Lembaran Luka (Full)


By : Finy Arkana

Tanggal 13 nanti usianya tepat 30 tahun, tapi sedikit pun tidak terbersit dalam pikirannya untuk segera melangsungkan pernikahan. Jangankan menikah sebenarnya, bahkan berpikir untuk duduk berdekatan dengan seorang pria saja, Arinang sudah merasa jijik.

“Sok alim.”

Demikian tanggapan orang-orang terhadap sikapnya itu. Padahal jika mereka tahu, Arinang jauh dari kata alim. Hampir tiap malam, sebelum tidur, ia menghabiskan berbatang-batang rokok sambil meneguk minuman beralkohol.

Seperti malam ini, ia asyik menikmati sebatang rokok ditemani segelas wine. Tatapannya kosong memandangi jalan yang sudah lengang di depan sana. Sesekali ia memejamkan mata, menghirup sebanyak-banyaknya udara malam. Hanya satu yang ia harapkan, Arinang ingin segera bebas dari problem kehidupannya. Tidak diburu pertanyaan kapan menikah. Karena pertanyaan itulah yang berkali-kali melemparnya pada trauma masa lalu yang teramat ingin ia lupakan.

“Anak kenalan mama ada yang seusia denganmu,” kata mamanya kemarin malam.

“Terus?”

“Dia tertarik sama kamu. Dia juga cukup mapan. Masa depan kamu cerah. Dia ….”

“Arinang tidak mau!”

Tidak perlu menunggu mamanya menyelesaikan kalimatnya. Arinang sudah hapal betul ke mana pembicaraan akan berakhir. Ia akan diminta untuk menikah dengan pria tersebut. Dan jelas, ia tidak mau.
Entah ini kali ke berapa mamanya berusaha mendekatkan Arinang dengan anak pria kenalannya. Dan berkali-kali pula Arinang kekeh memberi jawaban sama. Tidak. Berbagai cara pernah ia lakukan untuk menolak. Dari cara paling halus, sampai cenderung kasar.

Arinang ingat betul saat pertama kali mamanya mulai bercerita mengenai anak kenalannya, namanya Arman. Setahun lebih muda darinya. Waktu itu Arinang sudah 28 tahun.

“Dia guru. Anaknya baik.”

Dengan cara halus, Arinang menolak. Belum siap menikah, katanya. Ditambah bumbu-bumbu usianya lebih muda dari Arinang. Mamanya pun mencoba mengerti dan menghentikan proses perjodohan dengan Arman malam itu juga.

Beberapa pekan kemudian, mamanya datang lagi dengan nama lain. Kali ini namanya, Amin. Profesinya sebagai dokter yang begitu dibangga-banggakan mamanya tidak kunjung merubah niat Arinang untuk menerima pria tersebut.

“Nanti Arinang cari sendiri.”

Begitu jawabnya. Berkali-kali. Sampai pada peristiwa kemarin malam, ketika mamanya datang untuk ke delapan kalinya membawa nama baru.

“Namanya Gito. Dia penulis.” Seperti lalu-lalu. Arinang menolak. “Kenapa kau menolak semua pria pilihan mama?”

“Arinang ….”

“Jangan katakan kau punya pilihan sendiri. Mau cari sendiri. Karena sampai sekarang mama tidak pernah mendengar nama satu pria pun keluar dari bibirmu.”

Bukan jawaban yang Arinang berikan. Tapi asbak kaca yang masih penuh debu rokok milik papa tirinya yang melayang. Membentur dinding di samping mamanya. Pecah. Berhamburan.

“Aku tidak mau menikah!!!”

Untuk pertama kalinya, Arinang berteriak. Berharap dengan melakukan hal demikian, ia mampu mengeluarkan sesak yang beberapa tahun dipendamnya. Berharap mamanya mengerti dan tidak datang lagi membawa nama-nama asing.

“Aku tidak mau menikah,” ulangnya, “Sampai mati aku tidak mau menikah!”

Mamanya yang memang dasarnya tidak mengetahui akan kegelisahan yang selama ini Arinang sembunyikan, justru memberi respon tak menyenangkan. Tangannya ringan melayangkan tamparan keras di pipi kanan Arinang. Membekas. Tapi sakit hati yang Arinang rasakan jauh lebih menyayat ketimbang sakit di pipi.

“Anak kurang ajar! Tidak tahu berterima kasih!”

Berterima kasih? Sungguh, Arinang merasa lucu mendengarnya. Dia yang menanggung segala luka demi kebahagiaan mamanya dan papa tirinya, dan itu tidak ada artinya sama sekali?

Malam itu juga, Arinang dengan kemarahannya meninggalkan rumah peninggalan almarhum papanya.

***

Ditemani lagu-lagu sendu serta udara malam yang kian pekat, Arinang menikmati sebatang rokok dan segelas wine di villa almarhum papanya. Mata bulatnya menerawang jalanan yang semakin lengang. Sesekali terdengar ia mengembuskan nafas, berat. Seolah beban yang bertumpuk-tumpuk di pundaknya akan segera merenggut nyawanya.

Tepat di sepertiga malam Arinang beranjak. Kantuk memang belum menghampiri, tapi ia tetap harus beristirahat demi pekerjaan yang menanti. Ia seperti mempersembahkan hidupnya hanya demi pekerjaan itu. Tempatnya menciptakan tokoh-tokoh ilusi yang baik hati, atau membunuh tokohnya sendiri yang ia anggap bisa saja merusak keharmonisan sebuah jalan cerita kehidupan. Arinang selalu menghadirkan kisah-kisah bahagia dalam setiap tulisannya.

Arinang, si penulis bergenre romantic itu, menghentikan langkahnya dalam sekejap. Tubuhnya bergetar. Potongan peristiwa yang baru saja melintas di depan matanya, bak sebuah hantaman yang menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.

Arinang tidak sanggup melangkah lebih jauh. Kamar di pojok kiri atas, berjarak tiga meter dari tangga, selalu berhasil menyeretnya pada masa-masa suram. Sebuah ruangan yang waktu itu dibuat segelap mungkin oleh ayah tirinya, ketika berkali-kali menjamah inci demi inci tubuh Arinang.

Usianya belum genap lima belas tahun ketika peristiwa yang membuat Arinang terus-menerus merasa kotor itu terjadi. Sebuah masa dimana Arinang lebih memilih untuk mati ketimbang menjalani kehidupan yang ia rasa seperti neraka bahkan sebelum kematian nyata menjemputnya.

Arinang masih ingat betul perasaan hancurnya saat itu. Tidak ada tempat untuk mengadu. Papa tempatnya melabuhkan sikap manja, meninggal saat usianya masih sebelas tahun. Sementara mama, yang ia sebut sebagai orang tua perempuan lebih banyak menghabiskan waktu di luar daripada di rumah. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ketika Arinang mengadukan segala perbuatan papa tirinya ke mamanya, tidak ada sedikitpun kepercayaan untuk semua cerita-cerita Arinang.

“Papa itu orang baik. Dia orang yang disegani di tempat kerjanya. Mama tahu, kamu tidak rela mama menikah sama papa karena belum mampu ikhlas akan kepergian papamu, tapi mama harap kamu tidak membuat cerita palsu seperti ini,” tanggap mamanya jika Arinang mulai mengadu.

“Sumpah, Ma. Arinang tidak bohong. Dia bukan orang yang seperti mama selalu banggakan selama ini. Dia ….”

“Cukup, Arinang!! Mama tidak mau mendengar keluhan buruk tentang papa lagi!”

Selalu begitu. Namun, Arinang yakin, setiap kali mereka usai berdebat, mamanya akan menceritakan segalanya kepada papa tirinya.

“Ini hukuman karena kamu berani mengadu sama mama!” bentak papa tirinya suatu waktu di ruang gelap itu sambil mengikat tangan Arinang.

Kejadian tersebut berulang hingga 2 bulan sebelum Arinang menyusul kekasihnya ke ibu kota. Naas, seperti menaruh garam ke luka yang masih basah, Arinang mendapati kekasihnya sedang jalan dengan perempuan lain.

“Maaf, Arinang. Aku udah nggak mau sama kamu lagi. Kamu udah nggak suci.”

Kalimat itulah yang membuat Arinang hingga kini percaya bahwa semua lelaki sama saja. Brengsek!

Di sepertiga malam, sambil menjongkok dengan kedua tangan dilipat, tangis Arinang pecah. Namun, entahlah, Arinang seakan merasa sebuah kehangatan sedang mendekapnya, lalu berbisik lembut.

“Arinang … Ayo pulang, Sayang.”
Arinang mengangkat wajah. Hal pertama yang tertangkap korneanya adalah wajah sendu seorang perempuan yang ia sebut sebagai mama. Jemari perempuan yang masih tampak cantik di usianya yang sudah senja itu menghapus butir-butir air yang jatuh dari sudut mata Arinang.

“Ayo pulang, Sayang. Tidak apa kalau kamu tidak mau menikah dengan lelaki pilihan mama.”

Sebesar apapun amarahnya. Sedalam apapun dendamnya. Arinang tidak akan sanggup membenci perempuan yang tengah meraihnya dalam dekap. Bagaimanapun, Arinang menyadari, tanpa perempuan itu kehadirannya di muka bumi masih akan dipertanyakan. Atau bahkan, Arinang tidak akan pernah melihat bumi jika tanpa kehadirannya.

Lamat-lamat, ia membalas dekapannya seraya berbisik, “Aku akan pulang demi sebuah penyelesaian.”

***

Dan di sinilah Arinang sekarang, bertafakur di depan meja rias. Sesuatu sedang berputar dalam otaknya. Perang batin. Haruskah ia meneruskan dendamnya atau tetap bungkam? Haruskah ia membalas perlakuan papa tirinya meski ia mengetahui bahwa lelaki yang paling ingin ia lenyapkan adalah lelaki yang justru mamanya paling sayangi?

Arinang dilema. Debar jantungnya berpacu tak menentu. Berkali-kali ia mengembuskan nafas, berat. Bahkan jeemarinya mulai ikut bermain dengan botol-botol parfume.

“Kau kembali rupanya.”

Arinang berbalik. Sesosok tubuh jangkung, masih dengan pakaian kerjanya yang berantakan, sedang memandanginya. Kedua tangannya terlipat di depan dada.

Lelaki itu melanjutkan, “Kupikir kau akan meninggalkan rumah sampai bertahun-tahun lagi. Seperti yang pernah kau lakukan.”

Tidak tahan mendengarnya, segala empati teruntuk mamanya lenyap seketika. Lelaki itu memang brengsek. Tidak berubah sama sekali. Masih pongah. Masih merasa jago bahkan diusianya yang sudah senja.

Arinang berdiri.

“Sepertinya kau bahagia sekali kalau saya meninggalkan rumah,” tantang Arinang.

“Sangat bahagia. Tapi lebih bahagia lagi jika kau di rumah. By the way … Tubuhmu semakin indah, Arinang.”

Seperti bom waktu. Entah dari mana datangnya kekuatan Arinang. Secepat kilat ia bergerak. Mendorong tubuh lelaki itu hingga terjengkang. Daun pintu yang sempat tertabrak oleh tubuhnya terpelanting, menghasilkan bunyi debum.

Untuk pertama kalinya, Arinang mensyukuri kebiasaan mamanya pulang larut malam, bahkan terkadang dini hari, atau tidak pulang sama sekali.

“Kau bilang tubuhku indah?” Ujung bibir kirinya terangkat, matanya menatap sinis, “Saya tidak yakin kau masih bisa mengatakannya setelah ini.”

Tepat di samping telinga papa tirinya, Arinang memecahkan botol parfume hingga menghasilkan hasil pecahan yang runcing sempurna. Sayang, belum juga Arinang sempat melancarkan aksinya, papanya telah lebih dulu bangkit, mendorong Arinang hingga sisa botol parfume di tangannya lepas. Terlempar jauh.

“Kau mau balas dendam, Arinang?” ejeknya disertai desah nafas ngos-ngosan. Meski sempat terkejut, papa tiri Arinang masih bisa tertawa.

Kemudian lelaki itu melanjutkan, “Kau tidak akan mampu melenyapkanku. Kau terlalu lemah. Kalau saja kau bisa lebih kuat, tidak mungkin tubuh indahmu itu bisa kugerayangi.”

Seperti sebuah pancingan, seolah menambah asupan energi. Gairah Arinang untuk melenyapkannya semakin meningkat.

“Lelaki kurang ajar!” Arinang berang.
Ia mengerahkan seluruh tenaga. Setelah mengambil ancang-ancang, dengan kekuatan maksimal, Arinang berlari mendekati sasaran. Kedua tangannya siap di depan tubuh untuk mendorong.

Namun, Lagi-lagi, mungkin benar kata papa tirinya. Arinang terlalu lemah. Gerakannya mudah ditebak, sehingga papa tirinya bisa dengan mudah meraih tangannya, kemudian dilipat ke belakang. Tubuh Arinang terkunci.

“Kubilang juga apa. Kau terlalu lemah, Arinang,” ejeknya disertai tawa.

Jika dulu Arinang akan memberontak saat diperlakukan demikian. Kini ia bersikap lebih tenang. Sama sekali tak ada pemberontakan.

“Baiklah. Saya kalah dan kau menang. Tenagamu lebih kuat dibanding saya. Saya menyerah. Sekarang kau bebas melakukan apa saja.”

“Wow … Wow … Luar biasa,” sorak papa tiri Arinang. “Saya bebas melakukan apa saja, Sayang?”

“Ya, kau bebas.”

Sebuah cara penyerahan diri yang luar biasa Arinang tampilkan. Dari gesturnya, Arinang bisa merasakan papa tirinya begitu bahagia.

“Kalau begitu ikut saya.”

“Ke mana?”

“Ke kamar bawah.”

“Lepaskan dulu tanganku.”

“Tidak akan!”

“Ingat, kau lebih kuat. Kau bisa dengan mudah mengunciku seperti ini lagi.” Arinang meyakinkan.

Dengan gerakan lambat,  papa tirinya melepaskan tubuh Arinang seraya menekankan kalimat, “Jangan berani macam-macam!”

“Saya akan ganti pakaian dulu. Kau tunggu di bawah. Nanti saya menyusul.”
Sejenak, papa tiri Arinang terlihat seperti sedang berpikir, lalu akhirnya mengangguk. “Baiklah.”

Arinang memberikan senyum terbaiknya. Apalagi ketika tubuh papa tirinya membelakanginya, Arinang seperti bersorak dalam hati. Diam-diam, dengan langkah hati-hati, ia mengikut di belakang.

Saat kaki papa tirinya belum sepenuhnya menginjak anak tangga ke dua dari atas, sigap ke dua tangannya mendorong dengan tenaga maksimal.
Ia bersorak, tawanya lepas menyaksikan tubuh lelaki yang teramat ingin ia lenyapkan sejak bertahun-tahun lalu itu  berguling-guling melewati anak-anak tangga dengan cepat. Rasa bahagia mengaliri seluruh sel-sel darahnya.

Begitu korneanya tidak lagi melihat pergerakan dari tubuh tua itu di lantai bawah. Arinang menyusul. Aroma anyir darah segar menjadi hal pertama yang menyambutnya.

Arinang jongkok tepat di depan tubuh tak bernyawa dengan kedua mata terbuka lebar itu. Bibirnya melengkung sempurna. Meski demikian, ia hanya menjongkok tanpa melakukan gerakan apa-apa. Hanya memandangi sesosok tubuh tak bernyawa itu. Seolah ingin merekamnya demi sebuah keabadian dendam.

***

Pukul tiga dini hari, dalam sekejap mama Arinang membeku saat mendapati tubuh suaminya sudah tak bernyawa dalam keadaan mengenaskan. Kepala yang bocor serta kedua mata yang masih terbuka.

Sementara di samping mayat tersebut, anak perempuannya sedang tersedu-sedu. Penampakan diri Arinang juga tidak jauh lebih baik. Rambut acak-acakan serta baju yang robek di sana-sini.

“Papa mencoba memerkosa Arinang, Ma. Dia mencoba mengejar saat Arinang berusaha untuk kabur. Tapi, justru papa terjatuh dari tangga,” suara Arinang sengaja dibuat serak. “Maafkan Arinang, Ma,” lanjutnya.

Arinang membuat suasana menjadi sedramatis mungkin. Bahkan, dengan cara yang tidak begitu mencolok, ia dengan sengaja memperlihatkan ujung bibirnya yang berdarah serta tangannya yang memar.

Demi sebuah dendam, Arinang rela melakukan apapun untuk itu, sekalipun harus melukai dirinya sendiri.

“Tidak apa-apa, Sayang, tidak apa-apa,” mamanya meraih Arinang dalam dekap, usaha untuk menenangkan Arinang “Tidak apa-apa.”

“Arinang ingin pindah dari rumah ini, Ma. Arinang tidak akan sanggup terus di sini. Arinang akan terus mengingat semuanya.”

“Iya, Sayang. Kita akan pindah. Kamu pasti trauma.”

Dalam dekap itu, batin Arinang tidak sanggup menyangkal bahwa sebuah kebahagiaan besar sedang menumpuk di sukmanya.










Data Diri Penulis
Finy Arkana, seorang mahasiswi BK Universitas tadulako yang saat ini berharap mampu menyelesaikan studinya sesuai target sejak awal mengenal dunia perkuliahan.

Facebook : Finy Arkana
Email : Finnynesia@gmail.com

Related Posts:

Lembaran Luka (4)


By : Finy Arkana
//
Part 4

Dan di sinilah Arinang sekarang, bertafakur di depan meja rias. Sesuatu sedang berputar dalam otaknya. Perang batin. Haruskah ia meneruskan dendamnya atau tetap bungkam? Haruskah ia membalas perlakuan papa tirinya meski ia mengetahui bahwa lelaki yang paling ingin ia lenyapkan adalah lelaki yang justru mamanya paling sayangi?

Arinang dilema. Debar jantungnya berpacu tak menentu. Berkali-kali ia mengembuskan nafas, berat. Bahkan, jemarinya ikut bermain dengan botol-botol parfume.

“Kau kembali rupanya.”

Arinang berbalik. Sesosok tubuh jangkung, masih dengan pakaian kerjanya yang berantakan, sedang memandanginya. Kedua tangannya terlipat di depan dada.

Lelaki itu melanjutkan, “Kupikir kau akan meninggalkan rumah sampai bertahun-tahun lagi. Seperti yang pernah kau lakukan.”

Tidak tahan mendengarnya, segala empati teruntuk mamanya lenyap seketika. Lelaki itu memang brengsek. Tidak berubah sama sekali. Masih pongah. Masih merasa jago bahkan diusianya yang sudah senja.

Arinang berdiri.

“Sepertinya kau bahagia kalau saya meninggalkan rumah,” tantang Arinang.

“Sangat bahagia. Tapi lebih bahagia jika kau di rumah. By the way … Tubuhmu semakin indah, Arinang.”

Seperti bom waktu. Entah dari mana datangnya kekuatan Arinang. Secepat kilat ia bergerak. Mendorong tubuh lelaki itu hingga terjengkang. Daun pintu yang sempat tertabrak oleh tubuhnya terpelanting, menghasilkan bunyi debum.

Untuk pertama kalinya, Arinang mensyukuri kebiasaan mamanya pulang larut malam, bahkan terkadang dini hari, atau tidak pulang sama sekali.

“Kau bilang tubuhku indah?” Ujung bibir kirinya terangkat, matanya menatap sinis, “Saya tidak yakin kau masih bisa mengatakannya setelah ini.”

Tepat di samping telinga papa tirinya, Arinang memecahkan botol parfume hingga menghasilkan hasil pecahan yang runcing sempurna. Sayang, belum juga Arinang sempat melancarkan aksinya, papanya telah lebih dulu bangkit, mendorong Arinang hingga sisa botol parfume di tangannya lepas. Terlempar jauh.

“Kau mau balas dendam, Arinang?” ejeknya disertai desah nafas ngos-ngosan. Meski sempat terkejut, papa tiri Arinang masih bisa tertawa.

Kemudian lelaki itu melanjutkan, “Kau tidak akan mampu melenyapkanku. Kau terlalu lemah. Kalau saja kau bisa lebih kuat, tidak mungkin tubuh indahmu itu bisa kugerayangi.”

Seperti sebuah pancingan, juga seolah menambah asupan energi. Gairah Arinang untuk melenyapkannya semakin meningkat.

“Lelaki kurang ajar!” Arinang berang.

Ia mengerahkan seluruh tenaga. Setelah mengambil ancang-ancang, dengan kekuatan maksimal, Arinang berlari mendekati sasaran. Kedua tangannya siap di depan tubuh untuk mendorong.

Namun, Lagi-lagi, mungkin benar kata papa tirinya. Arinang terlalu lemah. Gerakannya mudah ditebak, sehingga papa tirinya bisa dengan mudah meraih tangannya, kemudian dilipat ke belakang. Tubuh Arinang terkunci.

“Kubilang juga apa. Kau terlalu lemah, Arinang,” ejeknya disertai tawa.

Jika dulu Arinang akan memberontak saat diperlakukan demikian. Kini ia bersikap lebih tenang. Sama sekali tak ada pemberontakan.

“Baiklah. Saya kalah dan kau menang. Tenagamu lebih kuat dibanding saya. Saya menyerah. Kau bebas melakukan apa saja.”

“Wow … Wow … Luar biasa,” sorak papa tiri Arinang. “Saya bebas melakukan apa saja, Sayang?”

“Ya, kau bebas.”

Sebuah cara penyerahan diri yang luar biasa Arinang tampilkan. Dari gesturnya, Arinang bisa merasakan papa tirinya begitu bahagia.

“Kalau begitu ikut saya.”

“Ke mana?”

“Ke kamar bawah.”

“Lepaskan dulu tanganku.”

“Tidak akan!”

“Ingat, kau lebih kuat dari saya. Kau bisa dengan mudah mengunciku seperti ini lagi.” Arinang meyakinkan.

Dengan gerakan lambat,  papa tirinya melepaskan tubuh Arinang, “Jangan berani macam-macam.”

“Saya akan ganti pakaian dulu. Kau tunggu di bawah. Nanti saya menyusul.”

“Saya akan menunggu.”

“Saya akan menyusul. Saya sudah menyerahkan diri sepenuhnya. Kau lebih kuat dari saya.”

Sejenak, papa tiri Arinang terlihat seperti sedang berpikir, lalu akhirnya mengangguk. “Baiklah.”

Arinang memberikan senyum terbaiknya. Apalagi ketika tubuh papa tirinya membelakanginya, Arinang seperti bersorak dalam hati. Diam-diam, dengan langkah hati-hati, ia mengikut di belakang.

Begitu kaki papa tirinya belum sepenuhnya menginjak anak tangga ke dua dari atas, sigap ke dua tangannya mendorong dengan tenaga maksimal.

Arinang bersorak menyaksikan tubuh lelaki yang teramat ingin ia lenyapkan sejak bertahun-tahun lalu itu terguling-guling melewati anak-anak tangga dengan cepat. Arinang tidak bisa berkata apa-apa, yang jelas rasa bahagia mengaliri seluruh sel-sel darahnya.

Begitu korneanya tidak lagi melihat pergerakan dari tubuh tua itu di lantai bawah. Arinang menyusul. Aroma anyir darah segera menjadi hal pertama yang menyambutnya.

Arinang jongkok tepat di depan tubuh tak bernyawa dengan kedua mata terbuka lebar itu. Bibirnya melengkung sempurna. Meski demikian, ia hanya menjongkok tanpa melakukan gerakan apa-apa. Hanya memandangi sesosok tubuh tak bernyawa itu. Seolah ingin merekamnya demi sebuah keabadian dendam.

***

Pukul tiga dini hari, dalam sekejap mama Arinang membeku saat mendapati tubuh suaminya sudah tak bernyawa dalam keadaan mengenaskan. Kepala yang bocor serta kedua mata yang masih terbuka.

Sementara di samping mayat tersebut, anak perempuannya sedang tersedu-sedu. Penampakan diri Arinang juga tidak jauh lebih baik. Rambut acak-acakan serta baju yang robek di sana-sini.

“Papa mencoba memerkosa Arinang, Ma. Dia mencoba mengejar saat Arinang berusaha untuk kabur. Tapi, justru papa terjatuh dari tangga,” sahutnya tersedu-sedu. “Maafkan Arinang, Ma,” lanjutnya.

Arinang membuat suasana menjadi sedramatis mungkin. Bahkan, dengan cara yang tidak begitu mencolok ia sengaja memperlihatkan ujung bibirnya yang berdarah serta tangannya yang memar.

Demi sebuah dendam, Arinang rela melakukan apapun untuk itu, sekalipun harus melukai dirinya sendiri.

“Tidak apa-apa, Sayang, tidak apa-apa,” mamanya meraih Arinang dalam dekap, sebuah usaha untuk menenangkan Arinang “Tidak apa-apa.”

“Arinang ingin pindah dari rumah ini, Ma. Arinang tidak akan sanggup terus di sini. Arinang akan terus mengingat semuanya.”

“Iya, Sayang. Kita akan pindah. Kamu pasti trauma.”

Dalam dekap itu, batin Arinang tidak sanggup menyangkal bahwa sebuah kebahagiaan besar sedang menumpuk di sukmanya.

(End)

Related Posts:

Lembaran Luka (3)


By : Finy Arkana
//

Part 3

Di sepertiga malam, sambil menjongkok dengan kedua tangan dilipat, tangis Arinang pecah mengenang semuanya. Namun, entahlah, Arinang merasa sebuah kehangatan sedang mendekapnya, lalu berbisik lembut.

“Arinang … Ayo pulang, Sayang.”

Arinang mengangkat wajah. Hal pertama yang tertangkap korneanya adalah wajah sendu seorang perempuan yang ia sebut sebagai mama. Jemari perempuan yang masih tampak cantik di usianya yang sudah senja itu menghapus butir-butir air yang jatuh dari sudut mata Arinang.

“Ayo pulang, Sayang. Tidak apa kalau kamu tidak mau menikah dengan lelaki pilihan mama.”

Sebesar apapun amarahnya. Sedalam apapun dendamnya. Arinang tidak akan sanggup membenci perempuan yang tengah meraihnya dalam dekap. Bagaimanapun, Arinang menyadari, tanpa perempuan itu kehadirannya di muka bumi masih akan dipertanyakan. Atau bahkan, Arinang tidak akan pernah melihat bumi jika tanpa kehadirannya.

Lamat-lamat, ia membalas dekapannya seraya berbisik, “Aku akan pulang demi sebuah penyelesaian.”

***

Related Posts:

Lembaran Luka (2)


By : Finy Arkana
//
Part 2

Ditemani lagu-lagu sendu serta udara malam yang kian pekat, Arinang menikmati sebatang rokok dan segelas wine di villa almarhum papanya. Mata bulatnya menerawang jalanan yang semakin lengang. Sesekali terdengar ia mengembuskan nafas, berat. Seolah beban yang bertumpuk-tumpuk di pundaknya akan segera merenggut nyawanya.

Tepat di sepertiga malam Arinang beranjak. Kantuk memang belum menghampiri, tapi ia tetap harus beristirahat demi pekerjaan yang menanti. Ia seperti mempersembahkan hidupnya hanya demi pekerjaan itu. Tempatnya menciptakan tokoh-tokoh ilusi yang baik hati, atau membunuh tokohnya sendiri yang ia anggap bisa saja merusak keharmonisan sebuah jalan cerita kehidupan. Arinang selalu menghadirkan kisah-kisah bahagia dalam setiap tulisannya.

Arinang, si penulis bergenre romantic itu, menghentikan langkahnya dalam sekejap. Tubuhnya bergetar. Potongan peristiwa yang baru saja melintas di depan matanya, bak sebuah hantaman yang menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.

Arinang tidak sanggup melangkah lebih jauh. Kamar di pojok kiri atas, berjarak tiga meter dari tangga, selalu berhasil menyeretnya pada masa-masa suram. Sebuah ruangan yang waktu itu dibuat segelap mungkin oleh ayah tirinya, ketika berkali-kali menjamah inci demi inci tubuh Arinang.

Usianya belum genap lima belas tahun ketika peristiwa yang membuat Arinang terus-menerus merasa kotor itu terjadi. Sebuah masa dimana Arinang lebih memilih untuk mati ketimbang menjalani kehidupan yang ia rasa seperti neraka bahkan sebelum kematian nyata menjemputnya.

Arinang masih ingat betul perasaan hancurnya saat itu. Tidak ada tempat untuk mengadu. Papa tempatnya melabuhkan sikap manja, meninggal saat usianya masih sebelas tahun. Sementara mama, yang ia sebut sebagai orang tua perempuan lebih banyak menghabiskan waktu di luar daripada di rumah. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ketika Arinang mengadukan segala perbuatan papa tirinya ke mamanya, tidak ada sedikitpun kepercayaan untuk semua cerita-cerita Arinang.

“Papa itu orang baik. Dia orang yang disegani di tempat kerjanya. Mama tahu, kamu tidak rela mama menikah sama papa karena belum mampu ikhlas akan kepergian papamu, tapi mama harap kamu tidak membuat cerita palsu seperti ini,” tanggap mamanya jika Arinang mulai mengadu.

“Sumpah, Ma. Arinang tidak bohong. Dia bukan orang yang seperti mama selalu banggakan selama ini. Dia ….”

“Cukup, Arinang!! Mama tidak mau mendengar keluhan buruk tentang papa lagi!”

Selalu begitu. Namun, Arinang yakin, setiap kali mereka usai berdebat, mamanya akan menceritakan segalanya kepada papa tirinya.

“Ini hukuman karena kamu berani mengadu sama mama!” bentak papa tirinya suatu waktu di ruang gelap itu sambil mengikat tangan Arinang.

Kejadian tersebut berulang hingga 2 bulan sebelum Arinang menyusul kekasihnya ke ibu kota. Naas, seperti menaruh garam ke luka yang masih basah, Arinang mendapati kekasihnya sedang jalan dengan perempuan lain.

“Maaf, Arinang. Aku udah nggak mau sama kamu lagi. Kamu udah nggak suci.”

Kalimat itulah yang membuat Arinang hingga kini percaya bahwa semua lelaki sama saja. Brengsek!

Di sepertiga malam, sambil menjongkok dengan kedua tangan dilipat, tangis Arinang pecah mengenang semuanya. Namun, entahlah, Arinang merasa sebuah kehangatan sedang mendekapnya, lalu berbisik lembut.

“Arinang … Ayo pulang, Sayang.”

...

Related Posts:

Privacy Policy for Finy Arkana Kingdom

Privacy Policy for Finy Arkana Kingdom
If you require any more information or have any questions about our privacy policy, please feel free to contact us by email at Privacy.
At http://finnynesia.blogspot.com/ we consider the privacy of our visitors to be extremely important. This privacy policy document describes in detail the types of personal information is collected and recorded by http://finnynesia.blogspot.com/ and how we use it.

Log Files
Like many other Web sites, http://finnynesia.blogspot.com/ makes use of log files. These files merely logs visitors to the site - usually a standard procedure for hosting companies and a part of hosting services's analytics. The information inside the log files includes internet protocol (IP) addresses, browser type, Internet Service Provider (ISP), date/time stamp, referring/exit pages, and possibly the number of clicks. This information is used to analyze trends, administer the site, track user's movement around the site, and gather demographic information. IP addresses, and other such information are not linked to any information that is personally identifiable.

Cookies and Web Beacons
http://finnynesia.blogspot.com/ uses cookies to store information about visitors' preferences, to record user-specific information on which pages the site visitor accesses or visits, and to personalize or customize our web page content based upon visitors' browser type or other information that the visitor sends via their browser.

DoubleClick DART Cookie
→ Google, as a third party vendor, uses cookies to serve ads on http://finnynesia.blogspot.com/.
→ Google's use of the DART cookie enables it to serve ads to our site's visitors based upon their visit to http://finnynesia.blogspot.com/ and other sites on the Internet.
→ Users may opt out of the use of the DART cookie by visiting the Google ad and content network privacy policy at the following URL - http://www.google.com/privacy_ads.html

Our Advertising Partners
Some of our advertising partners may use cookies and web beacons on our site. Our advertising partners include .......

Google
While each of these advertising partners has their own Privacy Policy for their site, an updated and hyperlinked resource is maintained here: Privacy Policies.
You may consult this listing to find the privacy policy for each of the advertising partners of http://finnynesia.blogspot.com/.
These third-party ad servers or ad networks use technology in their respective advertisements and links that appear on http://finnynesia.blogspot.com/ and which are sent directly to your browser. They automatically receive your IP address when this occurs. Other technologies (such as cookies, JavaScript, or Web Beacons) may also be used by our site's third-party ad networks to measure the effectiveness of their advertising campaigns and/or to personalize the advertising content that you see on the site.
http://finnynesia.blogspot.com/ has no access to or control over these cookies that are used by third-party advertisers.

Third Party Privacy Policies
You should consult the respective privacy policies of these third-party ad servers for more detailed information on their practices as well as for instructions about how to opt-out of certain practices. http://finnynesia.blogspot.com/'s privacy policy does not apply to, and we cannot control the activities of, such other advertisers or web sites. You may find a comprehensive listing of these privacy policies and their links here: Privacy Policy Links.
If you wish to disable cookies, you may do so through your individual browser options. More detailed information about cookie management with specific web browsers can be found at the browsers' respective websites. What Are Cookies?

Children's Information
We believe it is important to provide added protection for children online. We encourage parents and guardians to spend time online with their children to observe, participate in and/or monitor and guide their online activity. http://finnynesia.blogspot.com/ does not knowingly collect any personally identifiable information from children under the age of 13. If a parent or guardian believes that http://finnynesia.blogspot.com/ has in its database the personally-identifiable information of a child under the age of 13, please contact us immediately (using the contact in the first paragraph) and we will use our best efforts to promptly remove such information from our records.

Online Privacy Policy Only
This privacy policy applies only to our online activities and is valid for visitors to our website and regarding information shared and/or collected there. This policy does not apply to any information collected offline or via channels other than this website.

Consent
By using our website, you hereby consent to our privacy policy and agree to its terms.


Update
This Privacy Policy was last updated on: Saturday, July 23rd, 2016.
Should we update, amend or make any changes to our privacy policy, those changes will be posted here.


Related Posts:

Terms of Service for Finy Arkana Kingdom

Terms of Service for Finy Arkana Kingdom
If you require any more information or have any questions about our Terms of Service, please feel free to contact us by email at Contact Us.

Introduction
These terms and conditions govern your use of this website; by using this website, you accept these terms and conditions in full and without reservation. If you disagree with these terms and conditions or any part of these terms and conditions, you must not use this website.
You must be at least 18 [eighteen] years of age to use this website. By using this website and by agreeing to these terms and conditions, you warrant and represent that you are at least 18 years of age.

License to use website
Unless otherwise stated, http://finnynesia.blogspot.com/ and/or its licensors own the intellectual property rights published on this website and materials used on http://finnynesia.blogspot.com/. Subject to the license below, all these intellectual property rights are reserved.
You may view, download for caching purposes only, and print pages, files or other content from the website for your own personal use, subject to the restrictions set out below and elsewhere in these terms and conditions.

You must not:
republish material from this website in neither print nor digital media or documents (including republication on another website);
sell, rent or sub-license material from the website;
show any material from the website in public;
reproduce, duplicate, copy or otherwise exploit material on this website for a commercial purpose;
edit or otherwise modify any material on the website;
redistribute material from this website - except for content specifically and expressly made available for redistribution; or
republish or reproduce any part of this website through the use of iframes or screenscrapers.
Where content is specifically made available for redistribution, it may only be redistributed within your organisation.

Acceptable use
You must not use this website in any way that causes, or may cause, damage to the website or impairment of the availability or accessibility of http://finnynesia.blogspot.com/ or in any way which is unlawful, illegal, fraudulent or harmful, or in connection with any unlawful, illegal, fraudulent or harmful purpose or activity.

You must not use this website to copy, store, host, transmit, send, use, publish or distribute any material which consists of (or is linked to) any spyware, computer virus, Trojan horse, worm, keystroke logger, rootkit or other malicious computer software.
You must not conduct any systematic or automated data collection activities on or in relation to this website without http://finnynesia.blogspot.com/'s express written consent.
This includes:
scraping
data mining
data extraction
data harvesting
'framing' (iframes)
Article 'Spinning'
You must not use this website or any part of it to transmit or send unsolicited commercial communications.
You must not use this website for any purposes related to marketing without the express written consent of http://finnynesia.blogspot.com/.

Restricted access
Access to certain areas of this website is restricted. http://finnynesia.blogspot.com/ reserves the right to restrict access to certain areas of this website, or at our discretion, this entire website. http://finnynesia.blogspot.com/ may change or modify this policy without notice.
If http://finnynesia.blogspot.com/ provides you with a user ID and password to enable you to access restricted areas of this website or other content or services, you must ensure that the user ID and password are kept confidential. You alone are responsible for your password and user ID security..
http://finnynesia.blogspot.com/ may disable your user ID and password at http://finnynesia.blogspot.com/'s sole discretion without notice or explanation.

User content
In these terms and conditions, “your user content” means material (including without limitation text, images, audio material, video material and audio-visual material) that you submit to this website, for whatever purpose.

You grant to http://finnynesia.blogspot.com/ a worldwide, irrevocable, non-exclusive, royalty-free license to use, reproduce, adapt, publish, translate and distribute your user content in any existing or future media. You also grant to http://finnynesia.blogspot.com/ the right to sub-license these rights, and the right to bring an action for infringement of these rights.
Your user content must not be illegal or unlawful, must not infringe any third party's legal rights, and must not be capable of giving rise to legal action whether against you or http://finnynesia.blogspot.com/ or a third party (in each case under any applicable law).
You must not submit any user content to the website that is or has ever been the subject of any threatened or actual legal proceedings or other similar complaint.
http://finnynesia.blogspot.com/ reserves the right to edit or remove any material submitted to this website, or stored on the servers of http://finnynesia.blogspot.com/, or hosted or published upon this website.
http://finnynesia.blogspot.com/'s rights under these terms and conditions in relation to user content, http://finnynesia.blogspot.com/ does not undertake to monitor the submission of such content to, or the publication of such content on, this website.

No warranties
This website is provided “as is” without any representations or warranties, express or implied. http://finnynesia.blogspot.com/ makes no representations or warranties in relation to this website or the information and materials provided on this website.
Without prejudice to the generality of the foregoing paragraph, http://finnynesia.blogspot.com/ does not warrant that:
this website will be constantly available, or available at all; or
the information on this website is complete, true, accurate or non-misleading.
Nothing on this website constitutes, or is meant to constitute, advice of any kind. If you require advice in relation to any legal, financial or medical matter you should consult an appropriate professional.

Limitations of liability
http://finnynesia.blogspot.com/ will not be liable to you (whether under the law of contact, the law of torts or otherwise) in relation to the contents of, or use of, or otherwise in connection with, this website:
to the extent that the website is provided free-of-charge, for any direct loss;
for any indirect, special or consequential loss; or
for any business losses, loss of revenue, income, profits or anticipated savings, loss of contracts or business relationships, loss of reputation or goodwill, or loss or corruption of information or data.
These limitations of liability apply even if http://finnynesia.blogspot.com/ has been expressly advised of the potential loss.

Exceptions
Nothing in this website disclaimer will exclude or limit any warranty implied by law that it would be unlawful to exclude or limit; and nothing in this website disclaimer will exclude or limit the liability of Finy Arkana Kingdom in respect of any:
death or personal injury caused by the negligence of http://finnynesia.blogspot.com/ or its agents, employees or shareholders/owners;
fraud or fraudulent misrepresentation on the part of http://finnynesia.blogspot.com/; or
matter which it would be illegal or unlawful for http://finnynesia.blogspot.com/ to exclude or limit, or to attempt or purport to exclude or limit, its liability.

Reasonableness
By using this website, you agree that the exclusions and limitations of liability set out in this website disclaimer are reasonable.
If you do not think they are reasonable, you must not use this website.

Other parties
You accept that, as a limited liability entity, http://finnynesia.blogspot.com/ has an interest in limiting the personal liability of its officers and employees. You agree that you will not bring any claim personally against http://finnynesia.blogspot.com/'s officers or employees in respect of any losses you suffer in connection with the website.
Without prejudice to the foregoing paragraph, you agree that the limitations of warranties and liability set out in this website disclaimer will protect http://finnynesia.blogspot.com/'s officers, employees, agents, subsidiaries, successors, assigns and sub-contractors as well as http://finnynesia.blogspot.com/.

Unenforceable provisions
If any provision of this website disclaimer is, or is found to be, unenforceable under applicable law, that will not affect the enforceability of the other provisions of this website disclaimer.
Indemnity
You hereby indemnify http://finnynesia.blogspot.com/ and undertake to keep http://finnynesia.blogspot.com/ indemnified against any losses, damages, costs, liabilities and expenses (including without limitation legal expenses and any amounts paid by http://finnynesia.blogspot.com/ to a third party in settlement of a claim or dispute on the advice of http://finnynesia.blogspot.com/'s legal advisers) incurred or suffered by http://finnynesia.blogspot.com/ arising out of any breach by you of any provision of these terms and conditions, or arising out of any claim that you have breached any provision of these terms and conditions.

Breaches of these terms and conditions
Without prejudice to http://finnynesia.blogspot.com/'s other rights under these terms and conditions, if you breach these terms and conditions in any way, http://finnynesia.blogspot.com/ may take such action as http://finnynesia.blogspot.com/ deems appropriate to deal with the breach, including suspending your access to the website, prohibiting you from accessing the website, blocking computers using your IP address from accessing the website, contacting your internet service provider to request that they block your access to the website and/or bringing court proceedings against you.

Variation
http://finnynesia.blogspot.com/ may revise these terms and conditions from time-to-time. Revised terms and conditions will apply to the use of this website from the date of the publication of the revised terms and conditions on this website. Please check this page regularly to ensure you are familiar with the current version.

Assignment
http://finnynesia.blogspot.com/ may transfer, sub-contract or otherwise deal with http://finnynesia.blogspot.com/'s rights and/or obligations under these terms and conditions without notifying you or obtaining your consent.
You may not transfer, sub-contract or otherwise deal with your rights and/or obligations under these terms and conditions.

Severability
If a provision of these terms and conditions is determined by any court or other competent authority to be unlawful and/or unenforceable, the other provisions will continue in effect. If any unlawful and/or unenforceable provision would be lawful or enforceable if part of it were deleted, that part will be deemed to be deleted, and the rest of the provision will continue in effect.

Entire agreement
These terms and conditions, together with http://finnynesia.blogspot.com/'s Privacy Policy constitute the entire agreement between you and http://finnynesia.blogspot.com/ in relation to your use of this website, and supersede all previous agreements in respect of your use of this website.

Law and jurisdiction
These terms and conditions will be governed by and construed in accordance with the laws of NEVADA, USA, and any disputes relating to these terms and conditions will be subject to the exclusive jurisdiction of the courts of NEVADA, USA.
About these website Terms of Service
We created these website terms and conditions using the TOS/T&C generator available from Privacy Policy Online.

Related Posts:

Disclaimer for Finy Arkana Kingdom

Disclaimer for Finy Arkana Kingdom

If you require any more information or have any questions about our site's disclaimer, please feel free to contact us by email at Contact.

Disclaimers for http://finnynesia.blogspot.co.id/:

All the information on this website is published in good faith and for general information purpose only. http://finnynesia.blogspot.co.id/ does not make any warranties about the completeness, reliability and accuracy of this information. Any action you take upon the information you find on this website (http://finnynesia.blogspot.co.id/), is strictly at your own risk. http://finnynesia.blogspot.co.id/ will not be liable for any losses and/or damages in connection with the use of our website.

From our website, you can visit other websites by following hyperlinks to such external sites. While we strive to provide only quality links to useful and ethical websites, we have no control over the content and nature of these sites. These links to other websites do not imply a recommendation for all the content found on these sites. Site owners and content may change without notice and may occur before we have the opportunity to remove a link which may have gone 'bad'.

Please be also aware that when you leave our website, other sites may have different privacy policies and terms which are beyond our control. Please be sure to check the Privacy Policies of these sites as well as their "Terms of Service" before engaging in any business or uploading any information.

Consent

By using our website, you hereby consent to our disclaimer and agree to its terms.

Update

This site disclaimer was last updated on: Saturday, July 23rd, 2016
· Should we update, amend or make any changes to this document, those changes will be prominently posted here.


Related Posts:

Lembaran Luka


By : Finy Arkana
//
Part 1

Tanggal 13 nanti usianya tepat 30 tahun, tapi sedikit pun tidak terbersit dalam pikirannya untuk segera melangsungkan pernikahan. Jangankan menikah sebenarnya, bahkan berpikir untuk duduk berdekatan dengan seorang pria saja, Arinang sudah merasa jijik.

“Sok alim.”

Demikian tanggapan orang-orang terhadap sikapnya itu. Padahal jika mereka tahu, Arinang jauh dari kata alim. Hampir tiap malam, sebelum tidur, ia menghabiskan berbatang-batang rokok sambil meneguk minuman beralkohol.

Seperti malam ini, ia asyik menikmati sebatang rokok ditemani segelas wine. Tatapannya kosong memandangi jalan yang sudah lengang di depan sana. Sesekali ia memejamkan mata, menghirup sebanyak-banyaknya udara malam. Hanya satu yang ia harapkan, Arinang ingin segera bebas dari problem kehidupannya. Tidak diburu pertanyaan kapan menikah. Karena pertanyaan itulah yang berkali-kali melemparnya pada trauma masa lalu yang teramat ingin ia lupakan.

“Anak kenalan mama ada yang seusia denganmu,” kata mamanya kemarin malam.

“Terus?”

“Dia tertarik sama kamu. Dia juga cukup mapan. Masa depan kamu cerah. Dia ….”

“Arinang tidak mau!”

Tidak perlu menunggu mamanya menyelesaikan kalimatnya. Arinang sudah hapal betul ke mana pembicaraan akan berakhir. Ia akan diminta untuk menikah dengan pria tersebut. Dan jelas, ia tidak mau.

Entah ini kali ke berapa mamanya berusaha mendekatkan Arinang dengan anak pria kenalannya. Dan berkali-kali pula Arinang kekeh memberi jawaban sama. Tidak. Berbagai cara pernah ia lakukan untuk menolak. Dari cara paling halus, sampai cenderung kasar.

Arinang ingat betul saat pertama kali mamanya mulai bercerita mengenai anak kenalannya, namanya Arman. Setahun lebih muda darinya. Waktu itu Arinang sudah 28 tahun.

“Dia guru. Anaknya baik.”

Dengan cara halus, Arinang menolak. Belum siap menikah, katanya. Ditambah bumbu-bumbu usianya lebih muda dari Arinang. Mamanya pun mencoba mengerti dan menghentikan proses perjodohan dengan Arman malam itu juga.

Beberapa pekan kemudian, mamanya datang lagi dengan nama lain. Kali ini namanya, Amin. Profesinya sebagai dokter yang begitu dibangga-banggakan mamanya tidak kunjung merubah niat Arinang untuk menerima pria tersebut.

“Nanti Arinang cari sendiri.”

Begitu jawabnya. Berkali-kali. Sampai pada peristiwa kemarin malam, ketika mamanya datang untuk ke delapan kalinya membawa nama baru.

“Namanya Gito. Dia penulis.” Seperti lalu-lalu. Arinang menolak. “Kenapa kau menolak semua pria pilihan mama?”

“Arinang ….”

“Jangan katakan kau punya pilihan sendiri. Mau cari sendiri. Karena sampai sekarang mama tidak pernah mendengar nama satu pria pun keluar dari bibirmu.”

Bukan jawaban yang Arinang berikan. Tapi asbak kaca yang masih penuh debu rokok milik papa tirinya yang melayang. Membentur dinding di samping mamanya. Pecah. Berhamburan.

“Aku tidak mau menikah. Puas?!”

Untuk pertama kalinya, Arinang berteriak. Berharap dengan melakukan hal demikian, ia mampu mengeluarkan sesak yang beberapa tahun dipendamnya. Berharap mamanya mengerti dan tidak datang lagi membawa nama-nama asing.

“Aku tidak mau menikah,” ulangnya, “Sampai mati aku tidak mau menikah!”

Mamanya yang memang dasarnya tidak mengetahui akan kegelisahan yang selama ini Arinang sembunyikan, justru memberi respon tak menyenangkan. Tangannya ringan melayangkan tamparan keras di pipi kanan Arinang. Membekas. Tapi sakit hati yang Arinang rasakan jauh lebih menyayat ketimbang sakit di pipi.

“Anak kurang ajar! Tidak tahu berterima kasih!”

Berterima kasih? Arinang merasa lucu mendengarnya. Apa sikap diamnya selama ini tidak berarti apa-apa di depan mamanya? Dia yang menanggung segala luka demi kebahagiaan mamanya dan papa tirinya, dan itu tidak ada artinya sama sekali?

Malam itu juga, Arinang dengan kemarahannya meninggalkan rumah peninggalan almarhum papanya.

Related Posts:

Luka Arinang


Oleh : Finy Arkana

Walau catnya sudah tampak kusam. Dindingnya mulai mengelupas. Di mata Arinang, ruangan ini masih ruangan sama. Tak ada perubahan berarti walau telah ditinggal bertahun-tahun. Begitu pula kenangan yang pernah tertoreh, lukanya akan tetap basah.

Ketika kornea mata Arinang bertumbukan pada pembaringan yang ditutupi kain putih, pikirannya tergelincir pada peristiwa lalu. Ia ingat betul, usianya jalan tiga belas tahun saat seorang lelaki menyeretnya ke dalam kamar, menciuminya, lalu membuka kancing seragam sekolah Arinang satu persatu.

Sebuah peristiwa yang menjadi alasan kembalinya Arinang ke rumah ibu hari ini, meski rumah kakek jauh lebih menyenangkan di luar negeri. Pandangannya kembali menyisir sudut-sudut kamar. Melemparnya berkali-kali pada peristiwa demi peristiwa keji. Membangkitkan dendam yang bertumpuk-tumpuk.

“Ma, aku pulang!” Suara yang berteriak itu. Masih suara sama meski sedikit agak serak. Suara milik perusak masa lalunya.

Rasa takut itu. Ketakutan yang seperti ingin membunuhnya, kembali terasa. Tubuh Arinang bergetar. Kakinya tidak mampu berdiri tegak, rasa ia lumpuh seketika. Sebelum benar-benar terjatuh, Arinang menjadikan dinding sebagai penopang. Ia tidak boleh lemah.

“Ma!”

Suara itu mendekat. Sementara Arinang masih sibuk pada getar-getar tubuhnya yang sedikit lagi masuk pada fase kaku. Dan, tanpa mampu dicegah, daun pintu di hadapannya bergerak. Terbuka.

“Arinang?”

Dapat Arinang tangkap seraut wajah di depannya itu menggambarkan keterkejutan. Sekejap. Hanya sekejap, sebelum sebuah tatapan menjijikkan serta bibir yang melengkung dilayangkan pemiliknya pada Arinang.

“Apa kabar, sayang?”

Mendengarnya, cukup membuat telinga Arinang memanas. Wajahnya memerah. Amarahnya naik pada kelas kakap. Tangan kanannya yang dibiarkan menggantung, membentuk sebuah tinju hingga tertarik urat-uratnya.

Arinang mendekat. Tak ada satu kalimat pun keluar dari bibirnya. Ia mempersempit jarak di antara mereka. Lalu, dengan cekatan, tangan kirinya yang sedari tadi dalam saku kemeja bergerak, menggores sedikit luka pada lengan lelaki itu. Ya, hanya sedikit.

Bukan Arinang tak ingin menghilangkan nyawa lelaki tersebut. Ia hanya tidak ingin menodai tangannya dengan darah kotor. Ia tak ingin menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi jika sidik jarinya ditemukan pada mayat lelaki itu.

Arinang hanya ingin membunuhnya secara perlahan, agar penderitaan yang lelaki itu rasakan jauh lebih lama. Itulah mengapa Arinang hanya menggores sedikit luka. Sebab, dari cerita ibunya, tubuh lelaki itu sedang digerogoti penyakit.

“Diabetes akut.”

Jujur saja, tidak ada penghargaan sedikit pun di mata Arinang pada lelaki di hadapannya. Lelaki yang amat ibunya cintai. Lelaki yang menyandang status sebagai ayah tiri. Lelaki yang bertahun-tahun teramat ingin Arinang lenyapkan. Dengan cara apapun.

Related Posts:

Tanpa Sahabat

By : Finy Arkana

Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian itu, dan aku belum menemukan cara terbaik untuk membunuhnya. Tidak mungkin aku masih menghargainya setelah apa yang telah dia katakan.

“Tidak perlu kau bayar hutangmu, Ri.”

Sempat aku merasa terharu. Rupanya dia begitu menghargai persahabatan yang telah kami jalani sejak masih berseragam putih merah. Nihil, semuanya sirna begitu dia melanjutkan.

“Kau berikan saja istrimu sebagai gantinya.”

Sialan! Dia masih bisa tersenyum jahil usai berkata demikian. Sementara telingaku serasa penuh bara api mendengarnya.

Sejak saat itu, dia resmi kupecat sebagai sahabat. Bahkan, aku merasa menyesal telah menjadikannya seseorang yang teramat berharga selama 19 tahun ini. Mengenalnya pun terasa menjijikkan. Dia bukan manusia. Dia binatang yang menyerupai manusia.

Kala itu, aku sampai tidak bisa berkata-kata. Aku terlalu terkejut. Sehingga yang kulakukan hanyalah menatap matanya dalam-dalam, kemudian membanting kursi yang sebelumnya terasa empuk, lalu meninggalkan rumah mantan sahabatku dengan berbagai macam pikiran.

Yap! Pikiran untuk melenyapkannya. Menurutku, tidak ada alasan terbaik bagi orang sepertinya untuk hidup lebih lama di dunia. Tidak akan ada pula yang bersedih atas kepergiannya.

Lalu, bagaimana cara membunuhnya? Menggunakan sianida? Bukan ide buruk. Aku hanya perlu datang padanya sambil tersenyum, berpura-pura meminta maaf karena pernah membanting kursi di depannya, lalu menawarkan secangkir kopi yang telah diberi sianida seperti peristiwa yang sempat heboh di berbagai media pemberitaan. Dia bisa meninggal dalam waktu sepersekian detik.

Tapi, meski bukan ide yang buruk, itu juga bukan ide yang baik. Kematiannya yang tiba-tiba bisa membuat gempar. Dan aku tidak begitu menyukai suatu situasi dimana aku harus menjadi sorotan.

Atau membunuhnya dengan badik hingga berdarah-darah? Sepertinya menarik. Bagai di film-film, setelah membunuhnya aku hanya perlu menyerahkan diri ke polisi untuk menerima hukuman mati. Namun, siapa yang akan menemani istriku di sisa hidupnya?

Beberapa kali, aku menyambangi rumahnya ketika dia sedang terlelap. Tak lupa kuselipkan parang panjang yang biasa kugunakan berkebun.

Ke dalam kamarnya, diterangi remang lampu tidur yang terletak di samping tempat tidur. Dapat terlihat bibirnya sedang tersenyum. Seolah mengejekku yang tidak bisa melakukan apa-apa untuk melenyapkannya.

Perlahan, kucabut parang dari sarungnya. Mengangkat tinggi-tinggi. Bersiap untuk menebas  mulutnya yang terlalu lancang. Tanganku gemetar. Lututku pun demikian, bergetar tak henti-henti. Jelas terasa keringat dingin mengucur deras. Entahlah. Barangkali aku ketakutan, atau bisa jadi aku memang tidak sanggup untuk menyelapkannya. Perasaan itu masih ada. Aku masih belum sanggup kehilangan seorang sahabat.

Itulah mengapa hingga detik ini aku gagal menyelapkannya walau berkali-kali kesempatan datang. Terbuka bebas.

Tapi, malam ini, kupastikan misi yang berhari-hari terencana akan berjalan sempurna. Dia harus mati. Bagaimanapun caranya. Aku juga sudah tidak begitu peduli sanksi apa yang ditawarkan hukum negara pada pembunuh tak berduit macam diriku. Kini, yang aku tahu hanyalah bagaimana cara agar bisa melenyapkannya.

Maka, tidak heran jika sekarang aku telah duduk berhadapan dengannya. Memelototi wajah yang sedang tersenyum ramah di hadapanku. Sebuah lengkungan bibir yang semakin memaksaku untuk mengabadikannya dengan benda tajam nan panjang yang tersembunyi di balik baju. Tepat di pinggang kanan.

“Lama tidak melihatmu, Ri. Sepertinya kau sibuk sekali akhir-akhir ini.”

Terdengar terlalu ramah untuk ukuran seseorang yang berniat mengambil istri sahabatnya. Pikiran criminal memang susah ditebak. Tanpa aling-aling. Bertumpu pada amarah yang bertumpuk selama kurang lebih dua minggu, langsung kucabut parang dari sarungnya.

Kutebas dia bagai menebas pepohonan di kebun. Sampai kulit lehernya ada yang menempeli mata parangku. Selain karena terkejut. Dia memang tidak punya waktu banyak untuk menghindar.

“Ari!”

Dia berteriak. Mengerang tepatnya. Dia kesakitan.

“Impas,” bisikku.

Gantian. Hidup tak selamanya bahagia, bukan? Jika sebelumnya dia begitu bahagia di atas penderitaanku. Kini deritaku menjadi gilirannya.

Entahlah. Mungkin tujuh atau bisa jadi delapan lubang hasil karya tanganku berhasil mengabadi di tubuhnya. Tubuh sahabatku. Jelasnya, malam itu adalah malam berdarah.

***

Pagi-pagi sekali. Tujuh belas menit sebelum pukul enam aku membuka mata. Di depan tempat tidur kami, istriku tidak sanggup menahan air mata agar tak mengalir deras. Ia baru saja mendapat kabar akan kematian sahabatku.

“Padahal baru kemarin sore dia datang ke sini, Pak. Ketika kau ke kebun. Dia Mencarimu. Rindu, katanya, sudah lama tidak melihatmu.”

Cih! Ingin rasanya kusampaikan bahwa itu hanya dustanya untuk menemui istriku.

“Dia mau meminta maaf padamu, Pak, karena sudah bercanda keterlaluan. Tidak mungkin dia mengambil barang berharga miliki sahabatnya, katanya. Hutang-hutang kita tidak perlu dibayar, Pak. Dia ikhlas memberikannya. Bahkan sampai memberi uang segala.”

Dan, akhirnya aku merasa akan menjalani hidup yang sia-sia. Tanpa sahabat.

Related Posts:

Pangeran Kegelapan

*Bongkar file lama. Nemu ini.

By : Finny arkana

Entahlah, guru Jang dapat inisiatif dari mana hingga memberikan kepercayaan padaku menjadi seorang pemburu vampir. Dilihat dari sudut manapun, tidak ada tampang seorang pemburu di diriku.

Mungkin karena ucapanku yang terkesan lancang sampai dia Memberi hukuman. Memang, aku mengatakan padanya bahwa vampir tidak benar adanya, semua hanya mitos. Kala itu, guru Jang sangat menentang dengan sikap arogan.

Dan, di sinilah aku sekarang. Berpijak di atas bangunan tua nan gelap. Berhadapan dengan seorang makhluk kegelapan yang awalnya tak kupercayai keberadaannya di muka bumi. Ya, ini adalah pertemuan keduaku setelah kemarin malam.

“Kau benar-benar datang kembali?”

Suaranya memecah keheningan malam, membuatku kembali terperangah seakan tak percaya bahwa makhluk malam pengisap darah benar-benar ada. Walau ini pertemuan ke dua. Rasa percaya dan tak percayaku masih sama dengan kemarin, abu-abu.

Konon katanya, jika mencium bau darah. Makhluk ini akan menancapkan taringnya di kulit leher, kemudian mengisap darah mangsanya hingga tetes terakhir, itu pun jika mereka mau. Jika tidak?! Kutukan paling menjijikkan darinya adalah menjadikan mangsanya makhluk penghisap darah yang hidup abadi.

“Mengapa tak menjawabku, Nona?”

Sambil berjalan ke arahku, kembali dia
memberikan pertanyaan. Dapat kulihat bibirnya mengulum senyum. Aahh... dia memang tampan. Bahkan, sangat tampan. tidak heran dia bisa dengan mudah mengelabui mangsanya dengan
ketampanan yang lebih dari kata sempurna itu. Ya, aku akui makhluk ini memiliki kharisma yang lebih menonjol dari manusia.

Detik pun berlalu, dia semakin dekat. 5 ... 4 ... 3 ... 2 ... 1 ..., kini, dia telah berdiri di hadapanku. Jaraknya teramat dekat. Hembusan nafasnya dapat kurasakan. Kututup mataku karena takut sekaligus deg-degan menahan rasa kagum akan
karismanya. Darahku seakan berhenti mengalir, sel-sel tubuhku menyuruh untuk meninggalkan ruangan tersebut, tapi kaki ini tak dapat melangkah.

Perlahan tapi pasti kubuka kelopak mataku. Kuperhatikan wajahnya di antara remang-remang cahaya bulan. Sangat berkarisma dengan wajah yang oval, bulu mata lentik, dan rambut yang tersisir rapi ke samping. Kulit putih pucatnya tidak mengurangi sedikit pun ketampanannya. Sepatu kulit berwarna hitam bersih tanpa noda, celana kain, dan jas yang melekat di tubuhnya semakin memperindah penampilannya.

“Bu... bukankah sudah kukatakan aku akan datang sekali lagi untuk menagih janjimu?”

Kuberanikan diri menjawab pertanyaannya. Gugup? Ya, aku sangat gugup bagaimana jika ia menerkamku? Bagaimana jika ia tiba-tiba mengisap darahku? Bagaimana jika ini, bagaimana
jika itu. Pertanyaan demi pertanyaan
menggerogoti otakku. Namun kuyakinkan diriku sendiri. Dia bukan manusia yang akan berbohong.

“Apa yang kau inginkan, Nona?”

Suaranya sangat lembut, Tuhan. Andai dia bukan vampir. Aku berharap dialah pendamping hidupku.

“Apa yang aku inginkan adalah apa yang kamu impikan,” jawabku tegas.

“Apa maksudmu?”

“Bawa aku ke duniamu.”

Sesaat dia terpaaku, mungkin bingung karena baru kali ini ada manusia bodoh yang ingin menyerahkan hidupnya pada makhluk kegelapan. Tatapannya tajam menusuk ke dalam jantungku. Untuk beberapa lama hening menyelimuti bangunan tua ini. Hanya suara tikus yang bercicit di tengah gelapnya malam. Disertai hembusan angin, hawa dingin memenuhi ruangan. Menggoyang-goyang sarang laba-laba di plafon. Sebelum akhirnya suaranya kembali terdengar.

“Ketika kau memutuskan untuk ikut, berarti kau telah bersedia kehilangan kehidupan terangmu.” Senyum simpul tergores di wajahnya.

“Aku sudah memikirkannya matang -matang.”

“Baiklah, jika itu keinginanmu.”

Ia menampakkan senyum evil. Matanya berubah merah menyala diikuti keluarnya taring dari bibir seksinya, lalu kekuatan berskala besar mengempaskan tubuhku ke dinding. Ah... bahuku sakit sekali berbenturan dengan tembok.

“Memangnya apa yang kuinginkan, Nona?” Tangannya mengapit dua sisi tubuhku.

Sedikit grogi aku menjawab. “Aku mendengar percakapanmu dengan guru Jang kemarin malam. Kau menyukaiku, bukan? Kau ingin aku menjadi sepertimu. Kalau begitu lakukanlah!”

Kutarik rambutku ke belakang agar mempermudah aksesnya. Tanpa ragu, kusodorkan makanan pembuka padanya.

“Lalu, apa impianmu?”

“Aku selalu ingin tampil berkarisma.”

“Kau sudah cukup berkarisma. Apa kamu yakin bisa menahan rasa sakitnya?”

“Cukup merubahku sekarang!!” bentakku.

Aku sudah tidak tahan dengan sikap lambannya. Jika terus seperti ini, aku bukannya mati karena gigitan. Aku akan mati kedinginan. Hawa dingin semakin menusuk sampai ke tulang. Rasanya seperti banyak salju yang menutupi ubun-ubun.

“Bersiaplah. Aku akan merubahmu, kamu akan merasakan sakit karena terinfeksi. Setelahnya, kamu akan berubah menjadi vampir.”

Lagi!! Matanya berubah merah menyala seperti darah. Taringnya yang tajam semakin dekat dengan kulit leherku. Aku baru tahu, sebelum menancapkan taringnya, vampir akan menjilat leher mangsanya terlebih dahulu. Beruntung, sebelum ke tempat ini guru Jang memberitahu kalau vampir alergi bawang putih. Hahaha!! Matilah kau monster pengisap darah. Kau sudah masuk ke dalam perangkapku.

“Kau mengoles kulitmu dengan bawang putih?!” ucapnya sambil memegang lehernya.

Suaranya tercekat di tenggorokan. Dia sedikit terdorong ke belakang. Sementara aku, senyum kemenangan tak kunjung hilang dari bibirku. Sedikit terbesit rasa kasihan melihat dia
kesakitan.

“Cukup membuat tenggorokanku panas.” Tatapannya setajam buzur menohok jantungku, “sayang, itu tidak berguna,” lanjutnya sambil memainkan kuku-kuku tajamnya di wajahku.

“Apa maksudmu?” tanyaku sedikit gemetar.

“Aku tidak akan mati karena bawang putih. Aku bukan vampir setengah manusia. Aku ... vampir darah murni. Tercipta dari leluhur.”

“What?! Jadi... kau tidak terinfeksi?” tanyaku lagi setengah tak percaya.

“Tenanglah. Aku akan membangunkanmu kembali.” Monster itu sumringah.

Secepat kilat, antara sadar dan tidak taringnya telah menancap, mengisap darah di seluruh sel-sel tubuhku. Mengambil kehidupan manusiaku. Herannya, aku tidak mati. Aku seakan terbangun dari tidur panjang.

“Kau mengingatku?”

Wajah pertama yang kulihat setelah membuka mata, yaitu ...

“Alex?”

“Kau mengingatku, Delia?”

Vampir yang sedari tadi kukagumi adalah tunanganku. Aku dilahirkan hanya untuk bertunangan dengannya. Ya, aku adalah vampir darah murni yang selama ini telah ditidurkan naluri vampirnya agar dapat merasakan kebahagiaan kehidupan manusia.

“Berterima kasihlah pada guru Jang, karena telah menidurkan naluri vampirmu dengan ramuannya,” ucap Alex sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran.

_the end_

Related Posts:

Bahaya Membuang Ampas Kelapa


Oleh: Finny Arkanila

“Pak Ramli, tolooooongggg....”

Bagai digoncang warga segampung, kost bercat putih itu bergerak tak beraturan. Seluruh sudutnya berdecit, perabotan dapur yang menempel di dinding saling berbenturan, jatuh dan pecah. Berhamburan.

Setelah berhasil melirik jam dinding yang berjungkir balik akibat goncangan tersebut, Ida ketahui waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Dari luar terdengar badai angin yang  seolah memaksa atap rumah hengkang dari tempatnya.

“Pak Ramli, toloooonnngggg...,” teriak Ida sambil berpegang kuat pada sofa.

Ia merangkak menuju pintu, meraih gagang lalu membukanya. Tepat di samping kamar kostnya adalah kamar Pak Ramli, langsung diketok pintu tersebut dengan sekuat tenaga.

“Pak Ramli, buka pintunya!” teriak Ida berusaha membangunkan pemilik kamar.

Tak lama kemudian pintu terbuka, tanpa permisi Ida langsung menerobos masuk. Suasana di tempat tersebut tak jauh berbeda, perabotan rumah berhamburan bagai kapal pecah.

“Apa yang terjadi, Ida?” tanya Pak Ramli masih setengah sadar, “Kenapa rumah saya hancur begini?”

“Sepertinya gempa bumi,” jawab Ida tak kalah kacau.

Pak Ramli melihat keadaan di luar, sepertinya hanya di tempat mereka yang mengalami hal tersebut. Angin kencang memporak-porandakkan rumah kost itu, Pak Ramli pun menutup pintu.

“Apa yang sudah kau lakukan, Ida?” tanya Pak Ramli histeris, “Kau simpan di mana ampas kelapamu yang kau parut petang tadi?” desaknya lagi.

“Saya buang di  belakang rumah.”

“Kenapa kau membuangnya saat petang?”

“Kenapa memangnya?” tanya Ida tak mengerti.

“Itu pamali, Ida.” Pak Ramli menekankan pada kata Pamali, “Tidak boleh dilakukan warga sini.”

“Mana saya tahu. Kalau tahu tidak mungkin saya melakukannya.”

Ida mengeluarkan sejuta alasan, sementara Pak Ramli telah melakukan ritual-ritual khusus. Dari membaca ayat suci Al-Qur’an, memercikkan air ke seluruh penjuru rumah kost, sampai membakar dupa tapi tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Akhirnya jurus terakhir keluar, Pak Ramli berteriak, “Tidak usah mengganggu malam-malam begini, datang saja besok pagi mengambil jatahmu.”

Selang beberapa menit, keadaan kembali normal. Esoknya, pagi-pagi sekali seorang lelaki tua mengetuk pintu Pak Ramli.

“Ada perlu apa?” tanya Pak Ramli heran sebab tak mengenali tamunya.

“Mau mengambil garam.”

Setelah mengambil jatah garamnya, lelaki tua tersebut meninggalkan Pak Ramli yang diliputi tanda tanya, “Diakah makhluk halus itu?”

(Tikke, 120415)

Related Posts:

Am Dilan (4)


By Finy Arkana
//
Part 4

“Itu pembunuhnya!”

Teriakan tersebut meluncur bebas dari bibir Zee, salah seorang siswa perempuan yang seragamnya paling mencolok di antara para manusia berseragam coklat. Motifnya persis seragam Dilan. Lengannya menggantung, jari telunjuknya menunjuk mantap dua orang di depan sana, tepat mengarah pada tubuh dengan lengan berdarah itu serta seorang perempuan yang sedang menggenggam benda tajam.

“Mereka pembunuhnya!” serunya tegas.

Seolah tak ingin lebih lama di ruang konseling. Dengan sigap kawanan polisi tadi bergerak. Langkah demi langkah mereka atur agar tetap siap siaga. Senjata yang tergenggam siap ditarik pelatuknya kapan saja andai sasaran bereksi di luar dugaan.

“Angkat tangan!” perintah sang Kapten, “Jatuhkan senjata anda!” lanjutnya.

Lamat-lamat, lepas juga benda lipat tersebut dari genggaman guru BK. Meluncur bebas. Dan akhirnya menyatu dengan lantai. Kedua tangannya terangkat sempurna. Bibirnya terkatup, pucat pasih.

Seiring diseretnya dua pelaku oleh sekelompok manusia berseragam coklat. Di depan mata Zee, seolah sedang terputar sebuah rekaman, penampakan peristiwa paling mengerikan yang pernah terekam indra penglihatannya sejak terlahir ke dunia.

***
*Sebelum Penangkapan

Suasana kelas hening. Tak ada suara yang keluar dari bibir dua orang di dalam sana, lalu dalam sekejap, salah seorang dari mereka mengayun lengan ke atas, hingga benda tumpul dalam genggamannya mendarat indah di punggung tangan rivalnya, menghasilkan cipratan darah yang melukisi wajah si penusuk.

“Dilan?” Zee membekap mulutnya dengan telapak tangan. Seketika tubuhnya terasa lumpuh. “Apa yang dia lakukan ke Yugo?” lanjutnya terbata-bata.

Lutut gemetar serta telapak tangan yang berkeringat dingin memaksa Zee untuk lekas meninggalkan pintu kelas. Dengan cepat. Sebelum kehadirannya disadari oleh dua orang di dalam sana. Langkahnya tak pasti. Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah menjauhi ruang kelas.

Keringat dingin mengucur ke seluruh tubuhnya. Zee tidak mampu berdiri lebih lama. Tubuhnya limbung. Namun, belum juga ia sempat mengempaskan diri ke atas pembaringan UKS, terdengar derap kaki yang semakin mendekat.

Disisa tenaga, ia menggiring kaki ke samping lemari, tempat penyimpanan obat. Masih dengan tangan bergetar, ia membekap mulutnya sendiri, berusaha meredam bunyi-bunyian yang mungkin saja tercipta tanpa sengaja.

Meski demikian. Rasa penasaran kian merayap dalam batinnya. Ia sedikit mencondongkan kepala. Korneanya membulat.

“Yugo?” bisik batinnya. Cowok itu bergerak ke sana-ke mari. Langkahnya tak keruan. “Apa mungkin dia sedang mencari obat?” lanjutnya.

Prihatin. Demikian perasaan yang menyergap hati Zee. Dirinya dilema antara menawarkan pertolongan atau tetap bungkam di balik lemari. Sebab, Yugo dikenal sebagai biang masalah.

Sejenak, Zee menghilangkan prasangka buruk mengenai Yugo. Dengan sisa energi. Ia menopang tubuh untuk berdiri.

“Yugo!”

Zee menarik diri. Kembali pada posisinya semula. Sekali lagi, korneanya membulat sempurna. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Seluruh tubuhnya gemetaran. Bahkan, telapak tangan yang digunakan membekap mulutnya sendiri telah basah oleh peluh. Sempurna. Ia pucat pasih.

“Bu Syifa?” bisik Zee tak percaya.

Seperti film horror yang diputar berulang-ulang di depan mata. Zee tidak mampu untuk bertahan lebih lama. Di depan matanya, Bu Syifa, sang guru BK yang begitu dihormati sedang melayangkan benda tajam, dan mendarat sempurna tepat di bola mata Yugo.

Serupa pancuran air, cairan merah kental terpercik dari dalam sana, melukisi dinding-dinding ruang UKS yang bernuansa putih.

Yugo tidak sanggup untuk menghindar lebih jauh. Sementara guru BK semakin memperksempit jarak antara mereka. Pisau lipat yang berkilauan di tangannya kembali terangkat, melayang, namun tidak mendarat indah.

Yugo berhasil menghindar.

Jelas, hal tersebut membuat guru BK berang setengah mati. Tanpa babibu, ia melayangkan sayatan-sayatan ke bagian-bagian tubuh Yugo yang berhasil tersentuh pisaunya. Tak peduli di mana tempatnya. Yang terpenting adalah dia harus melukai tubuh di hadapannya sebanyak mungkin. Menusuknya berkali-kali.

Sekilas, sebelum tubuh Yugo benar-benar tumbang, dapat tertangkap oleh indra pendengaran Zee suara yang sungguh putus asa, namun tetap penuh dendam pada tiap pengucapannya.

“Ini adalah balasan atas pelecehan seksual yang kau lakukan pada anakku!”

Dan, untuk terakhir kali, ujung runcing pisaunya ditancapkan pada punggung tangan remaja cowok tersebut, bekas tusukan Dilan.

***

“Bukan saya pembunuhnya!” Dilan berontak.

“Jelaskan di kantor nanti!” bentak polisi seraya menyeretnya.

Tepat ketika dia melewati Zee, sorot matanya berkilat, tajam, memandang nyalang remaja cewek tersebut.

“Akan kubalas kau,” bisiknya lirih.


(End)

Related Posts:

Cinta Bernoda Darah


Lingkar, sebuah panggilan untuk seseorang nan jauh di sana. Jauh tak perlu dipersoalkan karena memang tidak akan kembali, sikap Kia lah persoalan sebenarnya. Dia sangat sulit dimengerti dari hari ke hari.

Suatu siang ibu bertanya, "Kia, gambar siapa itu?"

"Kekasihku," jawabnya pelan tapi sinis.

"Ikhlaskan kepergian Lingkar, Nak," Ibu Arsy mendudukkan pantatnya di samping gadis semata wayangnya dengan sangat berhati-hati, "biarkan dia tenang di alam sana,” ujar sambil mengusap lembut punggung Kia.

"Kutegaskan sekali lagi bahwa Lingkar masih hidup!!” bentaknya seraya menempelkan telapak tangan pada dada “di sini" lanjutnya sambil tersenyum sinis. Ada kebencian sangat mendalam dari sorot mata nan tajam yang menohok jantung ibunya.

Gadis bermata burung hantu itu selalu menolak jika diberitahukan perihal kematian Kekasihnya. Ia juga tak pernah telat menulis surat dan menyimpannya ke dalam toples dengan rapi, lalu meletakkan surat-surat tersebut di samping nisan Lingkar. Terhitung 99 surat telah ia tulis sejak tiga bulan kepergian pemuda berdarah Bugis itu.

Kenangan tentang Lingkar masih menempel di dinding kamar Kia, senyuman dengan lesung pipi memang sangat Kia sukai, apalagi pemiliknya adalah lelaki yang dua tahun ini menghiasi ruang kenangan bersama tawa dan tangis masa lalunya.

Terali jendela kamar kini menjadi tempat favorit mengenang kisah lampau, menerawang jauh senyuman pemuda yang masih setia menghiasi dinding kamar, menghirup kembali aroma khas lelaki itu. Tanpa sadar ada segurat senyum menghiasi bibir tipisnya.

“Ibu,” panggilnya lirih, “Sudah berapa lama Ratih tidak main ke sini?”

“Tiga bulan,” jawab Ibu Arsy penuh kelembutan.

“Kenapa dia, Bu? Apa Ratih tidak ingin bersahabat lagi denganku? Kenapa Ratih harus marah padaku? Akulah yang sebenarnya terluka di sini, aku kekasihnya bukan dia,” Kia menghapus satu butir air mata yang berhasil lolos sebelum memandang lekat-lekat wajah ibu Arsy, “Katakan kesalahanku, Bu.”

“Kamu tidak salah apa-apa, Nak. Kematian seseorang bukan kita yang atur.” Wanita paruh baya itu tak kuasa melihat putrinya dirundung kesakitan berganti-ganti.

Sebulan sebelum kematian Lingkar, ayah Kia telah meninggal tragis terlebih dahulu. Sang ayah meninggal dalam keadaan bersimbah darah. Seorang ayah yang tak pernah memberikan kasih sayang pada Kia dan Ibu Arsy, melainkan pada seorang janda beranak satu. Ditambah lagi kehilangan Ratih, sahabat kecil yang sangat ia percayai.l

Walau sedih ditinggal sosok seorang ayah, ada sedikit kelegaan dalam hati yaitu merasa bebas dari sarapan tamparan, pukulan, dan siraman kopi panas jika tak sempurna penyajiannya.

“Izinkan aku bertemu Ratih besok, Bu.”

“Tidak usah, Ibu takut kamu akan dia sakiti.”

“Dia tidak bisa menyakitiku.”

“Dia sudah mengambil Lingkar darimu. Seandainya peristiwa malam itu tidak terjadi, mungkin mereka sedang menikmati malam pengantinnya sekarang. Jika mengambil kekasih sahabatnya saja mampu ia lakukan apalagi menyakitinya.”

“Dia putih, anggun, cantik. Tidak heran Lingkar berpaling padanya.”

“Kamu masih terlalu naif, Kia, cinta bukan soal cantik tapi tentang kesetiaan!!” Suara Ibu Arsy meninggi, “Ibu justru merasa senang kejadian itu telah merenggut nyawa lelaki brengsek sepertinya. Mungkin itu karma atas apa yang telah dia lakukan.”

“Ibu!” bentak Kia, “Dia masih...,” kalimatnya terhenti sejenak, “Kekasihku,” lirih, sangat lirih hingga hampir tak kedengaran.

“Dia bukan kekasihmu lagi melainkan calon suami sahabatmu!” Wajahnya merah menyala terbakar api amarah.
“Lelaki brengsek seperti dia tidak pantas ditangisi. Syukur adalah nikmat bagiku sekarang, Kia. Teganya dia membatalkan pernikahan denganmu, mempermalukan Ibu, mempermalukan seluruh keluarga!”

Sayup-sayup suara tangis terdengar, Kia melakukan kebiasaannya lagi, kebiasaan yang baru ada sejak kepergian lingkar. Sambil menyeret langkah mendekati Kia, air mata yang mengucur dihapusnya terlebih dahulu, lalu secara perlahan ia sentuh pundak buah hatinya kemudian mendekapnya dalam tangis.

“Ibu tidak ingin kamu tersakiti lagi. Melihat wajah Ratih hanya akan mengingatkanmu pada lelaki itu.”

Kia tidak menjawab, hanya suara sesenggukan yang terdengar. Keheningan pun menyelimuti ruangan bertema hijau itu. Dari celah-celah jendela angin menerobos.

“Aku hanya ingin memberikan seluruhnya... seluruh yang Ratih inginkan,” ungkap Kia tak lama kemudian, “Tanpa sisa,” tutupnya.

*****

Tanah merah mulai mengering, sekuntum Bunga Kamboja putih jatuh di atasnya, sepertinya belum ada yang datang sejak hari pemakaman, terlihat jelas bagian atas kuburan bersih tanpa bunga-bunga. Kia menyiramnya terlebih dahulu sebelum menabur bunga berwarna-warni, kemudian menaruh sepaket mawar merah mekar beserta surat ke seratus ke dalam toples bening.

Ada tulisan cukup besar di bagian depan toples itu “Tidak Untuk Dibaca”, lucu memang, ibarat menulis untuk menghapus, merangkai lalu menghancurkan, seperti melakukan hal yang tak berguna.

“Kia...” Suara itu tak asing lagi  baginya, “Jadi kamu yang menulis surat-surat itu?” Kia tak berbalik, dibiarkan pemilik suara lebih dekat.

Ratih—pemilik suara—gadis yang menjadi primadona sekaligus sahabat kecilnya. Tak disangka mereka akan bertemu dihadapan makam seorang pemuda yang sama-sama mereka cintai.

“Surat-suratmu begitu banyak,” puji Ratih seraya meletakkan paket mawar kuning di dekat punya Kia, “Kenapa kau memberinya mawar merah?”

“Lingkar membenci warna yang mencolok.”

"Kenapa memberikan hal yang tidak disukainya?"

"Hanya ingin," jawab Kia datar.

“Bukannya kau mencintainya?"

“Lalu kenapa kau merebutnya kalau sudah tahu?” Kali ini Kia memandang mata Ratih dalam-dalam. Tajam, sinis, dan penuh kebencian.

“Aku memang salah malam itu.” Ratih membuang pandang sambil tersenyum kecut.

“Kesalahanmu bukan hanya waktu itu. Kau pikir aku tidak tahu kalian bermain di belakangku? Aku mencium segala kebusukan kalian.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

“Setahun hari jadi kami, Lingkar tidak datang karena sibuk merayakan hari jadi enam bulan kalian,” Kia mulai berkisah, “Lingkar terlambat mengucapkan selamat ulangtahun padaku karena mengantarmu belanja. Dia tidak datang ke pemakaman ayah karena kau melarangnya. Gaun yang diberikan padaku persis sama dengan yang dia berikan padamu. Dan...”

Kia mengatur suaranya yang mulai bergetar menahan tangis, “Dia memutuskan hubungan kami malam itu tepat di depan matamu. Memintaku agar merestui hubungan kalian dalam jenjang pernikahan. Romantis sekali,” ejeknya.

“Lupakan saja, Kia, toh Lingkar sudah tidak ada.” Ratih tahu, berdebat dengan Kia tidak akan ada ujungnya jadi lebih baik dia yang mengalah.

“Kau tahu, karena keserakahanmulah kini lelakiku terkubur di bawah tanah merah.”

“Apa maksudmu?”

“Kesalahanmu telah merenggut nyawanya.”

“Kau menuduhku atas kejadian malam itu?”

“Tidak.”

“Aku tidak mungkin membunuh pria yang sangat aku cintai, Kia. Ingat itu! Kami akan segera menikah. Mana mungkin pernikahan yang sudah di depan mata akan aku hancurkan dengan sebuah kematian.”

“Aku tidak menuduhmu.”

“Lalu?” Ratih berdiri, melayangkan sorot mata tajam. Dia tidak terima tuduhan menta-menta Kia, “Aku akan menuntutmu atas pencemaran nama baik!” todongnya dengan amarah menyala-nyala, telunjuk lentiknya menari-nari di depan wajah bulat sahabatnya. Ah... maksudku kini telah menjadi musuh?

Kia berdiri, tangannya masih setia bertengger di balik kantung sweeter hijau pemberian Lingkar, senyumnya begitu manis, menandakan ia tak takut sama sekali pada ancaman berapi-api wanita di hadapannya.

“Tuntutlah selagi kau mampu,” tantang Kia.

“Dasar wanita jalang!!!”

Tangan putih Ratih melayang, bergegas menampar wajah putih Kia yang masih tersenyum, namun hasilnya nihil, tangannya tersangkut pada genggaman wanita itu, malah pegangannya lebih kuat. Kemarahan pun semakin membakar ubun-ubun Ratih.

Sekali lagi Kia membagi senyumnya seraya berkata, “Tuntutlah aku setelah kamu bernegosiasi dengan lelakimu.”

Lalu, sebilah belati menancap indah di perut pemilik tangan dalam genggamannya. Darah mengucur dari ruas luka, terpercik menyirami tanah kuburan, dan wanita itu pun tersungkur dalam kesakitan, tanpa tenaga.

Sambil memegangi perutnya yang terluka dia berbicara, “Kia... Apa ... yang kau...” darah  segar keluar dari kerongkongannya, “Kenapa .. kau melakukannya?”

Susah payah wanita itu berbicara. Dan itulah yang Kia dambakan, kesakitan adalah bahagia baginya, penderitaan tanpa siksaan bukan apa-apa, katanya. Itu hanya bagian kecil dari permainan jika tak sampai merenggut nyawa.

Kia menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Ratih, “Aku hanya ingin menepati janjiku pada Lingkar,” bisikan diiringi gelak tawa semakin menakutkan bagi Ratih, ini tidak seperti Kia yang lugu, “Kia...”

Dicabutnya pisau yang masih menancap, lalu menusuk sisi lain tubuh Ratih sekali lagi, “Kini kurestui hubungan kalian.”

Kuburan milik Lingkar kembali basah. Dua orang kecintaannya berkunjung, menyuguhkan darah segar di atas makam bertanah merah miliknya, menghadiahkan paket mawar berduri. Kia pun kembali duduk bersila di hadapan Ratih, menyangga dagu dan tertawa bahagia menyaksikan sahabat kecilnya meregang nyawa, menanti detik-detik maut menjemput.

Tidak diduga lama juga Ratih mampu bertahan dengan dua kali bacokan. Terlalu lama menunggu membuatnya sedikit bosan, dia mengambil sebuah surat berwarna coklat, lalu membacanya keras-keras....

Lingkar, lelakiku, kecintaanku....

Bersama surat ini kutitipkan cinta. Sudah terlalu lama kita menjalin kasih namun kau hianati cinta suciku, kau pergi dengan sahabatku, dan kembali meminta restu. Apakah yang hendak kulakukan agar kau mau memaafkan segala kesalahanku atas kejadian waktu itu? Maaf, aku tidak memberimu restu. Maaf  juga karena belum mampu memberimu teman di alam sana.

Kekasihku,

Bagiku kau tidak ke mana-mana, kau tetap hidup dalam relung hati yang terdalam. Aku tidak pernah marah maupun benci atas apa yang telah engkau lakukan. Aku hanya merasa belum melakukan yang terbaik dalam hidup bersamamu. Yang kulakukan ini tidak lebih hanyalah bentuk ketakutan jika kau menjadi milik orang lain, hanya itu.

Meski begitu, aku berjanji akan mengirimkan seseorang yang kau inginkan. Apakah kau senang? Kurasa iya, karena dia kecintaanmu.

Lingkar, apakah kau sudah bertemu ayahku di sana? Kepergiannya persis sama denganmu. Apa kalian masih bermandikan darah, masih dengan nyanyian kesakitan ketika belatiku mengikis tiap inci tubuh kalian? Mohon maafkanlah wanita ini, toh kesakitan juga telah berhenti. Akrablah di sana, dua lelaki tercintaku dalam hidup, lelaki yang tega mendua demi kesenangan dunia semata. Bersahabatlah, berbagi cerita mungkin lebih baik daripada kesakitan, bersahabatlah agar tak bosan.

Lingkar, kecintaanmu akan segera menyusul dalam waktu dekat. Jemputlah dia. Hapuskan Darah segarnya, sebagaimana kau menghapus darah itu dari lukamu sendiri. Berterima kasihlah di lain waktu karena aku merestui hubungan kalian, bahkan bersusah-susah mengirimnya padamu.

Aku,

Mantan kecintaanmu.

.....

Usai membaca surat tersebut, ia lipat kembali dan menyimpannya baik-baik ke dalam toples. Lalu mendekati sahabatnya yang masih meregang nyawa.

"Karena aku telah menepati janjiku maka sekarang kuakui dia telah pergi. Tidak satu alam denganku. Tidak juga kusisakan cinta untuknya. Ambillah semua yang belum sempat kau ambil, Sahabatku, seluruhnya tanpa sisa..."

"Kenapa ... kau mela..." Pertanyaan Ratih tak sempat ia selesaikan sebab ruh telah lebih dulu berpisah dari raga.

"Begitulah perempuan, Sahabatku. Luka yang digores padanya tidak akan pernah kering."

Gurat-gurat jingga menyemai langit senja. Tiupan angin menggoyang Bunga Kamboja, meluruhkan daun kering beserta bunga putihnya, aroma amis darah segar menyeruak, perlahan namun pasti, setetes demi setetes air langit membasahi tanah merah pekuburan.

Palu, 100415

Related Posts:

Khusus Penulis Pemula

Assalamu'alaikum Wr. wb.

Materi yang akan saya bawakan kali ini tidak akan menyinggung perihal tekhnik penulisan.

Kenapa?

Karena, banyak saya temukan penulis pemula yang mandeg menulis atau bahkan menghentikan aktifitas menulis dengan alasan kurang pengetahuan dalam tekhnik menulis. Padahal, yang dibutuhkan seorang penulis adalah asal ia tahu baca tulis. Tidak repot, kan? Sebab hal demikian sudah dipelajari sejak pertama kali menginjakkan kaki di bangku sekolah.

Yang menyulitkan adalah ketika anda tidak tahu baca tulis namun memaksakan diri untuk menjadi penulis. Hal itu sama saja jika anda tidak tahu berenang namun dengan senang hati menceburkan diri ke dasar laut. Bunuh diri!

Lagipula, menulis adalah tentang seberapa banyak waktu yang anda habiskan untuk menulis. Berapa puluh bahkan ratus halaman yang telah anda tulis. Ketika hal demikian telah anda lakukan, barulah anda membutuhkan tekhnik dan segala teori tentang kepenulisan yang banyak beredar di berbagai media.

Intinya, sebagai penulis pemula, menulis saja dulu. Lupakan tekhnik. Lupakan aturan. Habiskan waktu anda hanya untuk menulis-menulis-dan menulis. Tidak perlu langsung menginginkan sebuah tulisan yang luar bisa bagus. Cukup yang sederhana, bahkan buruk sekalipun tidak mengapa. Tidak seorang pun yang memulai sesuatu langsung di puncak keberhasilan. Segalanya dimulai dari nol.

Satu hal yang harus anda hindari sebagai penulis pemula adalah berhenti mengeluh. Padahal yang anda harus lakukan hanyalah menikmati setiap prosesnya.

Kenapa? Karena pekerjaan menulis adalah sebuah pekerjaan yang mengajarkan anda untuk menjadi sabar. Lalu mengapa anda hanya menghabiskan waktu untuk mengeluh ketimbang menulis?

Maka, jangan salahkan saya jika saya berkata begini, "Anda belum menjadi seorang penulis ketika budaya sabar belum melekat pada diri anda."

Ya, karena menulis memang butuh kesabaran. Sabar menemukan ide, sabar menggarap tulisan, sabar meriset bahan tulisan, sabar ketika naskahnya dibantai editor, sabar menunggu proses penerbitan, dan sabar ketika naskahnya telah berhasil dibukukan namun jumlah penjualan jauh dari harapan.

Sabar sabar! 😁

Ini bukan berarti saya mengajak anda untuk menjadi pesimis. Namun, menulis memang butuh kesabaran. Percayalah, tanpa kesabaran itu, anda tidak akan menyelesaikan satu tulisan pun, bahkan jika tulisan tersebut selesai, saya yakini tulisan tersebut jauh dari kata hebat. Tidak berkualitas. Hambar!

Dan lagi ...
Saya banyak menemukan penulis pemula yang ketika ditanya mengapa tidak menulis, maka akan mengeluarkan statement seperti ini :

- Belum ada ide

- Tidak ada waktu untuk menulis

- Tulisan saya mandeg

atau yang lebih buruk ketika dia berkata :

- Saya tidak berbakat menulis.

Ayolah, kawan!
Menulis itu bukan tentang berbakat atau tidaknya seseorang untuk bisa menjadi seorang penulis, namun seberapa gigih anda mengasah kemampuan menulis anda.

Pernahkah anda mendengar nama Agatha Christie? Ia adalah seorang penulis novel thriller, novel terlaris sepanjang sejarah. Namun tahukah anda, bahwa sebenarnya Agatha Christie memiliki keterbatasan/disabilitas dalam membaca dan mengeja? Ia adalah seorang yang lahir dengan disleksia! Tidak mudah baginya untuk belajar membaca dan mengeja di masa mudanya, sehingga ia harus melawan keterbatasan dirinya sendiri sebelum dapat meraih prestasi luar biasa yang kita kenal sekarang. Disleksia Pertanyaan selanjutnya, apa itu disleksia? Disleksia merupakan kesulitan dalam identifikasi kata (membaca) dan mengeja.

Andrea Hirata pernah berkata, "Bermimpilah! Jangan mendahului nasibmu, jangan belum apa-apa bilang gak bisa."

Jadi, berhenti mengeluh, lupakan sejenak tekhnik dan segala aturan dalam dunia kepenulisan. Anda hanya perlu menulis. Entah nantinya menghasilkan tulisan yang berkualitas atau buruk sekalipun, yang harus anda lakukan hanyalah terus menulis.

Meski demikian, ini bukan berarti anda melupakan tekhnik-tekhnik penulisan. Oh, semoga tidak. Jelas itu suatu pemikiran yang buruk.

Anda tetap harus mempelajari tekhnik kepenulisan, nantinya, setelah otot jemari anda telah lihai menoreh kalimat ke lembar-lembar kosong, ketika mata anda tidak bosan menatap kalimat-kalimat yang telah berhasil anda toreh. Sebab, penerbit tidak akan menerima karya yang acak-acakan. Tata letak tanda baca tidak jelas. EBI/EYD tidak keruan.

Okey, mungkin kepanjangan ya, manteman😂

Maka, izinkan saya menutup materi ini dengan sebuah motivasi yang pernah saya dengar dalam seminar kepenulisan. Sebuah motivasi yang selalu melekat dalam pikiran saya. Sebuah motivasi yang selalu saya jadikan pembangkit semangat jika sedang malas menulis.

S. Gegge Mappangewa pernah berkata, "Rawatlah mimpimu baik-baik. Beri dia makan. Maka suatu saat, mimpimu yang akan merawatmu dan memberimu makan."

Wassalam
Finy Arkana

Related Posts:

Am Dilan (3)


By : Finy Arkana

"Apa alasanmu membunuhnya?"

Dilan masih tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya. Berkali-kali ia memberi jawaban jujur, namun pertanyaan sama tetap dilempar padanya. Berulang kali.

"Saya hanya menusuk tangannya dengan pulpen. Tidak lebih."

Begitu pula jawaban yang terus-terusan keluar dari bibirnya. Hal tersebut jelas membuat guru BK geram. Ia mulai hilang kesabaran. Telapak tangannya memukul meja. Membuat Dilan sedikit tersentak. Namun, kekesalan yang ditunjukkan sang guru justru berhasil melengkungkan ke dua sudut bibirnya.

"Sudahlah, Bu. Ini hanya membuang-buang waktu. Jawaban saya akan tetap sama. Bukan saya yang membunuhnya," ungkapnya tanpa gentar.

"Lalu, kenapa kau menusuk tangannya dengan pulpen?"

"Itu karena dia mencoba melakukan kekerasan pada saya. Dia memaksa agar saya memberikan uang jajan padanya."

"Bohong!" tanggap guru BK berang. Sorot matanya tajam memandangi manik mata Dilan. Mencoba mencari celah di dalam sana.

Dilan yang tak mau terus-terusan mendapat tuduhan mulai kalap. Bertumpu pada amarah yang menyala-nyala. Dengan kasar dia bangkit hingga kursi yang didudukinya terjengkang, menghasilkan gema di ruang konseling.

Dia bergerak memutari meja. Meraih leher sang guru dengan tangan kokohnya.

"Apa ibu ingin menyusul Yugo?" tanyanya dingin, "Sikap ibu membuat saya berpikir untuk mulai membunuh seseorang."

Dengan sisa kemampuan. Seraya menahan sesak akibat cekikan tangan Dilan. Guru BK tersebut meraba saku roknya. Mengambil benda lipat di dalam sana. Kemudian, tanpa babibu, ia menyabet lengan Dilan.

"Setelah membunuh temanmu, sekarang kau mau membunuh gurumu juga?!" teriaknya setelah cengkeraman Dilan lepas dari lehernya.

"Saya tidak membunuhnya!"

Dilan tak mau kalah. Ini pertama kali seseorang berhasil menggores benda tajam di tubunya. Bukan perih hasil sayatan yang dia rasa, melainkan gebu akan keinginan untuk menghabisi guru tersebut. Jelas dia merasa dijatuhkan.

Pandangannya menyisir seluruh isi ruangan. Senyum sinis terpahat di bibirnya begitu indra penglihayannya bertumbukan dengan mistar besi.

Dia bergerak pelan. Badannya sedikit menempel ke dinding. Menghindari todongan pisau dari guru BK. Hanya butuh beberapa langkah untuk sampai ke tempat mistar tersebut.

Namun, posisi mistar yang begitu dekat dengan guru BK, justru memudahkan guru tersebut untuk memberi luka lain pada tubuh Dilan. Pisau di tangannya melayang di udara, kemudian mendarat dengan indah tepat di perut sebelah kiri Dilan.

Tanpa mampu dicegah. Seperti terjadi hujan darah di ruang konseling. Terlukis bintik-bintik merah di dinding putih. Catatan daftar siswa basah oleh cairan kental. Sementara di lantai, mengalir darah seperti air yang berpusat dari lubang di perut Dilan.

Bersamaan dengan itu, pintu ruang konseling terkuak, memuntahkan sekelompok manusia berseragam coklat. Hanya satu dari mereka yang berseragam berbeda. Seragam serupa dengan yang Dilan kenakan. Dia Zee.

"Itu pembunuhnya," tunjuknya.

Related Posts: