, dan aku, kenapa harus berakhir di tangan perempuan ini???
....
SELAMAT MALAM
Finy Arkana

Related Posts:

Siasat


Oleh : Finy Arkana

Rani berangkat lebih pagi dari biasanya. Dia tidak tahan ingin segera melabrak Ira di sekolah setelah semalaman menahan amarah. Sungguh, hatinya berantakan oleh sikap sahabat karibnya sendiri. Rani tahu betul Ira memang suka menikung. Tapi, dia masih tidak habis pikir Ira tega merebut Dion juga. Padahal, Ira tahu kalau selama ini Rani diam-diam menaruh hati pada cowok berkulit kuning langsat itu.

Rani bingung mencari letak kesalahannya di mana sampai Ira tega melakukan hal tersebut, karena setahunya Ira tidak akan mengambil pacar orang tanpa alasan.

Sekali waktu, Ira ingin memberi pelajaran pada Dea yang berani menyobek buku catatan Bahasa Inggrisnya. Ya … Satu sekolahan juga tahu bahwa antara Ira dan Dea tidak akan pernah ada kata damai. Maka jadilah pertengkaran sengit.

Rani ingat betul kejadian tersebut  saat dia berusaha melerai aksi jambak-jambakan antara Ira dan Dea demi memperebutkan Ari. Rani akui bahwa itu kesalahan Ira walau tidak sepenuhnya.

“Sekuat apapun bujukan Ira, kalau Ari enggak kegatelan jadi cowok, mereka tidak akan pernah jadian.”

Begitu kalimat Rani sewaktu melakukan pembelaan besar-besaran di hadapan—hampir—seluruh murid SMA Persada. Sayang, rasanya dia ingin menelan kembali kalimat yang  pernah termuntahkan. Rasanya ingin memutus kata ‘sahabat’ agar tidak pernah menjadi tali yang mengikat erat antara dirinya dan Ira. Sungguh! Rani benar-benar marah saat ini, ralat, sejak tadi malam, sejak Dion menelepon tepatnya.

“Kamu temennya Ira, kan?” tanya Dion setelah basa-basi lebih dulu.

“Iya. Kenapa, Dion?”

“Ira orangnya gimana sih?”

“Hum… Gimana, ya?” Rani setengah berpikir, “Baik. Enggak seperti yang ada dipikiran anak-anak. Santai orangnya. Makanya aku suka sahabatan sama dia. Enggak banyak nuntut,” sambungnya, “Kenapa sih?”

“Barusan Ira nembak aku loh.”

Hah?! Rani terdiam. Kalimat Dion barusan seperti lahar panas yang mengalir deras menuju gendang telinganya.

“Terus?” Semampunya Rani mengatur volume suara agar tetap terdengar tenang, “Kamu jawab apa?”

“Belum aku jawab. Kata Ira bilang ke kamu dulu baru boleh jawab. Padahal aku mau jawab sekarang. Kelamaan kalau nunggu besok.”

Amarah Rani naik menuju puncak. Tak tanggung-tanggung dia langsung menekan tombol merah untuk mengakhiri obrolan, kemudian mensetting  ponselnya ke mode penerbangan sehingga panggilan Dion tidak lagi bisa terhubung.

“Apa sih maksud Ira nembak Dion? Okelah … Ira memang begitu orangnya. Suka nikung. Tapi, apa coba maksudnya nyuruh-nyuruh Dion bilang ke aku? Mau pamer kalau dia bisa dekat sama Dion dengan mudahnya, sementara aku cuma bisa diam-diam menaruh hati sama Dion, gitu?”

Satu pertanyaan yang menggayut manja di kepalanya sepanjang malam, dan tak kunjung menemukan jawaban. Rani teramat gelisah. Terbukti dari pandangannya yang sejak tadi tidak sekalipun lepas dari pintu yang setia menjemput kedatangan siswa-siswi SMA Persada, seakan pintu itu akan menghilang jika sekejap saja pandangannya teralihkan.

Kerutan berlipat-lipat di kening  mengatakan dengan jelas bahwa dia tidak sedang dalam suasana hati baik-baik saja. Wajahnya ditekuk sempurna. Bahkan sesekali ketukan-ketukan kecil bermain di ujung jarinya.

***
Sepuluh menit kemudian, barulah air wajahnnya sedikit lunak. Berganti hati yang mengkerut sesaat setelah pintu di depannya memuntahkan dua sosok yang amat dia kenali. Dion dan Ira datang bareng!

“Sial!!!” gerutunya sambil mengepalkan tangan. “Pokoknya Ira harus diberi pelajaran!!!”

Rani berdiri hingga kursi di belakangnya terjengkang. Tanpa memedulikan sorot penasaran anak-anak sekelas dia berjalan menuju meja Ira.

“Ira! Kita harus bicara sekarang!” Ira yang sedang asyik-masyuk bercanda sama Dion langsung mengiyakan tanpa rasa takut, “Ikut aku!” lanjut Rani.

***

“Apa maksudmu nembak Dion?”  tanya Rani langsung.

“Kenapa? Enggak boleh? Enggak ada undang-undangnya juga kalau cewek dilarang nembak cowok, kan?” jawab Ira ketus.

Rani naik pitam. “Gila! Segini aja persahabatan kita? Sahabat sendiri kamu tikung!”

“Siapa yang nikung?” Ira tersenyum mengejek, “Nikung itu kata lain dari mengambil pacar orang. Lah … Kamu?? Apanya Dion? Pacar? Bukan, kan?!!”

Blash!!! Rani kalah telak. Dia membenarkan kalimat Ira. Dia bukan apa-apanya Dion, jadi tidak pantas untuk cemburu apalagi marah. Tapi, bukan berarti dia akan memperlihatkan kejatuhannya di depan Ira. Tidak akan! Jika Ira bisa, kenapa tidak baginya?

***

Rani sudah menyusun siasat dengan matang. Makanya, ketika bel pulang menyanyi, dia menjadi orang pertama yang keluar kelas setelah Bu Sam. Tepat di ujung koridor utama dia berhenti. Ini adalah tempat paling strategis untuk mencegat Dion.

Perkiraannya tepat. Dengan mudah dia menggaet lengan Dion. Hanya butuh beberapa detik hingga tubuh mereka menyatu dengan ruang Laboratorium Fisika.

“Maaf, Di, aku terpaksa,” kata Rani sambil menunduk demi menghindari sepasang mata milik Dion. Karya Tuhan yang selalu membuat hatinya luluh-lantak. Ia selalu takluk oleh tatapan teduh pemiliknya.

“Kenapa, Ran?”

“Gini, Di …” Terbata-bata Rani mengucapkannya, “Aku …”

“Kenapa, Ran?”

“Aku …”

“Rani! Ada apa sih?

“Ya?” Rani gelagapan.

“Kenapa, sih?” Dion tidak sabar, “Kalau enggak penting. Aku pergi aja deh. Banyak urusan.”

Cowok bertubuh jangkung itu balik badan lalu meraih gagang pintu. Namun, langkahnya kemudian terhenti …

“Aku suka kamu!”

Rani tidak tahu mendapat keberanian dari mana sampai dia bisa begitu percaya diri menyuarakan isi hatinya. Satu hal yang pasti, jantungnya jumpalitan menunggu jawaban Dion.

“Beneran? Sejak kapan?” kata Dion datar.

“Sejak kelas satu.”

Dion manggut-manggut, “Sudah setahun lebih. Lama juga. Terus?”

“Terus apanya?” Rani mengangkat wajah sebentar, lalu kembali menyatukan pandangan dengan lantai.

“Kamu maunya apa?”

“Kamu mau nggak jadi pacarku?”

“Kenapa baru ngomong sekarang?”

“Aku takut.”

“Takut kenapa?”

“Aku takut kamu akan nyuruh aku menghapus perasaanku ke kamu kalau nanti kamu tahu.”

Tawa Dion meledak, “Picik juga paradigma kamu tentang aku. Enggak bakalanlah aku ngomong kayak gitu.”

“Jadi gimana??” Rani tak sabaran.

“Gimana apanya?”

Bukannya menjawab, Dion malah balik menggoda. Rani menatap wajah Dion lekat-lekat lalu menyingkir dari hadapan cowok itu sambil menahan kesal. Dia merasa dipermainkan. Sudah jelas-jelas dia sedang menyatakan perasaan, tapi Dion malah bertanya balik dengan seenak bebek.

Dia kemudian bersiap-siap meninggalkan Lab. Fisika, tidak ada gunanya tinggal lebih lama. Melihat cara Dion yang terus membelokkan pembicaraan, sepertinya dia akan menolak.
“Aku udah selesai bicara. Aku pergi sekarang …”

“Rani, pacaran yuk!”

Secepat kilat kalimat itu meluncur. Menghentikan segala aktifitas Rani

Dengan hati yang gegap-gempita, bersama gemuruh jantung yang berdebar-debar, tanpa babibu lagi kepala Rani mengangguk.

Usai memberikan jawaban, Rani langsung balik badan, lalu memutar gagang pintu. Dia tidak sabar ingin menunjukkan pada Ira bahwa posisinya kini berada selangkah di depan.

Tak butuh waktu lama, begitu daun pintu terkuak, Ira telah menampakkan wujudnya. Sesuatu yang bikin Rani seakan tidak mengenal Ira adalah cewek itu malah bertepuk tangan dengan riangnya sambil lompat-lompat tak keruan, dan langsung berhambur ke pelukan Rani.

“Selamat ya, Ran.”

Rani melepaskan diri. Dia tak mengerti, “Maksudnya?”

Suara berat di belakangnya yang menjawab, “Emosi kamu harus dikasih umpan besar baru bisa terpancing.”

“Maksudnya?” Rani masih bersikukuh dalam ketidakmengertian.

“Aku sama Dion mencoba membuatmu jujur sama perasaanmu sendiri.”

Rani merasa malu, sahabat yang dipikirnya telah menikung ternyata  adalah orang yang menunjukkan padanya titik terang. Sempat dia terharu sebelum korneanya menangkap pemandangan mengerikan. Ira menggayut mesra di lengan Dion!

“Sial!!!”

Rani berlari. Menempatkan dirinya di antara dua orang yang saling tempel. Ira geleng-geleng, sedang Dion tersenyum jail seraya berkata, “Tuhkan … Emosimu harus dipancing dulu supaya bisa kelihatan kalau kamu cemburu.”

Yang digoda hanya menunduk. Berusaha menetralkan detak jantung yang berteriak-teriak bahagia.

#Repost

Related Posts:

Seluruh Cinta


Oleh : Finy Arkana

Jantung Ari nyaris copot dari gantungannya mendengar Citra mengatakan putus dengan gamblang. Tanpa sadar kakinya terpaku di bumi. Lidahnya kelu. Ari tahu ia masih hidup saat merasakan debar jantungnya semakin lama semakin cepat.

“Aku udah nggak bisa jalan sama kamu lagi, Ri. Mulai sekarang kita putus!!!” tandas Citra langsung.

“Tunggu… Salah aku apa, Cit?”

“Aku nggak suka sama kepalsuan.”

“Maksudnya?” Ari mulai gusar, “Masalahnya apa sih, Citra?!”

“Pokoknya kita putus. Titik!!!”

Begitulah peristiwa itu terjadi. Kontan tubuh Ari gemetar. Ada air mata jatuh ke pipinya. Secepat kilat ia hapus sebelum siswa lain melihat. Akan tidak lucu jika dirinya yang selama ini disegani sebagai kepala suku harus menangis karena ditinggal cewek. Masih banyak stock cewek di bumi, pasti begitu tanggapan mereka.

Ia berpikir lebih jauh, ke belakang, sebelum hari ini datang, hari yang tak pernah Ari bayangkan. Ia tidak merasa ada kesalahan pada sikapnya, tingkah lakunya di sekolah juga berangsur membaik—setidaknya itu menurut siswa-siswa SMA Bimajaya.

Mengingat Ari pentolan sekolah, kepala geng sekaligus ketua panitia dalam setiap acara tawuran, tidak membuat keributan di sekolah masuk dalam daftar satu catatan baik. Tidak membuat guru geram saat pelajaran sedang berlangsung masuk dalam nominasi siswa tauladan yang patut diacungi jempol. Naas, perjuangannya untuk berubah langsung direnggut oleh satu kata, putus.

Perubahan Ari memang terasa setelah ia menjalin hubungan istimewa dengan Citra, murid yang selalu membuat guru senang oleh sikap santunnya, murid yang selalu mengharumkan nama sekolah dalam setiap olimpiade sains, dan murid yang berhasil meluluhkan hati Ari, si biang kerok.

***

“Citra, cepetan!”

“Iya… Iya,” sahut Citra tak kalah panik sambil berusaha mensejajarkan langkah panjang-panjang Emy.

Mereka berjalan, tepatnya lari-lari kecil menuju lapangan basket. Dalam hati Citra menyesali perbuatannya. Tidak seharusnya dia memutuskan Ari, meski alasannya untuk Ari, tapi melihat cowok itu kembali pada tabiatnya, Citra tidak yakin semua berjalan sesuai rencana.

“Citra!!” seru Emy lagi. “Emergency nih. Jangan lelet begitu!”

Citra tidak sanggup melakukan apa-apa lagi. Dia merasa salah langkah. Di depannya dua orang cowok berseragam putih abu-abu bergulat memamerkan kekuatan. Yang satu robek di pelipis dan hidung berdarah, satunya lagi cuma biru-biru. Kontan Citra memandang nyalang mantan kekasihnya itu. Ari yang dulu kembali. Dia baru saja membuat Nandan babak belur. Jelas terlihat lawannya tidak sebanding. Nandan murid baik-baik, sementara Ari jagonya berkelahi.

“Ari!” pekik Citra di pinggir lapangan basket. Segera dia menolong Nandan, tubuh cowok berkacamata itu terhuyung ke sana- sini oleh tinju si pentolan sekolah. “Ari, cukup!” pekiknya lagi sambil menopang Nandan.

Melihat itu mata Ari panas, ia memandang Citra dengan tatapan yang tidak mampu Citra artikan. Antara sedih, lelah, dan jelas mengandung amarah. Sekilas Citra melihat tangan Ari mengepal tinju hingga urat-uratnya tergambar jelas.

“Dia bikin aku kesal, Citra,” ucap Ari santai. Dibuat seolah-olah Nandan adalah mainan. Begitulah Ari, selalu menjadikan ketenangan sebagai topeng.

“Enggak lucu!”

“Emang bukan buat lucu-lucuan. Aku marah loh. Kamu nggak takut? Nanti kalau cowokmu itu mati karena kupukuli, bagaimana?” Masih dengan santai Ari mengatakannya, kemudian dia lanjutkan dengan sedikit bergumam, “Jaga diri sendiri dulu, baru cari cewek.”

“Enggak butuh nasihat! Yang ada, kamu yang jaga diri sendiri baru cari cewek!” sembur Citra ketus lalu meninggalkan Ari dalam keterpakuan. Inilah jawaban yang cari Ari cari.

Ada orang baru di hati Citra.

***

Kelas XI Ipa-1 hening. Aktifitas belajar mengajar terhenti oleh kehadiran sesosok makhluk tampan tapi badungnya luar biasa. Semua mata tertuju padanya. Dia Ari. Cowok tinggi itu muncul tanpa ketok pintu terlebih dahulu.

“Maaf ganggu, Bu,” tuturnya disopan-sopankan pada Bu Tyas.

“Mau apa kamu?” tanya Bu Tyas dingin.

“Galak bener.” Tadinya Ari mau menambah rekor masalah, mengingat ini kelas Citra, ia urungkan niatnya. “Mau pinjam Citra, Bu.”

“Kamu tidak lihat Citra sedang belajar?”

“Begini-begini saya bisa melihat, Bu. Saya cuma pinjam sebentar.”

“Tidak bisa. Keluar kamu!” usir Bu Tyas dingin.

“Ibu, ih… Kasar,” pancingnya santai.

“Keluar!”

Ari tidak menjawab. Ia keluar dan menutup pintu. Air wajah Bu Tyas melunak, sayang… hanya sebentar sebelum pintu di depannya kembali terkuak, memuntahkan tubuh tinggi yang melintas di depannya tanpa menengok, langsung ke tempat Citra duduk. Meraih lengan Citra, kemudian ditariknya. Citra yang masih setengah sadar nurut saja. Sesampainya di dekat pintu Ari berhenti, lalu balik badan, dan menancapkan tatapan ke Nandan.

“Dan, Citra kupinjam sebentar,” katanya datar, kemudian memindahkan sorot matanya pada Bu Tyas, “Maaf, Bu. Emergency.” Lalu, Ari membawa Citra yang masih terlongo-longo.

Ketika tubuh keduanya raib di balik tembok. Seruan-seruan terdengar nyaring mengantar kepergian mereka. Ada yang menyayangkan kenapa Citra mau jalan sama cowok macam Ari, tentu yang ini bagian cowok, kalah banyak oleh riuh-riuh murid cewek.

Ari keren! Mau dong jadi Citra. Ari cool. Ganteng. Tinggi, lagi..., dan masih banyak lagi. Suasana kelas berubah gegap-gempita sebelum gebrakan meja Bu Tyas membungkam mereka.

“Lanjutkan catatan kalian!”

Bermeter-meter dari ruang kelas itu, terhalang oleh belasan bangunan sekolah, Ari dan Citra berdiri diam di tempat masing-masing. Keduanya dipeluk hening. Meski bahasa tak terucap lisan, Citra tahu Ari sedang marah, bisa terlihat sorot mata Ari menatapnya tajam. Masih ada kelembutan sebenarnya jika hatinya disentuh, Citra yakini itu.

“Cit,” gumam Ari pelan hingga hanya Citra yang mampu dengar, “Aku salah apa?”

Citra diam. Dia bingung harus bilang apa. Pada dasarnya Ari tidak salah, Citralah yang salah mengambil langkah, dia tidak pernah berpikir akibatnya akan sejauh ini. Selain bingung, lidah Citra juga kelu, ada kata maaf terdesak di tenggorokannya, dia ingin berhenti. Tapi… semua sudah terlanjur. Tidak ada alasan untuk kembali.

“Citra,” sahut Ari lagi, “Mungkin aku bisa ngelepas kamu kalau tahu alasannya. Jangan langsung pergi kayak gini.”

“Aku…”

“Kenapa, Cit?”

“Aku enggak bisa jalan sama kamu lagi.”

Ari terhuyung mundur. Hanya selangkah. Tembok sekolah menyangga tubuhnya. Kakinya lemas. Kalimat Citra membuat hatinya berantakan. Tidak ada harapan lagi. Semampunya Ari berusaha menahan tubuhnya agar tak terperosot ke tanah. Sementara Citra tak kalah syoknya melihat reaksi Ari akan semenyakitkan itu.

Susah payah Ari mendekati Citra. Menarik pelan tubuh mungil itu dalam dekapnya. Peluk perpisahan dan paling menyakiti.

“Pergi, Citra, pergi dari sini sebelum aku kalap,” ucapnya sambil mengurai dekap.

Citra balik badan dan melangkah pergi. Tapi…

“Citra.” Langkah Citra berhenti, tangan Ari menggamit lengannya, “Cuma sebentar.” Kembali ia peluk Citra bersama tangis dari belakang.

Ari berusaha meredam tangisnya agar tak terdengar isak. Air matanya mengalir deras, membasahi tengkuk Citra. Ia tenggelamkan semua sakit, marah, lelah, termasuk kebanggaan diri. Biarlah jatuh sekalian. Biarlah Citra tahu sebenarnya dia lemah. Biarlah. Ari hanya ingin menikmati rasa sakit itu sekarang. Mungkin dengan begitu ia akan ikhlas melepas. Setelah dirasa cukup. Ari mengangkat wajah. Tapi dekapnya tak juga mengendur. Ia seakan tak mampu. Citra terlalu berharga untuk dilepas.

“Citra,” lirihnya, “Pergi dan jangan balik, atau aku nggak akan melepasmu. Sama sekali.”

Lambat-lambat lepas juga dekap itu. Citra pergi, dan… menjauh. Padahal Ari berharap besar gadis itu bersedia balik untuknya, menengok sedikit saja tak mengapa. Untuk kedua kalinya Citra menggores luka hari ini.

Sedang Citra yang hilang di ujung koridor sana, sengaja jalan menunduk. Dia tidak mau Ari tahu kalau dirinya juga sama kehilangannya hingga tak mampu meredam air mata. Dia tak ingin melihat wajah di depannya. Citra takut tekadnya berubah jika lebih lama melihat kesakitan di mata orang yang sebenarnya tak pernah ingin dia lepas. Jika bukan alasan demi kebaikan Ari, dia akan memeluk tubuh itu dengan seluruh sayang.

Tekadnya bulat, ini demi Ari.

***

Bel pulang sekolah menggaung nyaring. Ari tidak langsung membereskan buku. Bahkan sama sekali tidak bergerak sampai kelas memuntahkan seluruh isinya. Tersisa dirinya sendiri.

Setelah menarik nafas panjang-panjang lalu dihembuskan perlahan, barulah perasaannya sedikit tenang. Kakinya membawanya keluar kelas, belok kanan, baru beberapa langkah Ari berhenti.

“Sial!!!” umpatnya kesal.

Kebiasaan menjemput Citra di depan kelas saat pulang sekolah membuatnya lupa diri, bahwa mereka selesai siang tadi. Game over. Ari tersenyum miris lalu haluan kiri. Lurus terus. Koridor utama sudah lengang. Ia tidak perlu khawatir ada yang mengetahui hatinya sedang bermuram durja.

“Aku nggak sanggup, Dan!”

Ari tersentak. Ia kenal suara itu, bahkan dari kejauhan berpuluh-puluh meter asalkan gendang telinganya masih berfungsi, biarpun menutup mata ia akan tahu pemiliknya. Citra. Ari mengintip kilat di jendela kemudian melanjutkan jalan. Baru beberapa langkah ia berhenti lagi. Jujur, Ari cukup penasaran.

“Aku sayang Ari. Aku nggak bisa melakukan ini lebih jauh. Meski demi Ari, aku nggak sanggup menyakiti dia lebih lama. Aku rasa kita salah langkah, Nandan. Bukan begini caranya.”

“Ari kudu berubah bukan karena kamu, Cit, tapi karena dirinya sendiri. Kamu lihat, kan? Belum sehari kamu tinggal dia sudah kalap begitu. Jelas dia berubah untuk nyari perhatian kamu doang.”

“Enggak, Nandan. Nggak pa-pa. Sudah mau berubah aja aku udah bersyukur. Lama-kelamaan dia juga akan berubah karena dirinya sendiri, bukan karena aku, bukan karena kepalsuan.”

“Citra!” bentak Nandan, “Sampai kapan Ari harus bergantung sama kamu?”

“Sampai dia sendiri yang mau lepas!” tandas Citra tepat sasaran. Lawannya speechlesh.

Di luar Ari senyum-senyum tidak jelas. Citra belum sepenuhnya lepas dari genggamannya. Bersamaan dengan inginnya Ari meraih gagang pintu, daun di depannya sudah lebih dulu terbuka, memunculkan sosok yang dirindunya. Untunglah di dalam sana Nandan memanggil sehingga Citra menengok ke belakang. Beruntung pula bagi Ari, ia bisa langsung sembunyi di dekat tangga.

Jantungnya jumpalitan, “Ini nih yang buat aku koit lebih cepat,” lirihnya seraya memegang dada. Ukiran pelangi terus membingkai bibirnya. Ia raih ponselnya lalu mengetikkan sesuatu, lalu membidik tajam sasarannya. Pesan yang ia kirim telah sampai.

‘Jangan pernah lepas dari aku lagi.’

Sementara di sana, Citra mencari-cari si pengirim. Dia tidak menemukan sosok yang dicarinya. Ari yang sedang berbunga hatinya memilih diam. Menikmati segala sakit, air mata, dan bahagia dalam satu hari ini. Kepada Citra, terima kasih atas seluruh cinta. Dari jauh mata Ari mendekapnya, tak pernah lepas. Selamanya.

Related Posts:

Pidato Perdana Presiden

Assalamu’alaikum. Ini adalah penayangan perdana pidato singkat dari seorang presiden. *Menebar Bunga

Perkenalkan saya adalah seorang Predisen Republik Finnynesia. Sebelumnya nama saya adalah Finny Arkanila, namun karena ulah seseorang yang telah merusak nama baik dan benar saya, akhirnya nama tersebut berubah menjadi  Finy Arkana setelah beberapa huruf ia bumi hanguskan.

Baiklah. Kali ini izinkan saya sedikit bercerita.

Ada seseorang bernama Ken Patih Arkana yang terpaksa saya angkat menjadi pacar, karena mengaku telah kecurian hatinya dan bersikeras akan menuntut ke pihak berwajib jika permintaannya tidak terpenuhi.

Seseorang tersebut pernah berkata, “Kadang-kadang kamu seperti anak kecil.”

Pada saat dia mengatakan hal tersebut, rasanya ingin saya tuntut ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Berani-beraninya dia memacari anak di bawah umur. Hal tersebut jelas melanggar Undang-Undang Republik Indonesia No 35 Tahun 2014 Tentang perubahan Atas Undang-Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Namun, karena apa yang dia katakan itu benar adanya, maka tuntutan tersebut tidak jadi saya layangkan. Ya, benar bahwa saya masih anak kecil.

Anak kecil??

Ah… Itu sedikit kasar.

Karena saya seorang penulis sekaligus presiden, kata anak kecil akan saya ganti menjadi Syndrome Baby Face. Bukan tanpa alasan atau karena ke-GR-an saya menyatakannya. Namun, sepertinya saya benar-benar mengalami penyakit Syndrome Baby Face. Buktinya, ketika melakukan penelitian di SMPN 12 Palu, saya menerima beberapa surat ungkapan hati. Yah… Walaupun kalimat-kalimatnya hasil saduran dari Om Google, tapi saya menghargai usaha mereka, dan akan membacakan beberapa surat di pidato perdana ini.

Pertama :
Aku jujur
Kalau dekat denganmu
Aku ngantuk terus
Karena sebenarnya
Aku nggak bisa tidur
Kalau kau jauh dariku

Ke-dua :
Aku tak seperti yang tampak
Aku tak sekuat yang terlihat
Aku tersenyum
Hanya agar kamu tak tahu
Bahwa sebenarnya aku rapuh
Jangan pergi … Kumohon

Ke-Tiga :
Bila aku hanya sesaat bagimu
Jangan biarkan aku terlanjur menyayangimu
Bila kutak mampu pergi darimu
Jangan kau salahkan aku
Karena kau yang telah buat aku menyayangimu.

Ke empat :
Perpisahan seringkali mendatangkan kesedihan yang mendalam
Apalagi jika kita akan ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai.

Cukup! Saya tidak mampu lagi melanjutkannya. Ungkapan isi hati mereka terlalu menyakitkan untuk dibaca. *Baper

Jadi, bagaimana? Bukankah ungkapan-ungkapan di atas adalah bukti yang sangat kuat untuk mengatakan bahwa saya masih sangat-sangat muda dan berhasil menggaet hati anak-anak SMP? Silakan anda menyimpulkannya.

Sebelum saya menutup pidato kali ini, saya ingin menyarankan kepada anda yang telah membaca agar segera berkonsultasi ke dokter-dokter terdekat sebelum terkena gangguan jiwa atau gegar otak kelas kakap stadium empat.

Terima kasih
Wassalam

Related Posts: